Tempat tinggal seluas 3 x 7
Itulah Rumah dari sosok perempuan yang bernama Sari. Perempuan ini memiliki paras wajah yang begitu cantik. Rambutnya lurus berwarna pirang, selalu saja dikuncir karena bergitu pajang. Kulit putih yang bersih serasa indah jika dipandang. Padahal ia bukanlah dari keturunan bule atau campuran orang luar, melainkan keturunan daerah Jawa Timur. Yaitu bapaknya yang menikahi ibundanya di Jakarta. Melahirkannya dua orang anak bernama Sara dan Sari. Sari berumur 6 tahun yang rentang jauh umurnya dibawah Sara selisih 4 tahun, kini mereka hidup tanpa seorang ayah.
Sari ini memiliki kekurangan fisik. Dari setengah badannya hingga ke bawah yang lumpuh tidak bisa di Gerakkan untuk beraktifitas. Maka dari itu Sari jarang sekali keluar rumah, keluar hanya kedepan teras sebab harus di gendong untuk pergi kemana mana. Ia juga lahir dari kondisi keluarga dibawah kemisikinan. “Andai saja ku punya kursi roda untuk keluar” tutur dalam hati Sari, sangat berharap setiap memandang pintu keluar dengan mata birunya. Kesehariannya hanya bisa menonton TV, Makan, menggambar semua dilakukan di ruang depan.
“Sariii yukkk tidur, sudah malam… tuh gelap diluar sana” ibunda mengajaknya dengan lembut. Sari yang sedang asiknya menatap dedaunan yang bergoyang tertiup angin, sontak langsung digendong oleh bunda tercintanya. “iaa maahh” suara kecil untuk merespon sekedarnya.
Kamar Tidur tembok warna putih
“bim-bim-bim” suara Alarm HP berbunyi pukul 8.00, Sari langsung mematikan berada disebelah kanannya. Terbukalah matanya langsung menatap langit langit rumah. “terasa sama saja” memasang wajah murung. “Brraaakk….” Suara pintu dibuka oleh ibunya. “Naakkkk ayoo cepat buru” Ibundanya langsung menggendong anaknya dengan penuh semangat dan bergairah. Sari pun kaget dengan suara pintu yang begitu keras. Penuh wajah yang bertanya tanya, ada apa ini semua. “Kenapa siih maah ?” “sudah ayo ikut mamah saja” sahut ibunya, dengan pasrah Sari menaruh kepalanya dipundak ibunya.
Sesampainya di halaman depan, ada seseorang menggunakan jas, berpakaian kemeja, mengenakan dasi merah yang memang masih belum terlihat jelas wajahnya, sebab silaunya matahari dari luar. “Kamu yang bernama Sari yaa ?” tanya seorang pria dewasa. “i-iyaa sayaa pakk” sahut Sari dengan pikiran berkecamuk. “ini ada kursi roda untuk mu-Sari” tegas sekali kata katanya sembari memberi senyuman.
Sari langsung berteriak kesenangan, seakan akan tidak percaya memiliki kursi roda yang ada di depannya. Tangannya menjulang keatas diikuti senyuman, terlihat giginya menunjukan keriangan. Mata birunya pun berkaca-kaca membuat bendungan air mata yang hendak menetes. Rasa penasaran Sari muncul untuk mencoba kursi roda. Ibunya dengan semangat membantu Sari untuk bisa duduk berada di kursi roda. Seolah menghiraukan siapa yang memberikan,hanya saja pikiran penuh rasa syukur yang diharapkan akhirnya terwujud.