Memutar
Kemudian kita berdua berjalan berpunggungan. Saling menjauh sejauh-jauhnya–sekalian.
Bahkan kita tak hanya berjalan tapi berlari. Jika kamu berlari ke utara, aku memilih berlari ke selatan. Jika kamu berlari ke timur, aku memilih berlari ke barat.
Jalan kita berlawanan. Bukan berarti aku berhenti mengejar. Bukan berarti aku meninggalkan. Bukan berarti aku melepaskanmu begitu saja. Bukan berarti aku menyerah. Bukan berarti aku tidak peduli lagi.
Kau kira begitu. Tapi kenyataannya tidak. Aku masih mengejarmu. Aku masih mengejar, hanya saja dengan berjalan memutar.
Meski pada jalan yang memutar itu aku bertemu banyak sekali rintangan. Godaan. Sesekali aku tersasar. Sesekali aku jatuh tak berdaya.Tapi kemudian bangun lagi. Aku memutar lagi. Mencari jalan lagi.
Sampai pada satu jalan yang kurasa itu jalan yang paling tepat kulewati, aku telah pulang—di rumah kita. Disana, aku menemukan dirimu, kembali.
Sejak itu aku tahu, untuk bertemu dengan seseorang, terkadang kita perlu memutar kearah yang berlawanan. Tak untuk apa-apa, hanya menguatkan.
Mungkin belajar menjadi lebih dekat dengan Tuhan?

















