Rekam Jejak Perjalanan #1
Pagi ini aku duduk menatap lalu lalang manusia di sekitar stasiun. Aku sempat merasakan grogi manakala sesaat aku ingat aku disini sendiri. Ah, padahal di kota sendiri. Aku duduk bertopang dagu sesaat setelah beberapa kali ke kamar kecil. Gadis di sebelahku bertanya, barusan yang dimaksud kereta kemana, tapi sayang aku sendiri tak begitu jelas mendengarnya.
Barisan gerbong datang disertai riuh suara manusia bersiap-siap mengudara. Aku terpental mengikuti langkah gadis itu. Gadis itu duduk di kursi belakang sedangkan aku mencari dimana temanku yang naik dari kecamatan sebelah. Selang beberapa detik, langkahku terhenti. Ada tangan menarik lengan jaketku.
Dia bercerita tentang kegiatannya kemarin hari. Menceritakan kisahnya menjenguk kawan yang sedang berproses pada KKN. Ah, aku sungguh ingin tapi apalah daya. Tak ada kendaraan untuk kesana. Selang beberapa menit seorang temanku lain datang. Kami bertiga lebih suka menyebut diri dengan musafiroh desa. Pergi untuk mengais ridho-Nya juga mencari jejak pahlawan di Kota Surabaya.
Surabaya di sore hari. Untuk kali pertama aku menginjakkan kaki disana tanpa rombongan banyak. Begitulah, aku selalu datang kesana beserta rombongan. Entah dari sekolah maupun jamiyah ngaji. Kami menikmati santapan bekal yang dibawa dari rumah. Sederhana saja, hanya nasi dan mi goreng. Setelah sesaat mengendorkan otot-otot juga beribadah, kami berniat melanjutkan perjalanan ke kawasan makam sunan ampel. Namun sayang, hujan turun begitu lebat. Aku mencoba membuka ponsel. Kulihat satu pesan dari bapak menanyakan jam pulang esok hari. Salah seorang teman membuka tiketnya, seraya bertanya padaku jam berapa sampai stasiun. Kulihat tiketku, dan aku terenyak menatapnya. Bagaimana mungkin jam kepulanganku berbeda dengan dua temanku itu?
Kepanikan mulai melanda kami. Bahkan untuk tersenyum pun sulit sekali. Kedua temanku mencari informasi jam pelayanan loket, sedangkan aku duduk dan meratap mendengarkan rintikan hujan yang mulai menepi. Sempat aku berniat untuk menghubungi sepupuku yang tengah bekerja di Gresik, tapi kuurungkan. Takut mengganggu. Akhirnya, ketika hujan benar-benar berhenti kami bertiga beranjak dari Masjid di dekat stasiun. Kami lebih memilih berjalan kaki, menyusuri jengkal kota yang bangunannya banyak yang kumuh tak terawat. Jalanan bekas hujan menyipratkan air ketika mobil dan motor berlalu lalang. Kucincingkan rok dan berjalan berhati-hati, sebab kucium bau kotoran ayam ketika hendak mendekati area makam.
Area makam tidak sebegitu ramai. Mungkin ini karena hujan baru reda. Kami mendekati makam dan mengambil buku yasin masing-masing. Yasin, tahlil, dan doa-doa kami panjatkan. Suasana mulai ramai kembali, dan kami bergegas meninggalkan makam. Ketika kulewati sebuah pintu, aku melihat beberapa orang tengah berdoa disana. Aku mencoba melihat, ternyata disana mereka bertawasul kepada Alm. Mbah Bolong. Orang yang menciptakan lubang di masjid, yang katanya dahulu ketika melongokkan kepala keluar akan melihat Baitullah.
Kami bergegas mencari penginapan di kawasan makam. Malam yang dingin ditemani nyamuk yang besar menggiring kami menuju sebuah tempat tepat di sebelah timur masjid. Disanalah kami mengistirahatkan diri semalam untuk melanjutkan aktivitas esok dengan ceria kembali. Ah, aku sampai lupa bagaimana nasib tiketku. Dalam hati berkata, 'Santai wes'.