Dahulu, ketika baru memasuki masa remaja, aku mengartikan cinta sebagai sesuatu yang sederhana. Seperti perhatian-perhatian kecil yang dia berikan, atau sekedar senyuman untukku yang sedetik-dua detik aku tangkap ketika dia berada di antara kerumunan. Ya, sesederhana itu.
Dahulu, ketika baru mengenal rasa, aku mengartikan cinta sebagai hadiah-hadiah kecil. Seperti sebuah gantungan kunci yang berkilauan, atau seperti es krim setengah cair yang ia berikan. Ya, hanya pemberian yang tak seberapa.
Dahulu, ketika baru tahu apa itu rasanya berbunga-bunga, aku mengartikan cinta sebagai rasa saling menjaga, saling memahami, dan saling ada untuk satu sama lain. Ya, hanya perasaan yang dirasa-rasa.
Namun, setelah beranjak cukup dewasa, aku baru mengerti bahwa arti cinta yang aku pahami selama ini tidaklah sepenuhnya salah. Tapi, aku baru mengerti, bahwa untuk mencapai “arti cinta” itu, ada pintu terkunci yang harus kita ketuk dan kita buka terlebih dahulu. Jika kita memaksa masuk, maka niscaya rusaklah pintu itu beserta “arti-arti” yang tersimpan di dalamnya. Satu-satunya jalan adalah dengan mengetuk pintu itu dengan perlahan, membukanya dengan kunci yang tepat dan cara yang benar.
Maka, setelah belajar dari semua itu, aku mulai mengerti, pintu itu adalah hati.
Berbagai fragmen kehidupan mengajariku banyak hal. Semakin banyak yang kupelajari, semakin kompleks pula pengetahuanku mengenai pintu ini. Pintu ini adalah pintu yang dapat berunjung pada surga-Nya, dapat pula berujung pada neraka-Nya--maka kita amat perlu berhati-hati, kepada siapa kita membukakannya dan kepada siapa kita memberikan kunci yang tepat.
Dan seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai berpikir.
Orang yang seperti apakah yang akan aku persilahkan untuk masuk?
Dan jika ada orang yang memaksa masuk? Apa yang harus aku lakukan?
Berbagai pertanyaan itu mulai membayangiku, rasa-rasanya mungkin membayangi hampir semua perempuan yang sudah memasuki usia-usia dimana manusia dianggap sudah dewasa.
Yang lebih lucunya lagi, seiring berjalannya waktu, aku menjadi tak mudah jatuh cinta, semakin tak mudah terbawa perasaan. “Tampan” saja tidak bisa masuk kategori yang dapat membuat hatiku luluh--terlalu mudah. Bagiku, butuh banyak kriteria untuk menjadikan seseorang pantas aku sematkan tanda rasa. Dan urutan kriteria itu semakin jelas, seiring bertambahnya ilmuku tentang ini.
Maka kutemukan bahwa hal yang terpenting adalah agamanya--aqidahnya dan juga akhlaqnya. Mengapa? Karena Islam telah mengatur segala aspek dalam kehidupan dengan begitu adil, begitu rapih, dan begitu menentramkan. Aku percaya, bahwa ketika seseorang benar-benar takut pada Rabb-nya, maka ia akan berpikir berulangkali untuk melanggar syariat-Nya. Atas izin Allah, ia akan berlaku sebagai sebenar-benarnya mukmin--dia tak akan mendzholimi dirinya dan keluarganya--karena kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Ia akan menuntunku menjadi muslimah yang lebih baik, melahirkan anak-anaknya yang shalih dan shalihah, dan pastinya mencegah keluargaku dari siksa api neraka. Ia akan mencintaiku karena Allah dan aku pun akan mencintainya karena Allah.
Banyak pertanyaan tentangnya yang mungkin akan membayangiku. Tentang keluarganya, tentang kesehariannya, tentang pendidikannya, tentang teman-temannya. Tapi biarlah kusimpan pertanyaan itu nanti, hingga seseorang mengetuk pintu rumahku, bertemu dengan orangtuaku--kedua orang di dunia ini yang takkan mungkin menginginkan keburukan bagiku.
Lagipula, lucu sekali ternyata ketika membayangkan bahwa cinta ternyata sesuci dan sesakral ini, bukan seperti remah-remah yang aku bayangkan dahulu. Cinta dalam Islam menjadi sesuatu yang begitu terhormat dan bahkan menjadi sebuah ibadah hingga akhir hayat. Islam menjaga cinta sebagai fitrah manusia dengan begitu manis nan indah. Di dalamnya, tersimpan begitu banyak hikmah mengapa larangan mendekati zina itu begitu tegas. Allah tak ingin kita tertipu atas keindahan dan kenikmatan semu yang dihiasi oleh syaithan, menginginkan kita untuk menikmati cinta yang penuh dengan rahmat-Nya. Dalam urusan ini, Islam akan memberikan jubah kehormatan pada lelaki yang menjalankannya dan menyematkan mahkota bagi wanita yang mematuhinya.
Maka terkadang aku merasa sedih ketika melihat betapa banyak cinta yang diobral begitu saja saat ini. Membayangkan betapa banyaknya cinta yang disia-siakan, dihargai murah. Membayangkan betapa banyak pintu yang didobrak paksa, menghancurkan segala makna cinta yang tersimpan di baliknya.
Ada suatu logika sederhana yang aku pikirkan sejak dahulu--tentang lelaki yang baik untuk wanita yang baik (begitupun sebaliknya)--adalah ketika kita memilih untuk mengobral cinta kita begitu saja, membagi-bagikannya dengan begitu mudahnya, maka laki-laki/perempuan yang baik-baik akan “mencoret“ kita dari daftar orang yang akan mereka perjuangkan nantinya. Maka, akhlaq kita saat ini, akan menentukan seperti apa orang-orang yang akan mencoba untuk membuka pintu-pintu hati itu. Akhlaq kita yang buruk akan menjauhkan kita dari orang-orang yang baik, yang mungkin bisa jadi pada awalnya hendak memperjuangkan kita. Yah ... meskipun ini hanyalah sebuah logika manusia yang teramat pendek dan sederhana. Karena sungguh, apapun dapat terjadi atas izin Allah.
Maka, benarlah adanya bahwa cinta yang belum halal hanya akan dihadapkan pada dua pilihan: halalkan atau tinggalkan. Bagiku, dua pilihan ini luar biasa; tegas dan penuh kejelasan. Jika punya perasaan terhadap seseorang, tak ada celah untuk bermain-main atasnya. Jika sanggup, maka halalkan, datangi orangtuanya. Jika tidak, maka tinggalkan, jangan ganggu dirinya, jangan mainkan perasaan kita dan perasaannya, jangan dobrak pintu hatinya, jangan rusak makna cinta dibaliknya!--sibukkan diri kita dengan segudang hal bermanfaat di luar sana, jangan biarkan hati kita lalai termakan hasutan syaithan untuk melanggar syariat-Nya. Lupakan saja dirinya, toh jika memang berjodoh, Allah akan pertemukan kembali di masa depan, sejauh apapun jarak memisahkan. Tok, jelas sekali. Dengan begitu, tak ada yang tersakiti, tak ada yang menyakiti. Dan aku sendiri yakin, bahwa perasaan cinta itu adalah suatu rasa yang bisa Allah hadirkan dalam hati kita dan bisa juga Allah cabut dari hati kita. Maka, mengapa ragu untuk memilih? Berdoalah pada Allah, Yang Maha Membolak-balikan Hati--agar Allah hadirkan rasa cinta pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat, dan pastinya pada saat akad telah terucap.
Tetapi ... menikah bukanlah sesuatu yang mudah. Dengan menikah, bukan berarti kita akan terbebas dari ujian dan rintangan--justru bisa jadi ujiannya akan semakin berat. Maka, Allah memerintahkan kita untuk menyegerakan pernikahan ketika kita sudah mampu, bukan untuk tergesa-gesa dan gegabah. Melihat fenomena “nikah muda” masa kini, banyak sekali kawula muda yang salah mengartikan pernikahan. Pernikahan malah dianggap sebuah “pelarian” atas larangan membina hubungan antar lawan jenis sebelum halal. Alhasil, banyak sekali kasus kekerasan antara suami-istri, ketidakrukunan rumah tangga, anak-anak yang terlantar dan berujung pada perceraian, karena kurangnya ilmu dan kesiapan sebelum menikah--naudzubillahimindzalik. Maka, penting sekali “menyegerakan diri” untuk belajar tentang bagaimana membina sebuah rumah tangga. Bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam rumah tangga, bagaimana adab kepada seorang istri/suami, apa saja hak dan kewajiban suami/istri terhadap orangtua dan mertua, bagaimana menjadi ayah dan ibu yang baik sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam dan segudang “bagaimana-bagaimana” lainnya; mulai dari yang sifatnya keyakinan hingga praktikal--seperti memasak, menjahit, membenarkan pintu rumah yang rusak, dan sebagainya.
Maka, waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan semuanya tidaklah banyak. Menjadi seorang suami/istri (ayah/ibu) adalah sebuah tanggung jawab yang amat besar, sebuah pilihan yang dapat memasukkan kita ke surga, ataupun menjebloskan kita ke dalam neraka. Oleh karena itu, waktu muda kita; saat kita masih bersekolah, saat kita masih dibiayai orang tua, saat kita belum dibebani pekerjaan, saat kita masih memiliki cukup waktu luang, saat ingatan kita masih tajam, dan saat tubuh kita masih bugar ... adalah waktu-waktu yang harus kita manfaatkan. Selagi Allah karuniakan nikmat sehat dan waktu luang, maka manfaatkanlah nikmat tersebut untuk menuntut ilmu agama, mempelajari bahasa arab, mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an, mengkaji berbagai kitab, menghadiri majelis ilmu, berguru langsung pada para asatidz dan asatidzah, memperbaiki akhlaq, dan memperbanyak teman-teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Pada waktu inilah, belajarlah yang sungguh-sungguh, kejarlah cita-cita dan bahagiakan orangtua. Mulai bekerjalah dengan giat, coba merintis usaha kecil-kecilan, apapun asalkan halal. Rezeki kita memang telah ditentukan, bahkan setelah menikahpun, Allah telah jaminkan. Tinggal bagaimana kita yang membuka pintu-pintu rezekinya. Carilah berkah dari setiap rezeki yang kita usahakan. Karena bagi laki-laki sendiri, mencari nafkah adalah sebuah kewajiban dan sebuah ibadah yang penuh keutamaan. Sehingga, sebelum waktunya tiba, pastikanlah diri kalian sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkannya. Tidak perlu banyak dan berlebih-lebihan, selagi cukup dan membawa keberkahan, insyaAllah akan membuat keluarga kecil kita nanti tenteram dan bahagia. Karena kekayaan dan rezeki hadir dalam berbagai bentuk, tidak harus dalam bentuk rumah dan mobil mewah, tapi dengan memiliki keluarga yang harmonis, rumah yang penuh dengan lantunan Al-Qur’an, anak-anak shalih-shalihah yang berbakti dan senantiasa mendoakan orang tuanya adalah sebuah bentuk rezeki yang tak akan bisa ditukar dengan uang.
Namun, yang paling penting dari semua hal yang telah kita bicarakan ini adalah barangkali ... alih-alih dilamar oleh sang pujaan hati, kita malah dilamar terlebih dahulu oleh pemutus segala kenikmatan dan pemutus segala angan-angan yaitu kematian. Maka, niatkan segala persiapan dan perbaikan diri ini hanyalah karena Allah, karena Allah, dan karena Allah. Biarlah kita sibuk memperbaiki diri masing-masing--menunggu entah kapan, siapa dan dimana, dalam diam... hanyut dalam kesibukkan kita untuk meningkatkan kualitas keimanan, memperbaiki ibadah kita, dan mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta.
Biarlah skenario Allah yang berkehendak, menyusun kisah cinta yang paling romantis versi-Nya, yang sangat jauh berbeda dengan kisah-kisah buatan manusia yang ada di novel dan film. Biarlah rahasia langit yang bercerita, bahwa ada dua insan di bumi yang saling menyimpan tanya, namun memilih menyerahkan segala urusannya pada Yang Maha Kuasa--hingga mereka bertemu atau dipertemukan.
Depok, dini hari, pukul 01.27.
Di malam yang sunyi, setelah hujan gerimis mulai mereda.
MR.