"Tak ada yang lebih arogan daripada angka" katamu.
Saat pipimu merah disengat matahari. Pun, kau ucapkan kalimat yang sama, ketika kuku-kuku mulai membiru karena perubahan suhu udara yang tak bisa kau ubah.
"Tak ada yang lebih arogan daripada angka" katamu.
Saat kau melihat bahwa hasil akhir adalah mutlak, daripada proses bagaimana mendapatkan sebuah "hasil akhir".
"Tak ada yang lebih arogan daripada angka" katamu.
Lagi-lagi, saat kau mulai loncat ke satu kota ke kota lain.
Berkawan dengan jarak.
Berkawan dengan rindu.
"Tak ada yang lebih arogan daripada angka" katamu.
Saat memperhatikan detak-detik jarum yang bergerak memutar di tangan kirimu, seraya berbisik..
"24 jam sangatlah sedikit untuk menikmati hidup yang pelik. Tak ada yang bisa mengalahkan garis lurus dan garis lengkung itu, Sayang. Tak ada yang lebih arogan daripada angka..
Aku pamit".
Usai pamitmu, aku diam. Jarum yang berdetak di dinding itu tetap berjalan menonton kau yang kehabisan waktu. Dan aku yang masih berusaha menikmati sisa waktu.
"Oh angka... Mengapa engkau begitu arogan?" tanyaku.
Dunia kalah.
Tak ada yang bisa menjawab.