“Sebagian ingin dimengerti payahnya, sebagian ingin diikuti kejernihannya. Padahal keduanya sama-sama menuntut orang lain melompat, bukan berjalan bersama.”
seen from China
seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from Japan
seen from Vietnam
seen from Bosnia & Herzegovina
seen from China

seen from Russia
seen from United States
seen from Moldova

seen from India
seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Singapore
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China
“Sebagian ingin dimengerti payahnya, sebagian ingin diikuti kejernihannya. Padahal keduanya sama-sama menuntut orang lain melompat, bukan berjalan bersama.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sejatinya, kau tak bisa menyalahkan apa-apa yang ada di depanmu. Semua murni kau yang mesti memilih.
Dipaksa memilih oleh keadaan? Pun itu sebenarnya sebuah pilihan. Apa kau akan mengambilnya atau malah mengabaikan.
Pikiranmu yang jadi teman baikmu,
Tapi dia juga yang akan jadi musuhmu.
Terbentur, terbentur, terbentur, dan terbentuk. Tumbuh dewasa dari keluarga dan lingkungan yang biasa-biasa saja (tidak memiliki privilege) itu tidak pernah mudah. Tiap hari berkutat pada pilihan harus merelakan mimpi atau mengejarnya. Waktu sebagian besar dihabiskan untuk berjuang agar diri tidak menyerah.
Dalam proses menggapai kehidupan yang lebih baik di masa depan, orang tersebut belajar terbiasa untuk tidak dipertimbangkan oleh orang lain, diabakan, ditinggalkan, dan dilupakan. Di saat orang lain memiliki privilege berupa resources dan waktu untuk bisa menyenangkan diri melalui beragam cara, orang tersebut masih berusaha untuk mendapatkan resouces itu. Berjuang nyatanya adalah perjalanan yang teramat sunyi.
Malam tidak selamanya malam, dan siang tidak selamanya siang. Bagi kamu yang lahir untuk hidup dan membantu menghidupi keluarga, sudah berjuang sampai hari ini adalah pencapaian yang hebat.
Jakarta yang menunggu hujan. 2 Juni 2023.
Kita sering lupa bahwa cermin adalah sahabat terbaik untuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum menilai orang lain.
Mengurusi hidup orang lain mungkin membuat kita lupa bahwa diri kita juga membutuhkan perhatian dan perbaikan.
Kebaikan hati tercermin dari kemampuan kita untuk introspeksi, bukan dari seberapa kritis kita terhadap orang lain. Sebelum menghakimi, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah aku sempurna?
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengurusi kesalahan orang lain, fokuslah pada perjalanan dan perbaikan diri sendiri.
Jika kita menghabiskan waktu untuk melihat ke dalam diri, kita akan menemukan bahwa ada banyak hal yang perlu diperbaiki sebelum kita menghakimi orang lain.
Belajar untuk bercermin dan melihat kekurangan diri adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih baik.
Menghabiskan waktu dengan menilai orang lain membuat kita lupa bahwa setiap orang punya perjalanan hidupnya sendiri yang perlu dihargai.
Sebelum kita sibuk mengurusi hidup orang lain, mari kita pastikan dulu bahwa hidup kita sudah berjalan dengan baik.
p.s: nasehat yang kubuat untuk diriku sendiri agar selalu dijadikan renungan hidup.
Akan ada fase dimana teman semakin sedikit. Percintaan tak lagi penting, dan kehidupan sehari-hari seolah makin rumit.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Memberi dan mendapat kebaikan, sejatinya tidak perlu mengenal sebuah kedekatan pun ikatan."
Ya, beberapa waktu belakangan, saya menyaksikan bahkan merasakan sendiri betapa bahagianya saling mentransfer energi kebaikan. Mulai dari orang-orang terdekat, orang yang sekadar kenal, orang yang sekadar saling sapa tanpa tahu nama, bahkan orang yang entah dari mana kita tidak pernah tahu sama sekali.
Bingung ya? Sama, saya juga *ehgimanasihlu
Begini, saya kenal baik dengan beberapa orang yang hanya bertukar sapa lewat media sosial saja. Tetapi, rasa bahagia saya membuncah ketika bisa mengenal mereka dan berbagi kebaikan dengan mereka. Apalagi dengan tingkat kerandoman saya yang luar biasa, akan sangat membahagiakan ketika saya dapat diterima dengan baik dan dengan hati terbuka oleh mereka. Sesederhana kalimat, "have a nice day, senyum selalu, bahagia selalu, sehat-sehat ya, lekas membaik hatinya, lekas selesai penatnya, yuk jalan-jalan, dan lain-lain."
Tidak berhenti sampai di situ, saya juga bahagia ketika ada orang yang bisa mendapat kebahagiaan dari saya. Meski saya tidak sadar karena saya merasa tidak melakukan apa-apa untuk orang itu. Ternyata sederhana konsepnya. Hanya bermodal ketulusan dan niat baik, rupanya kebahagiaan itu akan sampai (dengan catatan, si penerima mau bersyukur). Sesederhana, "makasih selalu mau dengerin curhatku, makasih nggak pernah menghakimi aku, tetap nulis ya dan sehat selalu, semoga selalu bahagia dalam berkarya, dan lain-lain."
Dari situ saya mengerti, bahwa kebaikan selalu membawa kebahagiaan. Kalau ada kebaikan yang berujung dengan ketidakbahagiaan, itu tandanya ada yang salah. Kebaikan itu disalahgunakan. Hah, kebanyakan ngoceh emang saya tuh. Mon map.
Intinya, saya mau berterima kasih. Kepada orang-orang terdekat yang selalu mendukung saya, selalu menjadi telinga dan bahu ternyaman. Kepada orang-orang yang saya kenal dan mengenal saya, meski tidak dekat tetapi selalu mau memberi dan menerima kebaikan bersama saya. Kepada orang-orang yang tidak mengenal saya, tetapi mau saling bercerita dan mendoakan kebaikan. Kepada orang-orang yang hanya bertemu saya sekian detik, tetapi tulus berbagi senyum dan aura positif yang membuat saya senantiasa bersyukur.
Jadi, butuh alasan apa lagi untuk bersyukur kepada kebaikan Allaah yang sedemikian banyak. Periksa lagi hatinya, jangan sampai kita mengabaikan kebaikan yang tulus. Padahal, sudah tertulis kan kalau "tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan itu sendiri." Terima saja. Perihal tulus atau tidaknya kebaikan dari orang lain, itu bukan urusan kita. Tugas kita hanya menerima dengan baik, membalas dengan sikap dan doa-doa baik pula. Itu saja.
Yuk, saling mengingatkan. Saya, kamu, mereka, dan kita semua; tempatnya salah dan lupa. Jadi, mari belajar dan saling membaikkan.
Salam sayang,
hujankopisenja.
Menikmati gagal dengan menyalahkan diri sendiri, tanpa mau mengevaluasi, dan introspeksi diri adalah cara terbaik menuju kegagalan sejati.
-Sri Fafa
Segenggam Gula
Seorang bijak pernah berkata, hidup itu seperti secangkir kopi hitam. Biarkanlah sejenak. Tunggu hingga kopinya mengendap. Sebab jika langsung diteguk, rasa pahit kopi akan sangat terasa di lidah. Akan tetapi jika bersabar, manis gula akan berkombinasi dengan pahitnya kopi. Lalu terciptalah rasa yang sempurna.
Jika seorang bijak berkata hidup seperti kopi, maka menjadilah seseorang seperti gula. Segenggam gula, jika dimasukkan ke dalam air mendidih bersama dengan sesendok kopi, maka meleburlah ia bersama kopi tersebut. Sama halnya jika gula dimasukkan ke dalam air mendidih bersama dengan teh, maka meleburlah ia bersama dengan teh itu. Begitupun jika gula dicampur dengan susu dalam satu gelas, lalu dituangkan air panas ke dalamnya, gula pun akan ikut melebur bersama susu.
Setiap kali gula dicampur dengan kopi, teh atau susu, ia akan berfusi. Membaur sampai tak lagi menampakkan eksistensi. Orang-orang tentu saja hanya akan melihat bahwa itu adalah secangkir kopi, secangkir teh atau segelas susu.
Tanpa orang-orang diberitahu, mereka telah tahu bahwa di dalam kopi, di dalam teh, di dalam susu, terdapat eksistensi gula di sana. Gula tak pernah menunjukkan diri bahwa ia ada di antara secangkir kopi, secangkir teh, atau segelas susu. Gula hanya tahu bahwa orang-orang menyadari keberadaannya. Bahwa orang-orang mengenalnya. Bahwa gula itu ada, dan ia memiliki pengaruh. Gula ada dan memiliki harga. Tentu, setiap insan di muka bumi ini pun tahu, bahwa umumnya, gula itu memiliki rasa manis. Bukan pahit, bukan asam, bukan asin.
Hiduplah seperti gula. Yang tak ingin terlihat. Yang tak butuh dihargai, tak perlu diapresiasi, tak harus diakui. Bahwa ia memiliki eksistensi. Ia hanya butuh tahu bahwa ia ada dan memiliki pengaruh.
Karena kita tahu, kebanyakan orang-orang selalu ingin menjadi seseorang yang terlihat—dan paling memiliki pengaruh besar. Akhirnya yang ia lakukan adalah mencari pengakuan dari orang-orang. Padahal, meski ia tak mencari pengakuan, orang-orang tetap akan menyadari keberadaannya jika memang ia memiliki pengaruh. Memiliki harga.
Kita tak perlu bersusah payah sampai harus mencari pengakuan orang-orang, jika memang orang-orang tersebut menghargai kita sejak awal, menyadari eksistensi kita sejak pertama.
Hiduplah seperti gula. Yang cukup tahu bahwa orang-orang mengetahuinya. Tanpa perlu terlihat. Tanpa perlu pengakuan dari mereka.