Sejenak saya kembali ke dalam ingatan masa kecil dimana dulu saya sering bermain di pekarangan gereja sebelah rumah bersama teman-teman. Teman masa kecil saya, Nuel dan Mas Kris namanya, anak dari pastur/pendeta di gereja itu. Kami bersama teman yang lain akrab sekali bermain apa saja menghabiskan waktu siang hingga sore tiba.
Sedih rasanya, ketika sekarang para pelaku teror yang jahat itu mengatasnamakan Islam. Sebagai seorang Muslim yang taat, sejak kecil saya tak pernah diajari mengambil apa yang bukan hak saya, apalagi mengambil nyawa manusia. Dari hati yang paling dalam, saya menyatakan bela sungkawa kepada keluarga korban teror di Surabaya.
Jika Islam mengajarkan membunuh orang Kristen, maka sudah sejak dulu Nuel, Mas Kris, dan keluarganya mati. Dan sudah sejak dulu gereja mereka hangus dibakar. Tapi, tidak.
Jika Islam mengajarkan untuk membunuh orang-orang yang berbeda agama, maka hari ini pasti semua orang Kristen, Budha, dan Hindu sudah binasa semuanya dari Indonesia. Tapi, tidak.
Jika Islam mengajarkan untuk menghancurkan tempat ibadah agama lain, maka pasti hari ini masjid-masjid itu tak hanya menyeru orang untuk shalat saja, tapi juga menyeru untuk meledakkan gereja, menghancurkan pura, dan meluluhlantakkan vihara. Tapi, tidak.
Adanya upaya teror adalah untuk menyebarkan rasa takut, menebarkan desas-desus, menimbulkan kisruh sosial, dan menghancurkan stabilitas negara. Cukup sudah kita rugi akibat jatuhnya korban jiwa dan kerusakan bangunan ibadah. Jangan sampai teroris itu menang untuk kedua kalinya dengan kacaunya hubungan kita sebagai anak bangsa.
Saya termasuk yang percaya, ada upaya untuk menghancurkan persatuan bangsa kita yang kokoh ini. Salah satunya lewat terorisme. Dimana pelakunya selalu menampilkan identitas keislaman dan framing opini publik selalu digiring untuk dibuat takut dengan simbol-simbol Islam karena selalu diasosiasikan dengan kejahatan terorisme. Kita semua sudah mengerti, bahwa entitas mayoritas bangsa kita adalah Ummat Islam. Maka, menghancurkan Ummat Islam sama saja dengan menghancurkan bangsa ini. Dengan demikian akan sangat mudah bagi pihak-pihak berkepentingan untuk masuk, mengambil alih kendali atas sumberdaya-sumberdaya kita yang kaya. Siapa dalangnya? Bukan kapasitas saya untuk menerka-nerka atau menunjuk satu pihak yang bertanggung jawab.
Kita tak perlu membangun prasangka yang tak perlu. Tak perlu menunjuk-nunjuk sesama anak bangsa atas tragedi ini. Yang ada kita malah punya andil memperkeruh persatuan kita. Siapa saja yang tidak membenarkan pembunuhan adalah kawan kita. Siapa saja yang tidak membenarkan perusakan tempat ibadah adalah kawan kita. Dan musuh kita adalah siapa saja yang menghalalkan pertumpahan darah dan menghancurkan rumah ibadah.
Perihal siapa pelakunya, cukup tunjuk mereka yang memang sudah ditetapkan tersangka oleh yang berwajib. Tugas kita adalah membangun moral sesama, bahwa kita tak gentar dan tak berpencar. Bukan saling mencurigai.
Tak perlu kita memperlebar masalah dan menghubungkan tragedi teror ini dengan sesuatu yang tak ada hubungannya. Saya geli melihat media sosial, banyak sekali buzzer dan akun tak jelas mengambil keuntungan dengan membuat opini macam-macam agar viral.
Sungguh, teror ini tak ada kaitannya dengan tagar #2019TetapJokowi dan tagar #2019GantiPresiden. Sungguh, teror ini tak ada kaitannya dengan aksi solidaritas untuk Palestina beberapa hari yang lalu. Jangan biaskan tragedi ini kemana-mana. Jangan benturkan aspirasi-aspirasi anak bangsa dengan musibah ini. Kehidupan demokrasi kita akan terus berjalan. Dan perlawanan kita kepada terorisme juga akan terus berjalan, tak peduli siapapun presidennya 2019 nanti, tak peduli sesering apapun kita berdemonstrasi menunjukkan solidaritas dengan bangsa lain.
Sebagai warga negara, kita hanya bisa melakukan campaign melawan terorisme dan melapor jika ada gelagat orang yang mencurigakan. Tapi untuk menuntaskan terorisme ini sampai habis, otoritasnya ada di tangan pemerintah dan aparat. Jadi, jangan kita terlalu sibuk berdebat sesama warga negara. Maka menjadi penting bagi kita untuk mengawal agar pemerintah menangkap dan mengadili para teroris ini seadil-adilnya dan dengan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Terakhir, sejatinya terorisme itu telah kalah sejak kita tak gentar dan tak berpencar, sejak kita tetap bersatu sebesar apapun bom yang dilempar.