AM I SUFFERING OCD?
Saya sedang dalam kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Bukan karena kesehatan saya, tapi lebih karena pikiran saya yang tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal buruk tentang kesehatan saya.
Disclaimer (sebelum lanjut membaca):
Judul di atas saya dasarkan atas beberapa kondisi saya sebagai berikut:
Sering mengecek bagian tubuh (yang terlihat berbeda) berulang-ulang
Selalu membutuhkan konfirmasi dari orang lain untuk menenangkan atau menghilangkan pikiran negatif
Khawatir berlebihan terhadap penyakit yang saya derita sebelumnya
Takut melakukan kesalahan yang berdampak pada kesehatan
Meskipun saya tidak memungkiri bahwa kondisi kesehatan saya saat ini pun memang belum pulih 100% setelah operasi, tapi buruknya pikiran saya membuat saya seolah benar-benar seperti sedang dalam kondisi kesehatan yang sangat lemah.
Nyatanya saya sadar bahwa saya tidak selemah itu, perlahan tapi pasti kondisi kesehatan saya terus membaik. Tapi beberapa bagian memang masih terasa tidak nyaman, terkadang nyeri dan ada juga yang bentuknya masih cukup mengingatkan saya pada penyakit saya sebelumnya.
Saya sendiri tidak mengerti mengapa saya bisa menciptakan kondisi yang buruk bagi diri saya sendiri, yang menurut istri saya tidak seburuk itu. Dan sekali lagi saya pun sadar bahwa saya tidak selemah itu, kesehatan saya terus membaik. Sekarang saya justru harus berjibaku untuk memulihkan pikiran serta alam bawah sadar saya bahwa saya sedang dalam masa pemulihan.
Tidak, Saya tidak ingin terjebak dalam gelisah berkepanjangan yang akhirnya hanya membuat saya lupa bersyukur. Ya, lupa bersyukur bahwa Allah telah memberikan saya jalan untuk menyembuhkan penyakit saya. Pada akhirnya, di tahap ini saya menyadari bahwa saya kurang bersyukur. Saya masih ingat betul bagaimana mudahnya saya menjalani operasi dari sebelum sampai sesudahnya. Tapi di sisi lain, saya juga dengan mudahnya lupa (bersyukur) ketika ada rasa tidak nyaman yang mendiami area sekitar bekas operasi.
Saya bukan tanpa usaha untuk memulihkan pikiran dan alam bawah sadar saya. Saya sudah melakukan semua yang bisa dilakukan. Mulai dari mencari tahu lewat Google, dan saya temukan dari Alodokter bahwa kondisi saya semuanya normal. Ketika dokter di Alodokter tersebut menyarakan si penanya untuk berkonsultasi dengan dokter bedahnya, saya pun sudah berkonsultasi dengan dokter bedah saya. Dokter bedah saya pun mengatakan bahwa semua kondisi saya NORMAL (totally normal sampai saya diomelin). Yap, benar-benar normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekalipun masih adanya perbedaan bentuk, itu sesuatu yang normal. Tidak semua bekas penyakit itu bisa kembali normal seperti sebelum sakit, kira-kira begitu yang ia katakan. Setelah itu pikiran saya membaik, mulai semangat lagi. Namun…
Ketika saya mengalami rasa sakit, nyeri-nyeri kecil dan sebagainya, "penyakit" dalam pikiran saya kambuh. Saya kembali overthinking, cocoklogi dan lain-lain. Saya sendiri bahkan tidak mengerti harus siapa lagi yang meyakinkan saya bahwa saya baik-baik saja. Bahkan sebelum saya berkonsultasi dengan dokter bedah saya, saya udah sharing sedikit dengan teman kerja saya tentang ayahnya yang memiliki penyakit sama dengan saya. Ia mengatakan bahwa aktivitas ayahnya setelah operasi sama persis dengan saya dan sampai sekarang baik-baik saja. Bahkan pekerjaan ayah teman saya tersebut sebenarnya lebih berat dari saya. Tidak hanya itu, saya pun sesekali sharing dengan teman istri saya (sekarang jadi teman saya juga) yang mengalami penyakit sama seperti saya dan mengambil jalan operasi juga. Dan semuanya seharusnya sudah baik-baik saja.
Tapi sampai detik ini saya masih belum mengerti, harus siapa lagi yang meyakinkan saya bahwa saya baik-baik saja. Rasanya seperti segala hal-hal baik yang saya terima, tertutup oleh segelintir hal negatif yang belum tentu saya alami (termasuk informasi). Untuk hal ini, saya bahkan sampai mencari tahu tentang cocoklogi yang akhirnya mengarahkan saya pada istilah ilmiah "Bias Konfirmasi". Yaitu kondisi di mana seseorang hanya memverifikasi/mengkonfirmasi sesuatu hanya berdasarkan kehendak pikirannya sendiri. Jika saya merasakan sesuatu yang buruk, maka saya hanya akan menerima konfirmasi yang mendukung perasaan saya tersebut. Misal, seperti pada saat saya merasakan sakit, nyeri atau bagian tubuh bekas operasi yang belum normal. Dari hasil pencarian saya sampai ke dokter bedah saya itu merupakan hal yang normal, namun ketika saya menemukan informasi bahwa itu "bisa jadi" adalah pertanda negatif (yang belum tentu sesuai dengan kondisi saya), maka pikiran saya akan mendorong saya untuk menerima konfirmasi hal yang negatif tadi dan mengkonversinya menjadi ketakutan, kecemasan atau kegelisahan terus-menerus.
Ini adalah bagian pertama, jawaban anda atas judul yang saya tulis akan menentukan seperti apa bagian kedua dari tulisan ini. Jika tidak ada jawaban, tulisan ini akan berlanjut menyesuaikan kondisi saya saat itu.
-Terimakasih-















