بسم الله الرحمن الرحيم...
Terima kasih karena senantiasa menemani tiap episod perjalanan yang panjang ini. Tetaplah disini, hingga akhir waktu perlahan menghampiri.
seen from China
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Brazil
seen from China
seen from Sweden

seen from Canada

seen from China
seen from China

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Canada
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Russia

seen from Germany

seen from Denmark

seen from Brazil

seen from China
بسم الله الرحمن الرحيم...
Terima kasih karena senantiasa menemani tiap episod perjalanan yang panjang ini. Tetaplah disini, hingga akhir waktu perlahan menghampiri.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika Aku Tidak Menikah...
Satu sore di parkiran sebuah mall dekat pusat kota, seseorang melambaikan tangan sembari berteriak “Woy San!”, aku lekas menoleh ke arahnya. Dilihat dari perawakannya, nampak seperti Ardi, teman di komunitas touring-ku. Tanpa berlama-lama, kuhampiri dia yang sedang menggandeng anak kecil dengan seorang wanita berkerudung panjang di sampingnya. “Eh, elo. Lagi ngapain?!” tanyaku bersemangat (maklum, sudah lama tak bertemu). “Biasa, nemenin istri belanja sekalian ajak main junior” jawabnya sembari tertawa. Tak banyak yang kami bicarakan di penghujung sore itu, tempat dan waktu yang kurang pas tentu menjadi alasannya. “Oke, gue balik ya! Daah Ryan, om pulang ya...” ucapku sembari melambaikan tangan untuk si Ardi junior.
Bunga Itu Adalah Dirimu
Matamu memancarkan sorot berbeda, tak begitu jelas namun memang tak biasa. Lebih banyak pandangan yang kau sembunyikan, seperti ada sesuatu yang harusnya diutarakan. Apapun itu, yg jelas sore ini kau seperti lebih kaku. Gombalan yang biasanya membuatmu tertawa, kini enggan kau terima. Entah, mungkin hanya sedang tak ingin beradu canda.
Sekitar 7 tahun yang lalu. Saat kami remaja SMA yang baru saja lulus dari sekolah menengah dengan segenap perasaan membuncah, entah itu karena kelulusan dan berita terbaiknya telah diterima di universitas idaman, ataupun karena was-was tidak akan bisa langsung melanjutkan kuliah, tersebab kabar penerimaan universitas yang masih jauh panggang dari arang.
Aku termasuk satu di antara sekian banyak siswa yang cukup tenang dan membuncah karena bahagia saat itu. Aku lulus SMA dengan nilai ujian nasional terbaik, diterima kuliah di universitas melalui jalur undangan, ditambah mendapatkan beasiswa pula. Kala itu aku sempat bergumam pada diri sendiri, “ya aku pantas mendapatkan ini melihat usaha kerasku belajar yang tiada terputus selama 9 tahun ke belakang”. Sombong sekali.
Namun berita selentingan sampai ke telingaku. Beberapa temanku di sekolah mendapatkan beasiswa dari pemerintah kabupaten. seketika aku langsung mengernyitkan dahi, “what? how can?”. Aku bertanya-tanya tidak percaya. Pertama, berita pemberian beasiswa itu tidak dilakukan secara terbuka. Aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkan informasi itu. Kutanyakan pada teman-temanku yang lain, mereka juga tidak tahu. Gurupun tidak ada yang memberi tahu pada kami perihal informasi beasiswa itu. Kedua, pertanyaan yang muncul dalam benakku adalah, “why them? They had done nothing in school. Aku maklum bila salah satu di antara mereka mendapatkannya, sebab aku juga tahu bagaimana ngototnya dia belajar. Meski ada perasaan tidak ikhlas karena proses yang tidak adil menurutku, aku tetap berusaha memberi selamat atas beasiswa yang ia dapatkan dan kelulusannya di uniersitas ternama di Jakarta. Tapi bagaimana dengan yang lain? Sibuk apa mereka selama sekolah? Aku benar-benar tidak mengerti. Mereka adalah satu geng yang terkenal dari keluarga berada. Di sekolah mereka hanya sibuk main dan bergaya, pacaran, malas belajar, malas organisasi, prestasi juga tidak ada. Ya se-sarkas ini perasaanku saat itu pada mereka. Rasanya benar-benar tidak ikhlas dengan kemudahan yang mereka terima. Seperti “Kejatuhan emas di tengah jalan”. Kok sebegitu enaknya hidup mereka. Begitu kira-kira celetukan dari hatiku.
Beberapa waktu kemudian, seorang temanku (yang lain) mengatakan bahwa mereka pakai “jalur dalam”. Orang tua salah satu dari mereka bekerja di kantor kabupaten. seketika aku langsung ngeh, “oh begitu rupanya”. Wajah sinis dan senyum meremehkan serta merta terbit dari bibirku. (Astaghfirullah). Saat itu aku mencoba “denial” terhadap perasaanku, aku fikir yang kurasakan ini wajar, dengan dalih “Coba kalau beasiswa itu diumumkan secara terbuka, pasti banyak anak-anak cerdas dengan kondisi ekonomi keluarga kurang beruntung bisa bersekolah dengan beasiswa itu. Lha mereka, di sekolah aja begitu, di kuliah mau ngapain, hambur-hamburin uang pemerintah?”. Begitulah kira-kira alasan rasional yang muncul di kepalaku, mencoba memberikan alasan wajar atas apa yang kurasakan. Meski sebetulnya lebih merasa dicurangi oleh pemerintah sendiri.
Bertahun-tahun berlalu. Hingga sampai satu tahun yang lalu, aku bertemu dengan salah satu teman yang mendapatkan beasiswa itu. Aku sebenarnya sudah melupakan kejadian itu. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba ia bercerita sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut tak terkira. Beasiswa mereka terputus sejak mereka kuliah di semester 2. Dan mereka baru diberitahu saat sudah berada di semester 7. Selama sekian semester uang kuliah mereka ditangguhkan. Namun karena sudah melewati batas toleransi, akhirnya mereka dipanggil untuk segera melunasi uang kuliah tersebut agar bisa mengikuti sidang kelulusan. Oh aku belum memberitahu kalian, mereka kuliah jurusan pendidikan kedokteran dengan biaya kuliah per semester kurang lebih 30jt. Jleb! Aku terdiam. Seketika aku teringat momen saat aku mengumpat mereka dan pemerintah di dalam hati. Seketika itu aku menyesal, meski aku tidak tahu apakah umpatanku bertahun-tahun lalu telah tak sengaja menjadi do’a yang terkabulkan lalu menjelma menjadi terputusnya uang kuliah mereka. Aku benar-benar menyesal. Tapi sayangnya di dalam hatiku tetap ada bisikan “Allah tak akan memberi rezeki semudah itu tanpa usaha apapun yang kalian yang lakukan”. Sepulang dari pertemuan itu aku menangisi bisikan hatiku sendiri. Seburuk ini kah aku?
Namun satu hal yang mulai aku yakini hingga kini, bahwa rezeki ternyata terkadang tidak serta merta harus sesuai dengan logika manusia. Konsep rezeki dari ALLAH sungguh tak bisa disangka-sangka. Aku pun mulai memperbaiki cara berfikirku. “Mungkin kemudahan yang mereka terima saat itu adalah balasan atas perbuatan baik mereka yang aku tidak tahu. Tidak harus berupa prestasi di sekolah, kan? kalau Allah mau ngasih rezeki ke siapapun, ya terserah ALLAH aja. Yang punya bumi dan kehidupan ini Allah, kok aku yang ngatur-ngatur harusnya Allah gimana. Astaghfirullah”.
Hingga saat ini masih ada dua orang dari mereka yang belum menyelesaikan studinya. Salah satu dari mereka adalah adik kelas satu tahun di bawah kami yang mendapatkan beasiswa sebagai hadiah atas prestasinya di kompetisi nasional (tentu Aku memandang wajar akan hal ini). Ia tidak bisa melanjutkan kegiatan co-asstnya karena uang kuliah yang belum dilunasi. Aku tahu kabarnya kemarin dari status media sosialnya. Sedangkan satu lagi dari teman senagkatanku, bahkan teman-teman kuliahnya pun tidak tau kenapa masih belum selesai hingga saat ini. Aku berdo’a, semoga apapun hambatan yang sedang mereka hadapai saat ini, Allah segera menunjukkan jalan keluar. Semoga mereka semua bisa menjadi dokter-dokter hebat dan memiliki jiwa integritas tinggi, yang selalu siap membantu orang-orang yang memerlukan bantuan mereka. Aamiin.
Dan aku, juga harus menyibukkan diri dengan diriku sendiri. Mau kemana kamu, Sitri?
Alhamdulillah tugas Jinayat selesai juga.. di suruh buat Makalah: Rasulullah Bukan seorang Pedofil dan Bantahannya.. Semoga Lillah yah teman-teman Kifahu Shidqiya.. Allahu Akbar..

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apa pun yang Terjadi, Jangan Mengeluh. Salah satu keahlian yang dimiliki kebanyakan manusia, barangkali termasuk kita, adalah mengasihani diri sendiri. Jika ada seorang teman yang datang dan bercerita bahwa dia sedang menghadapi masalah A, kita akan mendengarkannya sambil mengangguk-angguk, lalu bercerita bahwa kita pun tengah menghadapi masalah B, yang jauh lebih besar dari masalahnya. Bahwa masalah A, hah, bukan apa-apa. Kita selalu ingin dimengerti. Kita haus empati. Kita punya kecenderungan untuk dilihat sebagai korban. Bahwa setiap kegagalan hidup terjadi di luar kendali. “Aku begini karena waktu kecil orang tuaku mendidikku dengan cara X”, “Dia sih enak, orang tuanya kaya”, “Kalau aku di posisi itu sih, aku juga bisa”, “Wajarlah, dia kan tinggal di Kota Y.” Bla bla bla. Kita lupa menerima fakta bahwa hidup—kita maupun orang lain—tidaklah ada yang sempurna. Orang-orang yang kita anggap ‘beruntung’, kemungkinan besar memiliki ‘sisi sial’ yang tak ‘kan pernah sanggup kita tanggung. Sebut satu nama yang memenuhi syarat untuk ditempeli predikat ‘sukses’. Baca kisah hidupnya secara utuh. Akan ada sisi pahit yang kita ragu bahkan untuk sekadar mengecapnya. Sudah begitu adanya. Setiap manusia punya porsi masalah masing-masing. Tak ada alasan untuk terus mengeluh, apalagi merasa paling sial. Jika menghadapi masalah dan bisa berbuat sesuatu untuk menyelesaikannya, lakukanlah. Jika tidak, kita jalani saja dengan sabar. Mengeluh cuma buang-buang waktu. Dan mengasihani diri sendiri, hanya menambah penderitaan baru. _______________ ©️AZ #ceritasore #cerpen #sajak #prosa #puisi https://www.instagram.com/p/B1yLqv2Hpst/?igshid=1dcv8z3f5433w
Menangkap harapan "Kayaknya habis dia giliran kamu yang nikah" "Aku sih feeling banget yang selanjutnya nikah itu sugih" "............." "............." Belakangan ini beberapa teman dekat menyampaikan hal yang serupa, hal yang sebenarnya menjadi pengharapan kecil nan tak sederhana. Saat berbincang soal sepuluh dua puluh tahun kedepan sebagian selalu penasaran untuk mencari tahu kisi-kisi soal rencana hidupku, tentang siapa perempuan yang ku jatuhkan pilihan padanya atau tentang kriteria perempuan yang ku inginkan. Meski pada akhirnya rasa penasaran mereka berujung kekecewaan karena jawaban-jawaban yang ku sampaikan tak bisa memenuhi rasa penasarannya. Dibalik itu aku justru amat bersyukur karena aku jadi tau banyak orang yang mendoakan tentang pengharapan kecil nan tak sederhana ini. Seperti menangkap harapan yang diucapkan mereka, aku terus berupaya untuk belajar memantapkan diri. Karena menangkap harapan kecil nan tak sederhana ini memerlukan jaring yang tak sederhana pula, butuh ketelitian agar jaring yang ku sulam tak bercelah hingga ia dapat lolos dan pergi. Bagiku pengharapan kecil nan tak sederhana ini benar-benar tidak se sederhana perkataan orang, karenanya aku tak risau soal apa kata orang atau soal penilaian orang selama aku bisa memenuhi kesiapanku. Jadi untuk mu yang jadi pengharapan kecil nan tak sederhana ku, tetaplah pada tempatmu dan tetaplah dengan standar tinggi mu. Biarkan aku berupaya untuk memantapkan diri sampai aku siap untuk menangkap harapan mu itu. #ceritasore #ceritamalam #cerita #sajak #puisi #prosa #hikayat https://www.instagram.com/p/B0L8qGbn_uu/?igshid=1n9bbs6km2vtf
Hati yang baik Untuk kamu yang sedang dalam penantian selipkan sebait doa untuk ku yang sedang dalam pengupayaan. Aku tak tahu apa yang sedang kau nantikan dariku, apa kau menanti kehadiranku atau malah engkau menanti kepergian ku. Tak apa biar aku tak usah tau darimu biar itu menjadi perbincangan ku dengan Tuhan, cukup do'akan saja aku dengan doa terbaikmu untuk terus mengupayakan atau agar aku pergi menjauh. Sampai nanti pada waktunya aku datang sebagai buah kesabaran atau pergi menjauh menjadi sebuah pengikhlasan. #sajak #ceritasore #cerpen #puisi #hikayat https://www.instagram.com/p/B0KZZZdHds8/?igshid=2l9wzt8icoz1