Mengapa aku hanya bisa diam melihatnya diperlukalukan seperti pembantu rumahan? Mengapa aku hanya bisa diam tatkala amarahnya terpendam demi menjaga norma kesopanan? Apakah hanya diam yang bisa kulakukan saat ia membutuhkan tangan untuk digenggam? Atau sekadar pundak untuk disandarkan? Mengapa hanya harap yang dapat kudengungkan saat ia membutuhkan tindakan? Mengapa hanya tanya yang bisa kuajukan sedang solusi tak pernah kutawarkan? Aku takut bosannya menjadi kecewa, atau gumamnya berubah murka. Sementara ia memupuk sabar, mereka memantik api yang menjalar. Aku menyesal hanya mampu menjanjikan waktu, sementara ia harus terus sabar menunggu. Maafkan aku dinda, lagi-lagi kau harus kecewa, menahan pahitnya lisan manusia, yang bertitah layaknya dewa.
Kelak waktu akan memihak, kan dan aku lekas bertindak. Meninggalkan bumi yang sudah berkerak, sebab ego yang tak kunjung beranjak. Luka haruslah ditanggalkan, kecewa mestilah disingkirkan. Bukan karena diri yang tak peduli, tapi demi hati yang harus dikasihi. Bukankah berpisah demi menjaga lebih baik daripada bersatu untuk hubungan yang sudah tidak menarik? Aku rasa iya, hanya saja perlu lebih terbiasa. Sampai jemu berganti rindu, dan tiap temu menjadi syahdu...
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Satu sore di parkiran sebuah mall dekat pusat kota, seseorang melambaikan tangan sembari berteriak “Woy San!”, aku lekas menoleh ke arahnya. Dilihat dari perawakannya, nampak seperti Ardi, teman di komunitas touring-ku. Tanpa berlama-lama, kuhampiri dia yang sedang menggandeng anak kecil dengan seorang wanita berkerudung panjang di sampingnya. “Eh, elo. Lagi ngapain?!” tanyaku bersemangat (maklum, sudah lama tak bertemu). “Biasa, nemenin istri belanja sekalian ajak main junior” jawabnya sembari tertawa. Tak banyak yang kami bicarakan di penghujung sore itu, tempat dan waktu yang kurang pas tentu menjadi alasannya. “Oke, gue balik ya! Daah Ryan, om pulang ya...” ucapku sembari melambaikan tangan untuk si Ardi junior.
Di perjalanan, aku baru ingat ini malam Sabtu, esok merupakan hari bebas bekerja. Hmm, berbagai agenda malam mulai kurencanakan. Walaupun hanya akan ada beberapa orang yang bisa diajak hangout, tidak masalah bagiku, malam kebebasan harus tetap berjalan. Ya, memang sebagian besar teman hangout telah berumah tangga, jadi tidak mungkin untuk bisa rutin berkumpul seperti ini lagi setiap akhir pekan, mereka punya keluarga yang membutuhkan waktu-waktu senggang seperti ini.
Malam ini mungkin yang terakhir bagi Edwin untuk bisa rutin nongkrong dengan para persekutuannya (termasuk aku), karena hanya tinggal dua minggu lagi ia akan melangsungkan pernikahan. Dan, tidak lupa besok adalah hari pernikahan si anak bawang; Leo. Yap, hari demi hari aku seperti terus kehilangan teman. Mereka ada, tapi bukan untuk teman-temannya lagi. Jangankan touring, untuk sekedar kumpul pun sudah sulit sekali rasanya. Wajar memang, di usia yang menginjak 27, sudah semakin banyak temanku yang melepas masa lajangnya, sementara aku? Ah, masih terlalu jauh untuk memikirkan pernikahan.
Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Tidak banyak obrolan malam itu, hanya seputar touring singkat ke Bogor tempat pernikahan Leo. Mataku terpejam beberapa saat, dan saat kubuka lagi ternyata hari sudah pagi. Sudah waktunya pulang sembari mempersiapkan beberapa perlengkapan touring sebelum menuju titik kumpul di balaikota.
Tiba di balaikota, semua “member” sudah muncul, termasuk calon pengantin; Edwin. Sekitar pukul 8, gas mulai dipuntir menuju Bogor. Perjalanan yang menyenangkan sekaligus membawa aroma perpisahan. Yap, dalam sebulan ini 2 anggota melepas masa lajangnya, itu artinya hanya akan tersisa 3 orang yang masih bisa rutin melanjutkan petualangan di atas aspal. Sudah terbayang suasana yang semakin sepi, dari 8 orang yang dulu selalu mengisi, hanya akan tersisa trio lajang “mapan” yang belum memiliki pasangan.
Dua jam telah kami habiskan di perjalanan, acara pernikahan hari itu berjalan lancar dan ramai. Raut wajah penuh kebahagiaan terpancar dari setiap gelak tawa si pengantin pria. Hanya satu jam kami di sana sebelum menikmati riding di sekeliling kota Bogor.
Tak terasa, hari sudah semakin sore. Puas menikmati moment riding, aku lekas kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku hanya membayangkan, apa yang akan aku lakukan jika semua temanku sudah menikah. Dalam dua minggu ke depan saja, perkumpulan touring ini hanya akan tersisa tiga orang. Sementara sampai saat ini hanya aku yang sama sekali belum memikirkan untuk memiliki pasangan. Sisanya? Sudah tunangan tentunya.
Entah, mungkin aku akan sendirian, menikmati suasana berkendara di tengah malam dengan tunggangan kesayangan. Atau mencari komunitas baru yang tetap menyalurkan hobi meski sudah berumah tangga. Tapi itu pasti tidak mudah, karena menemukan teman sepadan bukan hal yang bisa kuanggap gampang. Baru kemarin sore aku bertemu dengan Ardi yang sudah menggandeng juniornya, hari ini aku menyaksikan Leo melepas masa lajangnya, dua minggu kemudian giliran Edwin melangsungkan pernikahannya. Belum lagi dua orang yang sudah lama tak terdengar kabarnya setelah menikah. Aku tidak cemburu pada mereka, aku hanya mulai berpikir apa yang akan aku lakukan jika sendirian, jika semua temanku sudah menikah. Apa aku harus bergegas menikah juga? Entahlah, meski di usia yang katanya sudah matang, aku masih enggan memikirkan pernikahan.
Sesaat sebelum sampai rumah, aku mendengar suara di atas kepalaku. “Tuk tuk tuk” suara itu semakin keras terdengar dari balik helm yang kukenakan. Suara-suara itu sontak memotong pikiranku, sekilas seperti suara alarm yang biasa kuatur setiap subuh. Lalu dari kejauhan suara wanita memanggil terdengar samar di telinga. “Mas, subuh mas, bangun...!!” yaaapss... teriakan yang makin keras akhirnya membangunkanku. Ya ampun, lagi-lagi aku hampir kehabisan waktu subuh! Untunglah bidadari surga masih sabar membangunkanku. Hampir saja aku terlelap dalam mimpi kelam masa lajang berkepanjangan itu, pfft...
Matamu memancarkan sorot berbeda, tak begitu jelas namun memang tak biasa. Lebih banyak pandangan yang kau sembunyikan, seperti ada sesuatu yang harusnya diutarakan. Apapun itu, yg jelas sore ini kau seperti lebih kaku. Gombalan yang biasanya membuatmu tertawa, kini enggan kau terima. Entah, mungkin hanya sedang tak ingin beradu canda.
Seperti biasa, taman kota menjadi tempat kita menghabiskan senja. Seiring menyalanya lampu-lampu, kunikmati sejenak wajahmu. Hatiku mulai tergerak mencari tahu, apa yang ada di balik senyummu. Satu per satu kuhabiskan tanya, memancingmu untuk terus bicara. “Lo sayang gak sama gua?” tanyaku antusias, “Ya gua sayang sama semua temen-temen gua lah, tapi sama lo emang beda sayangnya” jawabnya pelan. “Deg!” aku terdiam seketika. Aku mungkin tahu ke mana arahnya, tapi tak asyik jika tak mendengarnya dengan kalimat yang jelas, bukan sekadar kata yang membias.
Situasi mulai memacu debar, membuatku makin sulit menahan sabar. Ia menegaskan “Masa harus gua jelasin lagi sih??” ungkapan tanya retorik membuat suasana semakin menarik. Setiap tanya kini mulai menampilkan jawaban, hanya aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Perasaanmu mulai memelukku perlahan, lembut seperti angin yang meniupkan harapan.
Mungkin sudah terlalu jauh, kusandarkan hati yang hanya berbuah jenuh. Atau mungkin aku terlambat, menafsirkan rasa yang selama ini tersirat. Hingga harum bunga di hadapanku, hampir saja terbiar dan berlalu.
Pagi ini, kantuk menggelayut begitu berat. Sorot lampu redup menambah kuat sejuk yang melekat. Di depan pintu, mentari bersinar lembut diiringi burung yang saling bersahut. Pagiku begitu tenteram, pun membuatku semakin tenggelam. Beranjak dari pemandian, seorang calon ibu muda tak henti bertanya “Yuk, ke pasar jam berapa??”. Yap, suara dari mimpi seperti lebih jelas terdengar dibanding pertanyaannya.
Drama pagi dimulai, berusaha meredam kantuk yang belum terurai. “Hari ini mau makan apa?” calon ibu bertanya, “Terserah” sahutku santai. Beberapa menit pun berlalu untuk debat yang tidak menghasilkan mufakat. Singkat cerita, kami menyerahkan perut yang kosong pada ayam goreng dan tumis kangkung, plus sambal sebagai senjata jika masakan tak sesuai harapan. “Wah, enak banget kangkungnya! Begini aja bikinnya” celotehku di tengah sarapan, ternyata menu hasil kepasrahan begitu nikmat! Tapi drama belum selesai, aku hampir terlambat, jam menunjukkan pukul delapan lewat.
Aku bergegas, menyiapkan segala yang perlu kukemas. Sementara si calon ibu, biarlah menghabiskan makanannya sampai tak berbekas. Kami puas, menu yang kami pasrahkan justru berbuah kenikmatan. Rasa syukur membuahkan berkah yang tak terukur. Alhamdulillah..