“Sepertinya minggu depan aku tidak bisa mengantarmu ke undangan temanmu itu.” “Kenapa?” “Faris bilang dia akan datang minggu depan. Dia hanya akan mampir sebentar ke rumah. Sorenya sudah harus pergi lagi. Tidak apa-apa?” “Ya sudah, tidak apa-apa.” “Kamu bisa pergi dengan Kanya kan?” “Iya.” “…” “Apa?” “Tidak.” “Lalu kenapa senyum-senyum?” “Tidak.. Ini.. Hmm. Kalau aku ingat-ingat, kamu selalu menyetujui apa yang aku ucapkan.” “Kenapa? Kamu bosan denganku?” “Tidak, bukan begitu.” “Ya Tuhan. Ini dia.” “Apa?” “Selalu begitu kan? Ada orang-orang yang merasa terlalu dikekang karena dilarang melakukan sesuatu. Sekarang aku banyak menyetujui perkataanmu, lalu kamu bosan? Tiba-tiba aku kurang menantang?” “Hahaha. Tidak. Tidak.” “Setelah berpuluh-puluh tahun para pria menciptakan lagu, memohon pada wanita ingin dicintai seperti apa adanya, lalu sekarang ada lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Ya Tuhan. Yang benar saja.” “…” “Ini konyol, kamu tahu kan?” “Ya, aku tahu. Tapi aku suka ini.” “Apa?” “Kamu, mengomel. Aku suka ini.” “Wow. Aku harus merekamnya." “Ayo lanjutkan.” “Apa?” “Omelanmu.” “Aku tidak mengomel. Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan.” “Ok. Ungkapkan apa yang kamu rasakan. Aku tahu kamu kesal karena aku tidak bisa mengantarmu ke acara itu minggu depan.” “Iya. Dan aku tahu bahwa kamu tahu aku kesal. Aku harus bilang apa lagi?” “Ya.. Bilang bahwa kamu kesal.” “Aku kesal.” “Kamu tahu? Ini.. Aku pikir kita sudah terlalu memahami satu sama lain hingga kadang merasa tidak perlu mengatakan apapun lagi. ” “Ya memang tidak perlu bicara lagi kalau sudah mengerti, kan? Menurutku itu agak keren. Telepati.” “Tapi kita tetap harus bicara.” “Kenapa?” “Kalau kamu merasa tidak perlu bicara karena kamu sudah mengerti apa yang aku pikirkan, mungkin dua atau tiga tahun lagi kita sama sekali tidak akan pernah bicara lagi pada satu sama lain.” “Menurutku ini hanya buang-buang energi. Tapi, baiklah. Aku akan bicara. Aku kesal. Aku kesal saat tadi kamu bilang kamu tidak bisa mengantarku ke undangan pernikahan Lintang. Aku tidak terlalu dekat dengannya dan mungkin itu akan jadi membosankan, jadi kupikir akan lebih baik kalau kamu ikut.” “Ok, maaf karena aku membatalkannya.” “Sebenarnya aku ingin melarangmu bertemu dengan Faris. Kamu sudah lebih dulu membuat janji denganku. Tapi kamu juga pernah bilang, sudah berbulan-bulan bahkan hampir satu tahun tidak bertemu dengan Faris. Jadi aku pikir aku mengalah saja. Kanya bilang ia tidak akan datang. Jadi aku mungkin akan pergi ke sana naik taksi.” “Kanya tidak akan datang?” “Iya, katanya ada acara keluarga.” “Kenapa kamu tidak bilang?” “Apa itu akan mengubah keputusanmu? Apa kamu tidak jadi bertemu dengan Faris?” “…” “Tidak kan? Lalu kenapa aku harus bilang? Sudah kukatakan ini hanya akan membuang-buang energi.” “Setidaknya kamu harus bilang.” “Sudahlah. Bukan masalah besar aku datang ke sana sendiri. Aku akan naik taksi sendiri, bersalaman dengan pengantin sendiri, makan nasi sendiri, makan pudding sendiri, lalu aku akan menunggu taksi di depan gedung sendiri. Mungkin aku akan diculik, atau apa. Tapi mungkin juga aku akan pulang ke rumah dengan selamat." “…” “Dan kamu, kamu bisa bertemu dengan Faris, makan dengan Faris, membicarakan aku dengan Faris, main game dengan Faris, main gitar dengan Faris, lalu berpisah dengan Faris. Kamu akan bahagia bertemu dengan teman masa kecilmu itu. Dan aku mungkin hanya akan sedikit tidak bahagia. Tidak apa-apa kan, kita tidak harus bahagia terus?” “Lupakan. Aku akan mengantarmu minggu depan.” “Tidak. Jangan. Aku akan merasa tidak enak sepanjang hari. Dan kalau begitu kita berdua akan sama-sama tidak bahagia.” “Ya ampun…” “Aku tahu. Sudah kubilang kan? Sebaiknya kita tidak perlu bicara apapun.” “Tidak apa-apa kalau aku memilih untuk bertemu dengan Faris?” “Sejak awal sudah kubilang tidak apa-apa. Ya, sebenarnya apa-apa. Tapi aku sedang ingin mengalah. Sudahlah.” “Baiklah. Maaf, maaf membuatmu mengalah kali ini. Lain kali aku yang akan mengalah, ok?” “Tidak perlu seperti ini. Jika di “lain kali” itu kamu betul-betul tidak bisa menepati janjimu, kamu akan merasa bersalah dua kali lipat. Biasa saja. Tidak perlu membuat janji yang tidak perlu.” “Ok. Ok. Aku tidak akan membuat janji padamu. Aku membuat janji pada diriku sendiri.” “Kalau itu terserah.” “Ini bagus kan? Berbicara seperti ini? Aku jadi tahu apa yang sebetulnya kamu pikirkan. Aku jadi tahu bahwa ternyata kamu akan datang ke sana sendirian.” “Tapi itu tidak mengubah apapun kan? Hasilnya tetap sama.” “Bukan hasilnya yang penting. Yang penting kita bicara seperti layaknya manusia. Bukan diam. Bukan saling membaca pikiran.” “Ya. Mungkin.” “Ayolah. Kita harus terus melakukan ini mulai sekarang. Bicara.” “Entahlah. Mungkin sekarang aku bisa bicara karena aku sedang tidak terlalu marah. Tapi aku akan semakin diam kalau sedang marah.” “Ya, aku tahu, dan itu mengerikan.” “Aku ingin bertengkar. Aku mau marah, lalu berargumen denganmu. Tapi aku betul-betul tidak bisa. Ketika marah, aku tidak bisa berpikir. Otakku tiba-tiba pingsan karena terlalu lemah. Ia berhenti bekerja saat tertekan. Kata-kata menghilang. Aku tidak bisa menemukan apapun untuk bicara. Jadi jangan salahkan aku kalau aku hanya diam ketika sedang marah.” “Oh. Aku tidak pernah tahu itu.” “Saat aku marah, hanya ada beberapa kata yang tersisa di dalam otakku. Dan semuanya adalah umpatan. Mereka semua tidak berguna karena aku tidak bisa menggunakan mereka. Aku tidak mau. Mereka bodoh dan tidak pernah benar-benar menjelaskan apa yang aku ingin katakan. Kau tahu? Aku merasa kata-kata itu bukan milikku. Bukan aku.” “Aku ingin tahu seperti apa jika kamu mengumpat.” “Oh, percayalah, kau tidak mau tahu. Dan jika aku menggunakan kata-kata itu, pada akhirnya aku hanya akan merasa malu dan menyesal. Menyebalkan sekali!” “Aku tahu.” “Aku sering melihatnya di film. Saat si pemeran utama akhirnya bisa mengatakan sesuatu yang sangat cerdas dan tepat sasaran kepada si antagonis. Membuat penonton puas. Tapi aku tidak pernah melakukan itu. Tidak pernah. Dan itu bahkan bukan bagian terburuknya. Aku selalu.. Aku selalu melakukan ini..” “Apa?” “Di dalam kepalaku, aku selalu mengulang kejadian-kejadian yang pernah aku alami, dan membuat akhir yang berbeda dari yang sebenarnya terjadi. Padahal itu bukan kejadian-kejadian penting sama sekali. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya.” “Contohnya?” “Contohnya… Aku selalu mengulang kejadian.. Sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu, saat guruku mempermalukan aku di depan teman-temanku. Saat itu aku tidak mengatakan apapun untuk melawannya. Padahal ada banyak yang ingin aku katakan. Dan sampai sekarang, kadang aku masih suka mengulang kejadian itu di dalam kepalaku. Membuat skenario di mana aku mengatakan sesuatu yang cerdas, yang membuat guruku malu dan menyesal. Aku selalu melakukan itu. Kadang aku membuat skenario yang berbeda dengan kejadian yang sama. Versi lain dari aku yang mengatakan sesuatu yang lebih cerdas.” “Tapi kurasa semua orang juga melakukan itu. Membayangkan situasi yang pernah terjadi, tapi dengan akhir yang berbeda.” “Entahlah. Kurasa tidak ada yang memikirkannya terlalu detail dan terlalu sering. Ini melelahkan, kamu tahu?” “Ya, aku yakin itu sangat melelahkan.” “Aku orang aneh yang tidak bisa meledak marah. Aku harus merencanakan semuanya terlebih dahulu agar aku terlihat keren dan cerdas saat marah. Bukan asal mengumpat seperti babi.” “Kalau begitu. Aku akan menunggu.” “Menunggu?” “Iya. Kalau suatu hari kamu marah sampai otakmu pingsan, aku akan menunggu sampai kamu bisa berpikir lalu membicarakan semuanya. “Ini akan sangat sulit.” “Aku tahu. Tapi kita harus membicarakan semuanya. Jangan hanya diam lalu berpura-pura lupa padahal kita tahu kita semua punya semacam laci imajiner yang penuh dengan folder-folder daftar panjang kesalahan orang-orang yang pernah membuat kita marah dan sedih.” “Oh! Kamu juga punya laci seperti itu? Baiklah, akan aku coba.” “Meskipun melelahkan, tapi kita harus membuka folder-folder itu satu per satu dan menyelesaikannya. “Ya, sebelum laci milikku jadi terlalu penuh lalu meledak...” “...dan tidak ada lagi yang tersisa untuk dibicarakan.” Vella Rahmania 6 Desember 2015