31 Januari 2026
Project menulis di hari terakhir Januari 2026 ini, saya ingin tutup dengan yapping seorang perempuan yang belum bisa masak wkwk
----
Masak sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “seharusnya” bisa dilakukan perempuan. Seolah itu keterampilan dasar yang wajib dikuasai, dan kalau belum bisa, berarti ada yang kurang. Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Sampai di usia saya sekarang, saya masih bisa dibilang belum bisa masak. Selain nasi, telur, tahu tempe goreng, dan mie instan, saya belum benar-benar paham dapur. Saya belum bisa masak nasi goreng, goreng ikan, masak sayur, atau mengenali bumbu dan takarannya. Istilah “secukupnya” saja masih membingungkan, karena saya belum terbangun feeling saya tentang itu.
Bukan karena saya tidak suka masak. Justru sebaliknya. Sejak SD saya suka menonton reality show memasak di weekend. Saya juga banyak mengikuti akun-akun masak, membaca resep, dan melihat prosesnya. Saya menikmati itu sebatas sebagai tontonan dan pengetahuan. Tapi karena dari kecil tidak terbiasa praktik, semua itu berhenti di kepala. Bahkan saat mendesain rumah impian saya, bagian pertama yang saya buat adalah dapur. Saya punya dapur idaman yang sudah saya desain sejak lima tahun yang lalu.
Saya tidak pernah diminta atau diajarkan oleh orang rumah untuk memasak. Sehingga saat harus turun ke dapur, saya bingung mulai dari mana. Bau bawang dan rempah juga masih terasa asing, saya tidak suka dengan baunya. Ada jarak antara suka dan bisa, dan saya ada di tengah-tengahnya.
Pengalaman merantau pun tidak otomatis membuat saya belajar masak. Saat SMA boarding school di Jatim dan kuliah di Jogja ngekos, kebutuhan makan selalu bisa dipenuhi tanpa harus memasak sendiri. Pernah ada niat kuat untuk belajar, bahkan sudah membuka YouTube dan menyiapkan bahan, tapi rasa takut menyalakan kompor di kos membuat niat itu berhenti. Benar memang kalau keinginan saja tidak selalu cukup jika tidak ada dorongan yang benar-benar memaksa kita untuk belajar.
Tapi saya kemudian menghibur diri dengan coba belajar dari konteks kakak perempuan saya. Dulu sebelum menikah, dia juga sama sekali tidak bisa masak. Kondisinya sama seperti saya. Tapi hidup mempertemukannya dengan satu fase yang membuatnya harus belajar: saat anaknya mulai MPASI. Dari situ, mau tidak mau, dia masuk ke dapur, belajar mengenal bumbu, mencoba, gagal, dan terus mengulang. Sekarang, dia bisa masak apa saja, dan masakannya enak. Sering kali kita bukan bisa dulu baru menjalani, tapi menjalani dulu baru bisa. Kemampuan sering kali lahir setelah tanggung jawab datang, bukan hanya sebelumnya.
Saya percaya akan ada fase yang membuat saya belajar masak dengan sendirinya. Bisa jadi karena peran baru, tanggung jawab baru, atau situasi yang menuntut saya untuk turun langsung. Saya tidak menutup diri. Saya hanya belum sampai di sana. Tapi harusnya memang sebelum sampai di fase itu, saya sudah berani mulai menyiapkan diri dari sekarang. Agar semakin memudahkan gerak kerja saya nanti. Bukan malah berdiam menunggu waktu itu tiba hehe.
Saya juga percaya bahwa tidak semua laki-laki mempermasalahkan apakah perempuan bisa masak atau tidak. Tidak semua suami menjadikan hal itu sebagai tuntutan utama dalam pernikahan. Dan saya berharap, kelak saya dipertemukan dengan laki-laki yang bisa melihat proses saya belajar memasak, bukan hanya hasil. Bukan laki-laki yang menuntut istrinya harus selalu bisa masak, harus selalu enak, dan harus selalu siap.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa saya belum bisa masak?”, tapi “kapan dan bagaimana saya mau belajar?”. Bulan depan gimana, Syin? Belajar masak mulai dari masakan kesukaan doi kali, yaa haha

















