Kepada langit Indonesia kutitipkan renjana, tapi yang jatuh justru hujan air mata; semoga luka bumi dan awanmu segera dijahit cahaya pagi.
seen from China
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from South Korea

seen from United States
seen from Germany

seen from Angola
seen from Vietnam

seen from Malaysia

seen from Thailand
seen from China

seen from Thailand
seen from Singapore
seen from Russia
seen from Israel

seen from Australia

seen from Germany
Kepada langit Indonesia kutitipkan renjana, tapi yang jatuh justru hujan air mata; semoga luka bumi dan awanmu segera dijahit cahaya pagi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Semoga Bukan Terakhir
Terlalu berprasangka buruk mereka bilang.
Memang. Setidaknya itu yang aku pelajari dari himpunan hijau hitam yang membawaku turun ke jalan. Harus melawan, kanda bilang. Telinga kita harus runcing mendengar tangis, mulut kita harus lantang menentang yang bengis.
Terlalu menggebu sebagian yang lain bilang.
Memang. Kata ayah, "biarkan apinya tetap menyala". Maksud ayah mungkin menyala dengan api sedang, tapi aku terlanjur menyiramnya dengan banyak patah dan kecewa. "Sebelum anginnya bertiup lebih kencang, sebelum hangatnya mulai melemah, sebelum sumbunya dicabut tak tersisa."
Aku sudah diperingatkan mantan temanku, "nanti juga kamu bakal malu sendiri". Aku memilih menjadi tuli. Jika aku keliru hari ini, memang apa salahnya tetap mencari sambil mengekspresikan diri? Jika aku keliru hari ini, memang apa salahnya jika di kemudian hari aku sudah lebih bijak dan mau tak mau menjilat ludah sendiri? Lagipula yang kujilat ludahku sendiri, bukan pantat oligarki apalagi zionis.
Jadi kubiarkan tetap menggebu, setidaknya sampai esok hari.
Ditemani lagu dua lipa dan stray kids, yang sesekali kuselipkan buruh tani dan ayat kursi, malam ini aku akan terjaga lagi hingga pagi. Mencurigai diri sendiri dan tirani, "besok masih mampu gak ya aku kayak ini?"
Boleh jadi esok aku sudah berubah.
Tak lagi meributkan hal yang 'tak penting', tak lagi melibatkan diri pada perdebatan penuh emosi, tak lagi 'sok-sokan' memikirkan negeri. Boleh jadi esok aku sudah berubah, menjadi lebih bijaksana, lebih adil, lebih realistis, lebih oportunis, atau menjelma persis seperti para abangda yang lebih dulu memilih untuk bungkam dan sunyi.
Jadi kubiarkan tetap menggebu, setidaknya sampai esok hari.
Sampai dipadamkan dengan paksa, entah oleh penguasa atau kepentingan perut dan ego yang meronta.
Ciputat, 24 Februari 2024
[Kutulis sebagai arsip, sebelum kelak idealismeku habis digerogoti realita]
“SESAL”
Sedih melihat negeriku yang merakit sakit
Merangkai luka demi luka dan akhirnya berduka
Menyekik kaum marjinal terpasung hingga sekarat
Demi jalur bebas hambatan yang kau anggap megah
Demi gedung-gedung kokoh yang kau anggap aset berharga
Demi kenyamanan para investor yang haus harta
Dan! Elektabilitas yang setara senjata
Kini kami sadar telah di dikte untuk melarat
Semuanya bukan karena kami yang memilih tersesat
Tapi sejak awal langkah kami telah disekat
Karena setiap gizi yang seharusnya kami peroleh kalian jadikan hasrat
DASAR BANGSAT!!!
Tikus berdasi yang seharusnya kasat
Menjadikan statistik sebagai siasat
Meski data yang kalian jual telah berkarat
Kalian akan menyesal
tekad kami telah bulat
Meski selongsong senjata kau tebarkan untuk membungkam
Perlawanan tak akan pernah mengkristal
Sejarah akan mencatat
Negara
Pelan-pelan
Dalam riuh rusuh mesin dan debu
Negara menanamkan benih-benih dendam
Pada anak-anak manusia
Pada anak-anak hewan
Pada anak-anak tumbuhan
Dendam
Siapa yang tidak?
Pendidikan dihabisi
Ruang-ruang dibuat mati
Dan harga diri diinjak berkali-kali
Aku kasian pada Negara
Bicara banyak tentang nasionalisme rakyatnya
Bicara tentang Pancasila
Bicara tentang Perekonomian
Bicara tentang Pembangunan
Tapi tak pernah benar-benar bicara
soal kemanusiaan
Aku juga kasian, kasian sekali
Pada alat-alat keamanan yang katanya mengayomi
Tapi justru seperti wayang mati
Tak punya hati
Menikam mereka yang melarat berkali-kali
Padahal harusnya mereka yang pertama kali melindungi
Hari ini, Yogyakarta sekali lagi
Jika setiapmu masih belum juga peduli
Esok bisa jadi giliran kita dihabisi
Huru-Hara
Huru-hara pemekik senja
Meramu usaha dari air mata jelata
Memecah buntunya rencana para pembikin prahara
-
Ayo bersanding lalu maju
Malu bersatu pangkal lambat melaju
Meski tak merangkak jangan berakhir congkak
Karena keangkuhan perwujudan perasaan membengkak
-
Wahai huru-hara pelawan sindikat
Usai menyala jangan menyerah
Karena ketika gelap mendekat
Segala arah akan jadi entah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
aku lebih suka dagelan (wiji thukul)
di radio aku mendengar berita
katanya partisipasi politik rakyat kita sangat
menggembirakan
tapi kudengar dari mulut seorang kawanku
dia diinterogasi dipanggil gurunya
karena ikut kampanye pdi
dan di kampungku ibu rt
tak mau menegur-sapa warganya
hanya karena ia golkar
ada juga yang bertengkar
padahal rumah mereka bersebelahan
penyebabnya hanya karena mereka berbeda tanda gambar
ada juga kontestan yang nyogok
tukang-tukang becak
akibatnya dalam kampanye banyak
yang mencak-mencak
di radio aku mendengar berita-berita
tapi aku muak karena isinya
kebohongan yang tak mengatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!
solo, 87
Beda Juang
Tatap aku! Beringas kau ancam padaku Rentetan panas ribuan peluru Takkan gentar tak jua ragu Aku maju menyongsong bidikmu
Dengar aku! Waktuku mungkin bisa terhabisi Namun, semangatku takkan terkebiri Menyebar luas ke penjuri bumi Bertumbuh laju melintas generasi
Namun kau! Beranak tidak butir pelurumu Kian detik berkurang kau pun tahu Susut berkurang bersama nyalimu Selongsong tersisa kosong beranimu
Hei kau! Beda juang kita di sini Jauh bagai langit dan bumi Perintah manusia yang kau ikuti Perintah Tuhan yang aku jalani
Diva Pramudhya, Pekanbaru, 30/03/2017 23.03 WIB
FEMINISME Pancasila mengemuka dalam Musyawarah Ibu Bangsa di Jakarta pada 22 Desember silam. Dalam Manifesto Ibu Bangsa 2025 Menuju Indon
FEMINISME Pancasila mengemuka dalam Musyawarah Ibu Bangsa di Jakarta pada 22 Desember silam.
Dalam Manifesto Ibu Bangsa 2025 Menuju Indonesia Emas Berkeadilan 2045 disebutkan Indonesia Emas bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, melainkan juga tentang keadilan, welas asih, dan keberlanjutan kehidupan.
Oleh karena itu, semangat Feminisme Pancasila diharapkan dapat menjadi dasar pergerakan bagi perempuan Indonesia. Istilah feminisme sendiri adalah cara berpikir yang masih belum banyak dikenal dan dipahami masyarakat.
Diperlukan upaya lebih lanjut, untuk mengenalkan feminisme secara utuh kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan timbulnya kesalahpahaman akan definisi feminisme yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai motif-motif tertentu.