Islamisasi Ilmu Pengetahuan mulai dari mana?
Islamisasi ilmu pengetahuan masih menjadi wacana utopis pemikiran islam. Apalagi untuk menjadikannya dalam bentuk sistem pada sebuah institusi pendidikan. Sedang mewujudkannya dalam satu individu saja sulit. Karena dalam tahap yang ditawarkan founder nya sendiri sangat berat. Yaitu seorang harus menguasai khazanah keilmuan islam dan khazanah keilmuan barat. "Menguasai" berbeda dengan "mengetahui". Menguasai berarti ilmu itu bertransformasi dari hanya sebuah kumpulan informasi menjadi sebuah kompetensi. Malakah bahasa arabnya.
Tapi, agaknya aku bisa membayangkan langkah-langkah konkrit yang dapat dilalui. Ini aku sadari setelah diskusi singkat dengan Abi sehabis makan malam.
Pembicaraan kita bermula dari obrolan seputar permasalahan yang sedang aku hadapi sebagai pembina asrama. Mulai dari permasalahan teknis hingga masalah sistem. Ketika membicarakan sistem sekolah islam di Sumatra Barat, abi mulai menyinggung bagaimana ide islamisasi pengetahuan itu (sebagaimana yang diamini banyak pemikir) adalah ide utopis. Karena penerapannya masih di permukaan seperti menambah ayat-ayat atau istilah-istilah arab dalam buku pelajaran. Atau di UIN sendiri masih hanya menambah jurusan umum. Sedangkan kurikulum pembelajaran jurusan agamanya sendri masih ala barat.
Aku mulai berhipotesa bahwa islamisasi ini punya harapan di negara timur tengah. Karena di Mesir misalnya banyak ilmuwan ilmu umum yang juga pakar agama. Diantara dokter bedah dan ketua asosiasi dokter bedah di Kairo, Prof. Yusril Jabr. Slain ahli bedah, beliau juga salah satu pengajar di Masjid Al-Azhar. Majelis fiqh, aqidah, tasawuf yang beliau ampu banyak dihadiri oleh para mahasiswa. Ada juga dr. Raghib As-Sirjani. Dokter bedah yang juga ahli sejarah islam. Buku-bukunya termasuk best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Di mesir, selain mereka berdua, banyak lagi arsitek, pilot, ahli fisika dan ilmu lain yang juga ahli dalam keilmuan islam. Belum lagi di negara lain seperti Arab Saudi, Al-Jazair, Qatar, dll.
Tentu pertanyaan pertama yang muncul melihat fakta ini adalah:
apakah ada tokoh serupa di Indonesia atau di Asia?
Jawabannya hampir tidak ada. Kita cuma temukan dokter yang kebetulan ustadz dan punya jadwal ceramah mingguan. Bukan seorang yang kompeten dalam salah satu keilmuan islam.
Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah:
kenapa?
Kita berkesimpulan penguasaan ilmu alat terutama Bahasa Arab. Akibat penguasaan Bahasa Arab yang lemah, maka akses kita terhadap sumber primer keilmuan islam juga menjadi lemah. Berbeda dengan orang-orang di Arab sana. Mereka tidak terlalu kesusahan untuk memahami buku-buku beraksara arab yang mana ilmu-ilmu islam ditulis dengannya. Setidaknya, sebagai native, mereka paham apa yang mereka baca 5 kali sehari semalam.
Sebagai seorang yang pernah menimba ilmu di Negri Kinanah, menemukan sopir angkutan umum berbicara tentang quran tidak menjadi pemandangan yang langka. Buktinya, sopir asrama kami dulu, hampir setiap pagi sambil menyetir, dia memurajah hafalan bersama mahasiswa dan tak jarang berceloteh tentang satu dua ayat quran. Di Mesir, terutama di Bulan Ramadan, melihat orang menangis ketika imam membaca ayat-ayat tertentu adalah suatu yang lumrah. Apalagi di 10 malam terakhir. Suara tangis jamaah saling sahut menyahut ketika Imam membaca doa qunut.
Percakapan makan malam kita berkesimpulan satu hal: proyek islamisasi pengetahuan bisa dimulai dengan satu langkah konkrit yaitu membumikan bahasa arab. Bahasa arab tidak boleh menjadi barang ekslusif santri. Ia harus menjadi konsumsi berbagai kalangan.
Dan ini menjadi tugas besar institusi pendidikan terutama Kampus islam. Jika wacana islamisasi ini tak ingin hanya menjadi wacana utopis, maka kampus-kampus islam di Indonesia terutama UIN harus menjadikan Bahasa Arab menjadi bahasa perkuliahan mereka. Bahasa pengantar jurusan keilmuan islam seperti Tafsir, hadis, fiqh, aqidah haruslah menggunakan bahasa arab. Otomatis kemampuan pasif dan aktif Bahasa Arab menjadi tahap seleksi utama calon mahasiswa.
Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif sudah melakukan ini. Universitas Darussalam Gontor juga. Kita ingin semua kampus yang membuka jurusan agama islam harus menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa perkuliahan mereka. Karena bahasa adalah pintu budaya dan pemikiran. Makanya salah satu kiat sekularisasi yang dilakukan Kamal Ataturk setelah menjatuhkan khalifah Turki Utsmani adalah dengan mengubah bahasa utama negara. Bahkan bahasa ritual agama seperti azan pun ia ubah menjadi Bahasa Turki. Ataturk sadar betul bahwa bahasa dan budaya seperti akar dan pohon. Mengganti bahasa adalah cara yang ampuh untuk memulai reformasi budaya Turki.
Ketika bahasa perkuliahan di kampus-kampus agama sudah berbahasa arab, maka para pelaku pendidikan akan "terpaksa" terpapar dengan sumber-sumber islami berbahasa arab . Pada awalnya, paparan terbatas di bahasa. Namun, jangka panjangnya mereka akan terpapar pemikirannya. Dan di sinilah inti dari islamisasi.
Lubuk Basung, 16 November 2025













