Memang. Setidaknya itu yang aku pelajari dari himpunan hijau hitam yang membawaku turun ke jalan. Harus melawan, kanda bilang. Telinga kita harus runcing mendengar tangis, mulut kita harus lantang menentang yang bengis.
Terlalu menggebu sebagian yang lain bilang.
Memang. Kata ayah, "biarkan apinya tetap menyala". Maksud ayah mungkin menyala dengan api sedang, tapi aku terlanjur menyiramnya dengan banyak patah dan kecewa. "Sebelum anginnya bertiup lebih kencang, sebelum hangatnya mulai melemah, sebelum sumbunya dicabut tak tersisa."
Aku sudah diperingatkan mantan temanku, "nanti juga kamu bakal malu sendiri". Aku memilih menjadi tuli. Jika aku keliru hari ini, memang apa salahnya tetap mencari sambil mengekspresikan diri? Jika aku keliru hari ini, memang apa salahnya jika di kemudian hari aku sudah lebih bijak dan mau tak mau menjilat ludah sendiri? Lagipula yang kujilat ludahku sendiri, bukan pantat oligarki apalagi zionis.
Jadi kubiarkan tetap menggebu, setidaknya sampai esok hari.
Ditemani lagu dua lipa dan stray kids, yang sesekali kuselipkan buruh tani dan ayat kursi, malam ini aku akan terjaga lagi hingga pagi. Mencurigai diri sendiri dan tirani, "besok masih mampu gak ya aku kayak ini?"
Boleh jadi esok aku sudah berubah.
Tak lagi meributkan hal yang 'tak penting', tak lagi melibatkan diri pada perdebatan penuh emosi, tak lagi 'sok-sokan' memikirkan negeri. Boleh jadi esok aku sudah berubah, menjadi lebih bijaksana, lebih adil, lebih realistis, lebih oportunis, atau menjelma persis seperti para abangda yang lebih dulu memilih untuk bungkam dan sunyi.
Jadi kubiarkan tetap menggebu, setidaknya sampai esok hari.
Sampai dipadamkan dengan paksa, entah oleh penguasa atau kepentingan perut dan ego yang meronta.
Ciputat, 24 Februari 2024
[Kutulis sebagai arsip, sebelum kelak idealismeku habis digerogoti realita]
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku pengen sharing dikit tentang materi penerjemahan tadi bersama ust. Hamim Thohir Musa, Lc
Beliau tamatan LIPIA, Jakarta. Karir penerjemahan beliau udah begitu luas dan profesional banget. Aku coba sebut seingatku:
- Pernah jadi penerjemah istana waktu zaman pak SBY
- Pernah jadi penerjemah mabes polri juga.
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Australia
- Pernah jadi penerjemah kedutaan Jerman juga
- Pernah jadi penerjemah Prof. Wahbah Az-Zuhaili di mahkamah pengadilan Indo.
- Pernah jadi penerjemah manual book Garuda Indonesia.
- Beliau juga sering jadi penerjemah di konferensi2 internasional. Salah satunya penerjemah untuk mantan menteri luar negri Alwi Shihab.
- Kalo terjemahan buku, dokumen, dan surat2 udah ga terhitung lagi kata beliau... Kwkw
- Beliau punya perusahaan terjemah sendiri namanya Pusat Penerjemah
Dunia terjemah profesional sendiri bisa dibagi jadi 3:
Pertama, Tulisan. Ini banyak bentuknya; dokumen, surat2, buku, surat kabar, dll.
Kedua, Lisan -langsung. Biasanya ini sering di konferensi2 internasional. Penerjemah menerjemahkan langsung apa yang dikatakan pembicara tanpa jeda. Para penerjemah di tempatkan di satu pos, kemudian suaranya akan sampai ke headset tiap2 peserta konferensi.
Kata beliau di samping bayaran nya mahal dan waktunya singkat sekitar 4 jam, tapi bagian ini sangat melelahkan. Karena penerjamah dipaksa terus mendengarkan, ngomong, fokus, tanpa jeda.
Dari beliau aku tahu gimana dunia profesional terjemah dan gimana tantangan2 yang sering dihadapi penerjemah. Di antara tantangannya:
- Deadline. Karena itu seorang penerjemah ga hanya baik saja, tapi harus cepat. Kata beliau seorang dikatakan penerjemah jika ia mampu menerjemahkan 20-30 lembar buku/hari.
- Unpaid. Ga dibayar dan dibayar ga selayaknya. Ini biasanya terjadi kalo baru-baru mulai. Atau ketemu klien y ga profesional (bisa jadi karena emng klien buruk atau karena kebetulan klien adalah kenalan penerjemah... kwkw)
- Bad client. Ustad Hamim cerita kalo dia pernah ngalamin ini waktu ada proyek sama salah satu negara teluk ( nama negaranya disensor). Beliau udah nerjemahin ratusan dokumen. Tapi waktu hasil terjemahan diserahin, klien ga mau bayar karena nemu satu kesalahan. Satu doang. Itupun bukan subtansial.
Penerjemah profesional seperti beliau gajinya bisa 50-100 jt sekali terjemah buku. Apalagi proyek terjemahnya dari pemerintahan dan kedutaan.
Terkait gaji penerjemah profesional, ada satu hal yang aku ingat dari beliau yaitu:
Gratisan bisa menzolimi orang.
Termasuk bidang profesional yang lain. Mungkin kita melihat pekerjaan seperti designer dengan pandangan remeh. Apalagi ketika mereka menawarkan harga yang menurut kita ga wajar.
"cuma duduk depan komputer doang sampe 10 jt!? "
Sebenarnya harga itu bukan hanya harga dia bergadang sampe subuh aja, tapi lebih-lebih harga itu untuk usahanya bertahun-tahun sampai dia berhasil jadi desaigner profesional.
Begitu juga penerjemah profesional. Jadi penerjemah itu ga gampang. Orang mungkin menganggap asal lulus kampus arab otomatis bisa jadi penerjemah. Mindset begini salah total.
Kalau semua lulusan kampus arab bisa jadi penerjmah, trus kenapa sampe sekarang penerjemah masih dikit?
Kata ust Hamim, sebelum jadi penerjemah profesional, beliau sempat kursus bahasa inggris. Beliau ngeluarin uang jutaan.
Di samping uang, juga waktu. Bayangkan aja gimana capek dan pusingnya nerjemahin 30 lembar sehari. Itu belum masuk tahap penelitian/analisa buku, identifikasi sumber, tahap penyuntingan, dll.
Nah, bayangkan kalo kita bayar profesional ga selayaknya. Atau kita minta gratisan (termasuk dengan alasan teman dekat misalnya). Ga kebayang gimana kita menzolimi si profesional tadi. Uangnya habis, waktunya terkuras, apalagi dia punya keluarga yang harus dinafkahi...
(Serius, teman yang minta gratisan mulu bukan teman namanya!)
Beliau sempat ditanya sejak kapan beliau berlatih terjemah. Beliau jawab sejak smp. Beliau dari smp baca Quran selalu liat artinya. Itu yang membuat skill terjemah beliau terlatih.
O iya, persis seperti beliau, sejak masuk SMP, aku mulai ngafal Quran pake arti. Sampai lima belas juz hafalanku. Karena memang ngafal pakai arti sangat membantu proses menghafal. Apalagi ayatnya adalah ayat cerita. Kalo kita paham ceritanya, kita bisa tahu apa ayat selanjutnya kalau di tengah ayat ternyata lupa.
Sebenarnya, dari gaya ngafal ini aku banyak dapat banyak manfaat. Kosa kata bahasa Arabku makin banyak. Aku gampang paham kaedah nahwu-sharaf. Aku bisa merangkai kalimat yang bagus ketika menerjemahkan kalimat berbahasa arab.
Makanya, aku sarankan bagi yang mau ngafal quran, trus paham bahasa arab walau dikit (waktu SMP kualitas bahasa arabku masih jauh), mulailah ngafal pake arti. Serius! Lebih gampang!
Selain ngafal quran pake arti, beliau juga terbiasa baca 3 buku sehari. Berarti paling dikit bacaan beliau 300 halaman per hari.
Jadi, sebenarnya di balik profesionalitas seorang dan juga bayaran yang tinggi, ada tetes keringat yang mengiringi. Ada usaha lebih yang mungkin tak dilakukan kebanyakan orang.
Pokoknya, hari ini aku beruntung hadir sharing session bersama beliau. Udah lama aku ga nemu orang yang bisa membakar lagi semangat-semangat yang sempat layu...
meromantisasi surga
bukan karena imbalannya yang dipuja-puja
namun karena idealnya
konsep ideal adanya di surga
bila ada,
buat yang percaya
meromantisasi surga adalah candu
dari nihilisme yang mulai merebak
dari keputusasaan yang merisak
dari ketidakadilan yang membiak
dari ketidaksempurnaan yang menggelegak
pemerannya?
ego tinggi yang merasa paling baik sendiri
playing victim yang merasa paling susah sendiri
atau empati yang terlalu tinggi
atau si perfeksionis yang mencari-cari
atau si pencari keabadian yang terobsesi
untuk motivasi
tak apa
untuk konsep kesempurnaan
tak apa
untuk mengurangi nafsu duniawi
tak apa
untuk mencari esensi
tak apa
tak apa
untuk menafikan dunia sama sekali
itu masalah
Mariah R. Nofa
2 Juli 2019
Hujan belum saja reda, rintiknya masih terus membasahi bumi. Yang akhir akhir ini, banyak di bicarakan oleh manusia. Tentang bencana yang belum usai, tentang debat capres cawapres rasa drama, tentang politik dan segala macam intriknya. Rasanya aku ingin menutup telinga, membenamkan semua pikiranku tentang masa depan, asa, cita, dan harapan. Sampai disini, lalu aku merenung panjang.
Tentang pilihan jurusan ini, ditengah kegamangan harus memilih judul tugas akhir apa, lalu sedang berjalan juga mengerjakan tugas tugas besar, melakukan kewajiban, dan memenuhi setiap janji juga pertemuan. Menjadi dewasa itu berat, kamu harus keluar dari kenyamanan, menjadi orang baru serta berubah lebih bijak, lelah kata batinku.
Aku bukan sedang ingin berhenti, aku bukan tipe orang yang mudah mundur dengan semua tantangan baru. Tapi aku butuh ruang, lalu ku pilih untuk menuangkannya siang ini, dengan headset berisi murottal di telinga, tenang kata hatiku. Ternyata, yang aku butuhkan bukan pindah jurusan atau mengikuti semua keinginanku yang tertunda, seperti menyelesaikan pesanan doodle, membuat video seru, mempelajari dunia seni, membuat puisi, tenggelam dalam sajak sajak, melihat senja, becengkrama dengan teman satu jurusan, jalan jauh ke tempat tinggi dan menyusuri setiap seluk beluknya. Bukankah itu menyenangkan keliatannya? Tapi bukan itu, yang ku butuhkan kini. Itu hanya keinginanku.
Dan pada saat yang tepat, Allah mengirimkan seseorang. Tidak pernah kenal sebelumnya. Tidak pernah tau, bahkan siapa dia aku juga tidak tau mana orangnya. Mba Dewi Nur Anjani, dengan tiba tiba datang menghubungiku saat itu. Ditengah kegamangan hati dan pikiran aku di tanyai banyak hal. Bagaimana kabar FISIP hari ini, kondisi hari ini, sudah sejauh mana kajian kajian keislaman di FISIP menyentuh kalangan awam? Aku tercengang dengan semua pertanyaan dan ceritanya.
“Kalian harus berhenti dek, berhenti berada di zona nyaman, yang kalian hadapi adalah orang orang yang beragam dan dari jaman mba 2007 itu memang FISIP terkenal sangar sangar mahasiswanya. Kalo dulu, orang yang mengidap LGBT itu malu kalau ketahuan temennya. Kalau sekarang gimana dek?”
“Sudah biasa mba, ya masih ada yang nyembunyiin sih. Tapi kayanya sudah jadi hal yang umum. Bukan aib“
“Nah makannya dek, tugas kita itu besar. Mereka itu kasian loh, mereka tersiksa sebenernya kaya gitu. Itu kan penyakit, kamu tau ngga?“
“Iya mba tau...“
Mba Dewi malam itu menamparku habis, dengan seluruh rentetan ceritanya. Tugas untuk menyebarkan kebaikan ternyata belum usai, dan ternyata bukan menyebarkan saja kali ini, tapi juga mengajak. Ya, menyentuh manusia manusia lain, merangkul untuk menenangkan, setidaknya mereka tidak terjerumus terlalu jauh.
“Mba dulu punya temen perempuan, tapi gayanya laki laki banget, bahkan sampe temen temen kita mau salaman sama dia. Terus mba cegah, mereka ga tau kalo itu perempuan saking miripnya.“
Aku termenung membayangkan.
“Bahkan mereka juga ikut kajian di masjid dek, ya tapi ga pake jilbab. Terus satu ruangan, kaget semua. Ngeliat dia“
Aku tersenyum, lalu berkata “MasyaAllah mba, keren. Mereka bisa tertarik gitu ya”
“Nah, itu lah tugas kita. Bukan hanya untuk satu dua orang lalu selesai. Bukan hanya share jarkoman lalu selesai. Tugas kita lebih dari itu dek, mereka bisa ikut karena nyaman, karena punya kepercayaan pada kita, karena merasa butuh“
Aku masih tidak habis pikir, kajian keislaman di datangi oleh mereka yang ingin benar benar tau tentang islam, bukankah itu indah? Menyentuh sisi jiwa dan emosi manusia melalui hal sehari hari. Tentunya atas berkah dan kesempatan dariNya, menggerakkan hati mba yang waktu itu belum tau tentang islam ke kajian, 12 tahun lalu.
Cerita Mba Dewi mengalir deras malam itu, seperti hujan siang ini. Aku menemukan banyak hikmah dan semangat baru. Betapa sempit selama ini cara pandang yang kita punya, masih melihat kebaikan dari satu sisi saja. Masih memandang segalanya secara parsial, lalu aku tertegun. Allah sudah memberiku charger kemarin lusa. Lantas apalagi yang masih kurang?
Di akhir pertemuan Mba Dewi berpesan, dek kontrakan ini harus di jaga ya. Mba baru tau, ada kontrakan bagus disini. Tempatnya nyaman dan kondusif, jauh dari keramaian beda sama di kerto kerto. Dan jangan lupa, jaga sholat malamnya, kalau perlu kalian buat piket gantian untuk membangunkan temannya.
Sebentar namun membekas, hanya semalam dan beberapa jam namun menghujam dalam hati. Mba Dewi yang kemarin lusa sebenarnya singgah ke Malang karena mengurus berkas berkas menuju keberangkatannya ke Polandia untuk melanjutkan S2, telah mengajarkan ilmu baru. Bahwa dari hal hal kecil, kita akan tumbuh. Dari nilai baik, seperti mengingatkan, mengajak, mendengarkan.
1. Pekerjaan Bisa Menjadi Ladang Pahala untuk Akhirat
Ini poin ideal pertama kali yang saya tekankan saat keluar dari bangku perkuliahan. Pengalaman dari menyelesaikan skripsi yang lebih dominan hanya memenuhi kewajiban, menjadi hal yang sangat disayangkan ketika waktu habis untuk urusan dunia. Salah saya juga yang kala ini belum bisa meniatkan skripsi sepenuhnya untuk ladang akhirat.
Apalagi saat ini saya sedang menjalani pelatihan dimana pergi jam 8 pulang jam 5. Saya mikir, "Kalau gue dapet pekerjaan yang cuma ngehasilin uang, banyak waktu yang sayang banget dihabiskan untuk urusan uang aja. Padahal setiap detiknya Allah kasih kita kesempatan untuk beramal."
Uang emang bisa dijadikan pahala kebaikan, ini akan saya bahas di poin ketiga. Tapi kalau kita masih bisa melebarkan sayap dalam ibadah bekerja, kenapa gak kita manfaatkan.
Saya ambil contoh pekerjaan Dokter yang bertugas mengobati orang sakit. Disamping dia mendapatkan penghasilan, setiap detik yang dia gunakan dalam menjalankan pekerjaannya menjadi pahala sendiri yang malaikat catat. Bayangkan, betapa banyak investasi akhirat yang ditanam Dokter ini.
Jadi, cari bagian mana dari pekerjaan kita yang bisa dihubungkan untuk akhirat. Akan selalu ada ketika kita meniatkan.
2. Bidang Pekerjaan merupakan Passion Kita
"Ikuti passion"
Sering banget kan, ya, motivator ngucapin hal ini. Ikuti passion, penghasilan akan mengikuti. Makanya banyak juga yang keluar dari pekerjaan dengan alasan "itu bukan passion saya".
Tapi untuk poin ini kembali lagi ke diri masing-masing. Ada orang yang gak terlalu mempermasalahkan hal ini dan ada orang yang sebaliknya.
Saya berusaha untuk menjadi orang sebaliknya, yang ingin meniatkan pekerjaan menjadi passion karena saya sudah pernah merasakan ngelakuin hal yang gak saya suka.
Pengalaman saat kuliah, di semester 1 sampai 5, saya masih belajar kesehatan masyarakat secara umum. Kebanyakan berkutat ke bidang epidemiologi, AKK, Gizi, Biostat yang bukan terlalu bidang saya. Lalu datanglah semester 6 dimana kita udah dibagi di peminatan yang kita pilih. Saya pilih kesehatan lingkungan, peminatan yang saya incer bahkan sebelum diterima di FKM Undip.
Kalian tau beda nuansa belajar yang dirasakan dari sebelum peminatan dan setelahnya ? Saya lebih semangat tau teori-teori yang diberikan Dosen. Bahkan bagaimana cara saya memandang PPT di kelas itu berbeda. Di semester 6, setiap kali saya memandangnya terasa lebih indah dibandingkan semester sebelumnya.
Ditambah lagi, pengalaman di luar bangku perkuliahan, mencoba bidang-bidang baru. Hasilnya, saya setengah-setengah ngejalanin bidang yang bukan passion atau mungkin terpaksa. Berbeda dibandingkan bidang kebalikannya, tidak ada keterpaksaan dan potensi diri yang saya punya lebih mudah keluar.
Dari sinilah saya tau, passion menjadi pendorong saya untuk semangat dan mengeluarkan lebih banyak potensi diri.
3. Mendapatkan Penghasilan
Ini gak diragukan lagi menjadi sebab musabab orang mencari pekerjaan. Biar ga minta uang lagi sama orang tua buat kita yang baru lulus. Penghasilan buat bantu ekonomi orang tua. Penghasilan buat menafkahi anak dan istri. Disamping itu semua, ini lebih dari itu. Dengan punya penghasilan sendiri berarti kita sudah selesai dengan urusan diri sendiri. Apalagi kita yang mengabdikan diri untuk umat.
"Kita harus selesai sama diri kita sendiri."
Ini salah satu nasihat dari kakak tingkat yang saya pegang sampai saat ini. Juga jadi salah satu motivasi selesai mengerjakan skripsi saat itu.
Saya ambil contoh orang yang kurang berkecukupan ekonominya. Kenapa mereka tingkat pendidikannya rendah ? Karena mereka belum selesai dengan urusan perut mereka.
Tidak bisa dipungkiri untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, kita harus selesai dengan tingkat dibawahnya. Ketika kita selesai sama diri sendiri, kita akan lebih mudah untuk lebih fokus mengurus umat. Lebih fokus. Bukan berarti tidak bisa mengurus umat ketika belum selesai dengan urusan diri sendiri. Kefokusan itu insyaa Allah menambah keproduktifan kita bermanfaat bagi umat.
Kita juga sebagai umat islam, jangan pernah alergi untuk mendapat penghasilan sebanyak-banyaknya di dunia ini. Salah satu pengusaha di sebuat training menjadi inspirasi saya kala itu ketika dia memiliki visi untuk membuka cabang restaurannya 1000 tempat di seluruh Indonesia. Alasannya adalah agar dia bisa sedekah lebih banyak dari sedekah yang dikeluarkan dia saat ini.
Kalau kita menelisik sejarah para sahabat, kebanyakan dari mereka adalah pengusaha sukses yang hampir bahkan seluruh hartanya mereka waqafkan untuk dakwah. Abu Bakar yang kita tau sedekahnya tidak terkalahkan, bahkan oleh Umar. Utsman bin Affan, pengusaha, yang terkenal menjadi pemasok pundi-pundi kebutuhan dakwah Rasulullah dalam berperang. Gak jauh-jauh dari kehidupan Rasulullah, istrinya sendiri, Khadijah pun pengusaha yang menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan dakwah Rasulullah dengan hartanya hingga meninggal dalam keadaan miskin.
Inilah yang kita bisa lakukan dari hasil pekerjaan yang kita lakukan. Bukan sekedar memenuhi kewajiban menafkahi namun menjadi ladang sedekah untuk kehidupan selanjutnya.
Jujur, memegang poin-poin ini gak mudah. Kalau kata seseorang, idealisme kita akan diuji nantinya. Inilah fakta yang saya rasakan. Dari mulai pertanyaan orang-orang udah kerja atau belum. Ngeliat teman lain udah kerja. Lowongan kerjaan sedikit yang sesuai sama 3 poin ini. Belum lagi persaingan yang sangat ketat, 1 pekerjaan bisa diperebutkan ratusan orang.
Ingat, idealisme kita sedang diuji. Yang selalu saya berusaha ingatkan ke diri saya, bersabarlah. Akan ada keindahan setelah kesabaran yang kita lakukan. Allah selalu tau kok perjuangan kita selama ini.
Selain itu, yang saya bayangkan ketika saya stuck sama 1 pekerjaan, minimal setahun. Pertama, berpengaruh sama semangat bekerja. Kedua, sayang waktunya karena ketika kita menganggur pun, kita masih bisa mencoba ilmu baru ataupun menuntaskan hafalan yang gak selesai-selesai (saya malu sama ini). Ketiga, sekalinya stuck sama sesuatu, sulit untuk lepas. Ibaratnya kamu udah ngikutin arus sungai X, untuk beralih ke arus sungai lain, butuh usaha keras untuk mendayung ke sebelahnya. Ibaratnya lagi, dibidang X kita udah lumayan jauh dari garis start, ketika kita memulai bidang Y, otomatis kita mulai dari garis start lagi.
Disamping itu semua,
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Entah itu terlambat memulai pekerjaan diawal, atau terlambat memulai karir baru di bidang lain. Pada akhirnya, kita akan bilang, "Thanks for being late."
Tetapi daripada terlambat, semoga kita menjadi orang yang tepat dalam memulainya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tak ada yang berani menjawab. Hanya tatap mata kakaknya pada Ibunya yang diam. Tak berani mengiyakan, tak bisa menjanjikan.
"Kakak, aku ingin lanjut sekolah ya?" tanyanya lagi.
Kali ini lebih tegas, lebih keras. Kakaknya diam. Ia telah terlalu banyak mengalah; tak lagi melanjutkan pendidikannya sekadar agar adiknya memiliki kesempatan lebih. Namun semua tak semudah yang dikira. Ya, memang tak ada yang mudah di dunia ini bukan?
"Aku akan cari beasiswa!" ucapnya mantap.
Seolah membaca keheningan diantara mereka. Seolah ingin menjawab kegundahan Kakak dan Ibunya.
"Tapi bagaimana untuk hidup sehari - harimu nanti?" sang Ibu bersuara.
Sang anak diam. Hening. Jauh dilubuk hatinya masih percaya, pada idealismenya yang dibangun tinggi. Namun ia tahu, bahwa mimpinya terlalu tinggi. Terlalu jauh dari realita yang dihadapinya kini.
Hening. Dalam hatinya berbisik, hanya Allah yang dapat membantunya, meski ia pun hampir patah hati.
Blitar, 20 Januari 2018
Stella maris
Terinspirasi dari pemandangan sekilas saat jalan - jalan bersama keluarga hari ini
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, nyatanya pemuda zaman sekarang tidak sadar akan hal itu. Demi uang idealismenya dijual untuk partai atau kubu tertentu, demi kenikmatan semu idealismenya diberikan cuma - cuma karna terbuai. Kawanku, ketika beberapa idealisme yang berbeda disatukan, tidak semudah membalikan telapak tangan. Bertukar fikiran adalah cara menempa idealisme agar selaras.
Aku selalu suka terjebak hujan. Hari ini juga aku terjebak hujan yang sangat panjang. Terjebak hujan kali ini mengajari aku banyak hal tentang hidup. Pelajaran yang tidak bisa kita ambil di dunia sekolah.
Hari ini, aku dan kedua karibku terjebak hujan di rumah guru les bahasa inggris, lebih tepatnya adalah relawan jasa bahasa inggris gratis setiap hari minggu. Hujan yang dingin membuat suasana pembicaraan semakin bertambah hangat. Pembicaraannya cukup berat tapi masih disesuaikan untuk anak SMA.
Satu hal yang membuat aku terkesan dalam pembicaraan adalah masalah idealisme dan organisasi di dunia kampus, apalagi kami hendak melanjutkan ke dunia kampus setelah sekolah. Satu kisah dari guruku adalah lebih baik memiliki teman sedikit dan menentang kecurangan, berani jujur hingga titik darah penghabisan disaat semua orang curang, dan bertanya serta berpikir yang kritis.
Terkadang Allah membuat sebuah kejadian-kejadian yang tidak pernah kita pikirkan. Kejadian luar biasa yang datang saat hujan. Karena sekolah sesungguhnya adalah sekolah kehidupan, dan salah satunya mata pelajarannya adalah pendewasaan. 😊😊😊
*semoga Allah mempertemukan kita dengan orang-orang baik dan mengajari kita untuk lebih baik.