Belajar Untuk Bersiap dengan Kehilangan
Kehilangan adalah suatu kondisi dimana individu berpisah dari sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. Rasanya? Berat. Pasti berat. Siapa sih yang suka dengan kehilangan? Aku pikir ga ada seorangpun yang menginginkan kehilangan. Padahal pada dasarnya semua yang ada di bumi ini adalah sementara. Ga ada yang abadi. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan.Â
Menyadari bahwa semua hanya sementara menjadi awal belajar untuk bersiap dengan kehilangan. Setelah menyadari, barulah tahap selanjutnya adalah menerima. Menerima kenyataan yang terjadi dengan hati yang lapang. Susah? Banget. Ga mudah memang. I know how it feels. It hurts.Â
Dulu pernah ada orang-orang yang sempat singgah di hati. Belum sempat menetap memang, hanya singgah. Meski hanya singgah bukan berarti tidak ada rasa sakit atas kehilangan. Rasanya sama. Sama-sama menyakitkan. Dari yang terbiasa bersama, melihat, mendengar, bertukar kabar, berbagi cerita, ato apapun itu, menjadi tidak biasa sendiri. Rasanya hanya kekosongan. Ada ruang yang kosong di hati yang tak berpenghuni karena ditinggal paksa oleh penghuninya. Jika mengingat hal itu, rasanya butuh waktu cukup lama untuk memulihkan hatiku. Hey, move on itu sulit. Di awal-awal proses, keinget dikit bawaannya mau nangis. Udah cukup nangis-nangisnya, setelah itu mulai bisa kalem. Udah mulai bisa senyum dan ketawa. Ternyata ga bertahan lama. Keinget lagi, nangis lagi. The stages are back and forth. Capek. Asli. Rasanya pengen skip aja. Tapi gabisa. Mau gamau tetep harus nglewatin. Harus bisa dan yakin bisa. Dan satu lagi, harus mampu bersahabat dengan waktu. Time is your friend, while speed is your enemy. Time can help. Time heals. At least for me. Setelah berjalannya waktu, hatiku mulai tenang dan ga mudah terprofokasi oleh pikiran sendiri. Kalo flashback mengingat masa lalu, rasanya bangga juga pada diri sendiri. Bangga karena berhasil melewati semua ini dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Kedamaian hati yang terusik, perubahan suasana hati yang memburuk, aktifitas sehari-hari yang terganggu juga terkena dampak karena peristiwa kehilangan itu. Pelajaran yang amat mahal harganya. Pelajaran hidup yang langka karena ga semua orang mendapatkannya. Aku bersyukur telah sukses melewatinya meskipun dengan susah payah. Aku bangga pada diriku. Aku berterima kasih pada diriku karena sudah kuat.Â
Kali ini aku berjanji pada diriku bahwa aku senantiasa akan mengambil pelajaran dari masa laluku dan menerapkannya ke dalam kisahku di masa sekarang maupun masa depan. Yaitu dengan penerimaan. Menerima apapun yang akan terjadi dengan hati yang lapang. Bukankah hidup tidak hanya berisi kebahagiaan, kesenangan, keindahan, keberuntungan, dan segala hal yang indah-indah? Selain hal-hal positif, ada hal-hal yang tidak menyenangkan. Kesedihan, patah hati, kesialan, kehilangan, dan segala hal yang negatif juga eksis di dunia ini. Itulah keseimbangan hidup.Â
Semoga dengan belajar untuk bersiap dengan segala kemungkinan terburuk mampu membantu diri untuk menghadapi kenyataan yang terjadi. Sehingga akan lebih mudah melakukan penerimaan. Penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain, takdir, dan keadaan yang ada. Ikhlas... :)
the 18th of June, 2020 | 11:42 PM



















