Menerima bukan hanya sekedar mengatakan “ya, saya menerima kenyataan ini” atau “ya, saya memaafkan dia” tapi masih terasa sakit ketika mengucapkannya. Masih merasakaan kekecewaan di dada. Menerima berarti juga menerima dirimu sendiri sehingga mampu berdamai dengan diri. Berdamai dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan maupun sesuatu yang menyakitkan.
Belajar menerima berarti mau belajar memahami bahwa di dunia ini ada hal yang dapat kita ubah dan ada hal yang memang tidak dapat kita ubah. Contoh hal yang sulit atau bahkan tidak bisa kita ubah misalnya persepsi orang lain terhadap kita, pendapat orang lain, masa lalu, ataupun hal-hal terjadi di luar kuasa kita. Dan hal-hal yang dapat kita ubah adalah hal-hal seperti bagaimana respon kita dalam menghadapi sesuatu.
Maka: Ya Allah, Tuhan kami, berikan kami keikhlasan untuk dapat menerima hal yang tidak dapat kami ubah, keberanian untuk dapat mengubah hal yang bisa kami ubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya.
karena bagaimanapun kita manusia, punya keterbatasan, termasuk keterbatasan terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.
Belajar menerima apa adanya termasuk pikiran, perasaan, atau memori. Untuk dapat menerima, langkah pertama adalah menyadarinya.
Karena, bagaimana mau kita terima atau apa yang akan kita terima jika kita sendiri tidak menyadari hal-hal apa saja yang sedang terjadi pada diri kita?
Kita dapat mulai dengan menyadari apa yang dirasakan dan mengakuinya. Menyadari bahwa kita mungkin saat itu kecewa, marah, sedih, bahkan sakit hati. Setelah itu terimalah perasaan-perasaan tersebut. Menangis bila merasa kecewa ataupun sedih. Katakan dan akui bahwa “ya aku kecewa dengannya” atau “aku merasa sangat sedih dengan kenyataan ini”. Terima emosi-emosi apapun yang kita rasakan, baik bahagia maupun sedih.
Belajar menerima juga berarti belajar hidup di masa kini, bukan masa lalu. Jangan biarkan diri kita tersesat di dalam pikiran-pikiran masa lalu. Menyadari tentang apa yang terjadi saat ini, menyadari apa yang sedang dikerjakan, apa yang sedang dirasakan. Masa lalu mungkin menyakitkan atau meninggalkan luka. Tapi karena masa lalulah kita menjadi kita yang sekarang. Masa lalu mungkin akan meninggalkan kenangan, kamu dapat memilih ingin melupakan atau tetap mengenangnya.
Belajar menerima, ia berarti mendorong kita untuk fokus berpikir positif. Ketika kecewa, pikiran negatif lebih mendominasi, nah coba mulai tanyakan pada diri sendiri “apa sisi positif ketika ekspektasiku tidak sejalan dengan kenyataan?” Kenapa berpikir positif itu penting? Karena dari pikiran, it can either make or break us. Dari pikiran kita sendiri yang nantinya akan membangun kita atau bahkan menghancurkan diri kita sendiri.
Belajar menerima yakni belajar memaafkan. Terkadang kita harus memaafkan orang-orang yang bahkan tidak merasa bersalah. Atau terkadang kita harus menerima permintaan maaf yang bahkan tidak pernah disampaikan pada kita. Maafkan mereka yang membuatmu kecewa.
And the most important thing is that we also have to learn to forgive ourselves
Memaafkan bukan hanya sekedar membuat yang bersalah merasa lega, tapi lebih jauh dari itu, karena diri kita berhak atas kedamaian.
Bukan berarti kita tidak boleh berekspektasi atau menanam harapan, tetapi mari siapkan juga ruang kompromi di dalam diri sehingga ketika ekspektasi tidak sesuai, maka diri kita mau belajar berkompromi dengan kenyataan. Caranya ada banyak, salah satunya dengan dapat menyusun rencana jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Menerima itu seperti memutuskan bahwa kita tidak akan lagi mengkhawatirkan hal-hal yang di luar kontrol kita, namun fokus pada hal-hal yang dapat kita kontrol.
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku (Umar bin Khattab) ”