Sepotong kalimat untuk kamu yang masih setia di hati
Dari sekian banyak cara untuk bisa memperjuangkanmu lagi, aku memilih berhenti. Bukan. Bukan karena rasaku telah hilang, melainkan aku memikirkan bahwa masih banyak hal yang lebih pantas untuk ku perjuangkan daripada kamu β seperti nilai sekolahku yang makin hari makin hancur, misalnya. Entahlah, aku hanya berpikir bahwa kembali memperjuangkanmu adalah suatu pilihan yang salah, maka dari itu aku memilih mundur dari semua tawaran-tawaran menggoda untuk bisa mendapatkan hatimu, lagi.
Jika boleh jujur, hatiku masih milikmu. Kamu masih menjadi satu-satunya lelaki yang keberadaannya benar-benar ku tunggu. Namamu masih memenuhi pikiranku. Aku tidak ingin munafik, sampai sekarang aku masih sering mencari keberadaanmu diantara lelaki lainnya. Aku selalu tersenyum setiap melihat mu tertawa.
Terlepas dari segala keputusanku untuk berhenti memperjuangkanmu, memperhatikanmu dari jauh itu sungguh menyenangkan, aku seperti menemukan kebahagiaan tersendiri saat melihat mu tertawa karena lelucon receh teman-temanmu. Biarlah ini menjadi rahasiaku saja.
Sungguh, sebenarnya aku menaruh begitu banyak harap bahwa aku dan kamu akan menjadi kita suatu saat nanti, tetapi biarlah itu tetap menjadi kepingan-kepingan harapan yang akan terus kusimpan di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Biarlah itu menjadi bukti bahwa kamu pernah menjadi lelaki paling berpengaruh dalam hidupku. Demi menghormati pilihanku untuk tidak memperjuangkanmu lagi, aku akhirnya mengubur segala kenangan yang telah kita lalui bersama.
Aku menghargai keputusanmu dulu untuk tidak ingin bersamaku, mungkin begini memang lebih baik. Terimakasih sudah mau memberi sendikit-banyak warna dalam hidupku. Terimakasih karena kamu pernah membiarkanku singgah di pikiranmu, walau tidak di hatimu.
β Malika (via sajakluka)