#RamadhanInspirasi “Tiga Rumus Kebahagiaan”
Dalam muqaddimah kitabnya yang terkenal Al-Wabilus Soyyib, Imam Ibnul Qoyyim Al Jauzi menerangkan 3 sikap seorang hamba yang musti dikedepankan, bila ingin menggapai kunci kebahagiaan.
Kata beliau, “Idza an’ama ‘alayhi syakaro, wa idzab taliya sabaro, wa idza adznaba istaghfaro.”
Tiga rumus inilah tanda kebahagiaan seorang hamba.
Yang pertama, bila ia diberi kenikmatan, karunia, hal-hal yang baik, maka sikap ia adalah bersyukur. Bila mendapatkan nilai yang baik, keterima di Perguruan Tinggi, dimudahkan dalam mengerjakan skripsi, dan segala karunia lain, bersyukurlah.
Kata beliau, ada tiga langkah dalam bersyukur. Satu, kita mengakui bahwa itu semua datang dari Allah, sehingga kita tidak sombong dan jumawa. Kedua, kita mengucapkan rasa syukur itu dengan lisan kita, sehingga kebaikan itu semakin bertambah. Dan yang ketiga, segala kenikmatan itu kita gunakan untuk lebih taat dan lebih baik lagi.
Keterimanya kita untuk studi lanjut, keterimanya kita di pekerjaan bagus, dan sebagainya, seharusnya membuat kita lebih taat dan lebih baik lagi, itulah bukti kita mensyukuri nikmat. Memaksimalkan karunia dengan melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi.
Yang kedua, tanda kebahagiaan adalah bila kita ditempa musibah, ujian, maupun kesulitan, kita bersabar atasnya. Berat dan tidak mudah. Ditinggal wafat orang tua yang kita cintai, gagal masuk ke Perguruan Tinggi impian, dan cobaan kehidupan lainnya. Saya tahu ini klasik, tapi memang nasihat untuk mereka yang mendapatkan ujian, musibah, maupun cobaan adalah bersabar.
Tidak ada yang lebih indah dari bersabar dan yakin bahwa semua ini kecintaan Allah pada kita. Sabar menuntun kita untuk menahan hati agar tidak marah pada takdir Allah, menahan lisan agar tidak memaki ketentuan Allah, dan menahan anggota tubuh untuk tidak menyakiti diri.
Imam Ali radiyallahu’anhu punya nasihat untuk kita, kata beliau, “Two things define you: your patience when you have nothing, and your attitude when you have anything.”
Dua hal yang akan menjelaskan siapa kita, kesabaran kita saat kita tidak memiliki apapun atau mendapatkan apa yang kita mau, dan sikap kita saat kita memiliki semuanya, atau mendapatkan yang kita mau Bersabarlah ketika mendapatkan ujian dan bersyukurlah ketika diberi kenikmatan.
Kunci kebahagiaan yang ketiga, bila kemudian kita tergelincir, melakukan salah, bermaksiat, tidak melakukan kewajiban, beristighfarlah. Bersegera memohon ampun dan bertaubat.
Setiap dari kita pasti melakukan salah, setiap dari kita pernah tergelincir, berbuat maksiat, dan melalaikan kewajiban. Segera beristighfar dan tutupi itu dengan melakukan kebaikan.
Selamat berpuasa, Sahabat. Jangan lupa bersyukur, bersabar, dan senantiasa beristighfar! Jangan lupa bahagia, karena itulah esensi Ramadhan kita :)