Menulis Buku Kehidupan
Hidup adalah buku yang Allah amanahkan kepada kita untuk diisi dengan tulisan-tulisan kebaikan. Ia juga adalah kanvas yang Allah hadirkan untuk dilukis dengan warna-warni cerita. Dalam buku kehidupan, entah sudah berapa banyak tulisan yang kita pijaki maknanya. Dalam kanvas kehidupan, entah sudah berapa banyak lukisan yang kita eja keindahannya.
Beberapa memuat perjuangan, warna cerah kebahagiaan, terkadang juga kesedihan. Kalau kertas dan kanvas kita yang telah lalu, bagaimana?
Semua tentu tahu, bahwa Allah telah menuliskan takdir mungkin jauh hari sebelum hadirnya diri di dunia. Jangankan mengintip apa takdir itu, menebak-nebaknya saja kita tak mampu. Namun, Allah juga memberikan hak kepada kita untuk melukis kanvas itu. Akan menjadi manusia bahagia kah kita? Atau manusia yang diliputi gundah gulana? Menangis dan tersenyum, itu pilihan kita juga kan?
Saya ingin mengisi buku itu dengan tinta-tinta kebaikan. Entah lewat mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan, atau keinginan-keinginan random yang jumlahnya banyak :D. Mereka seringkali tiba-tiba lewat di kepala, dapat datang dan pergi secara tak pasti. Yang pasti, mimpi dan keinginan itu harus dimulai dari aktivitas-aktivitas “baik”.
Namun, “yang baik” saja ternyata tak cukup. Beberapa waktu lalu saya diingatkan, sesuatu yang baik akan nol jika tak kita hidupkan dengan nyawa. Maksudnya, tidak mengalir saja seperti air disungai, dapat kita arahkan arusnya. MINDFUL. Mungkin teman-teman lebih sering mendengar kata itu.
/mind•ful/
berhati-hati; sadar; yang memperhatikan.
Mindful masih menjadi PR besar bagi saya. Living the moment, menghidupi masa kini (sesuatu yang sedang dilakukan). Terdengar mudah, namun manusia sering tanpa sedar tak memberikan nyawa pada aktivitasnya. Kak Fathimah Shobrina suatu hari menyampaikan...
We are human (Be)ing. Not human (Do)ing. Kalau beraktivitas lalu, “Yang penting terkerjakan. Yang penting nyuci piring, yang penting sholat dhuha, yang penting target baca Quran dan buku tercapai. Yang penting done..” Then we are started to be human doing, mulai kehilangan makna dengan apa-apa yang sedang dikerjakan. Karena tadi, kita tidak menjiwainya, tidak hadir, tidak sadar.
Semoga Allah pekakan hati kita, all senses kita, agar bisa lebih hadir, menikmati, memaknai, mensyukuri, tiap apa yang dikerjakan, tiap apa-apa yang terjadi dalam kehidupan. Aamiin.
Mimpi dan keinginan yang ingin kita tulis itu, pasti Allah sudah tahu. Namun satu, “Ya Allah... Apapun itu yang tertulis di sana, mampukan kami untuk lebih sadar menjalani dan menujunya. Selipkan hikmah dan pelajaran dari apapun yang menjadi ridlo-Mu untuk kehidupan kami. Aamiin.”
----------------------------- DIY, 14/01/2023 | 23:39 WIB














