10 Hari Berbagi Cerita dan Pikiran
Day 5: Tentang Beragama dan Menjadi Manusia
Seri 10 Hari Berbagi Cerita dan Pikiran ini sesungguhnya saya peruntukkan bagi pikiran dan cerita yang personal, membahas diri sendiri, dan berputar pada diri sendiri. Saya awalnya tidak berniat membahas topik yang besar atau menyangkut orang lain, apalagi negara.
Tetapi, saya sedang patah hati. Menggunakan "sedang" rasanya tidak terlalu tepat karena level patah hati saya ada di constant peak melihat negara dan pengelolaannya. Namun akhir-akhir ini, patah hati saya bertemu momentum. Terlalu banyak hal yang menyakitkan dari menjadi manusia yang hidup di tanah Indonesia. Tanah yang kaya, yang subur, yang digelari zamrud katulistiwa.
Tanah yang masyarakatnya secara kolektif selalu masuk daftar teratas paling dermawan. Yang menempati daftar 10 besar negara dengan indeks relijius tertinggi di dunia. Yang ideologi negaranya dimulai dengan pengakuan terhadap ke-Esa-an Tuhan.
Untuk sebuah negara yang dibangun berdasar atas nama Tuhan, untuk sebuah negara yang dihuni oleh orang-orang yang mengaku beragama, negara ini membawa terlalu banyak patah hati.
Beragama, bagi saya, adalah aspek identitas yang paling mulia dari eksistensi seorang manusia. Masalah di zaman ini adalah banyak manusia yang mengaku beragama tanpa memahami hakikat beragama.
Saya dulu pernah menonton sebuah film dokumenter tentang Islam. Salah satu narasumber di sana adalah Imam Besar Al-Azhar. Ada kalimat beliau yang sangat berkesan, tentang metode mempersepsikan Tuhan dalam Islam.
Beliau menyampaikan bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Besar dan Maha Mulia, tidak dapat, tidak cukup, dan tidak pantas untuk dideskripsikan melalui medium apapun. Namun, bukan berarti mempersepsikan keberadaan Tuhan menjadi sulit. Sebaliknya, sangat mudah, karena Tuhan ada dalam setiap keindahan dan setiap kebaikan.
Tuhan ada dalam nilai dan moral, dalam pengelolaan yang baik dan bertanggung jawab terhadap bumi dan segala sumber daya di dalamnya, dalam kemanusiaan yang beretika dan berempati, dalam integritas untuk melawan segala bentuk ancaman terhadap fungsi manusia di muka bumi.
Beragama berarti mampu mempersepsikan Tuhan. Mampu mengidentifikasi tujuan keberadaan. Mampu menegakkan prinsip dan hakikat. Mampu memenuhi fungsi dan tugas.
Mengimani Tuhan berarti menjalani hidup sebagaimana seharusnya. Bermoral, bermartabat, bertanggung jawab, bermanfaat.
Ada yang salah dengan konsep dan pemahaman beragama kita jika itu tidak menjadikan kita semakin dekat pada Tuhan.
Jika pengakuan bertuhan dan beragama tidak membawa pada integritas untuk menjaga prinsip kemanusiaan diri sendiri dan memenuhi hak kemanusiaan orang lain, tidak membawa pada sense of responsibility untuk menjaga bumi dan sumber penghidupan yang sudah diwariskan kepada kita, apalah artinya bertuhan dan beragama.
Entitas yang begitu mulia ini sangat tidak pantas direduksi hanya pada pelaksanaan ritual dan pemenuhan kewajiban ibadah dasar, lalu sesukanya bahkan apatis terhadap kasih sayang dan kebaikan hati pada sesama makhluk, terhadap fungsi dan etika sosial, terhadap kejujuran dan etos kerja, terhadap dunia dan lingkungan, terhadap segala bentuk pelanggaran, terhadap normalisasi kedzaliman.
Hakikat beragama menurut saya harus lebih dari sekadar personal piety, ketaatan pribadi. Terlalu banyak orang yang berfokus pada aspek ritual personal piety namun menghamba pada ego. Banyak pula yang terjebak dalam kenyamanan status quo, membatasi jarak pandang dan bahan berpikir hanya dalam ruang pribadinya. Bagi saya itu adalah kegagalan spiritual. Pengkhianatan terhadap esensi kemanusiaan dan esensi beragama itu sendiri.
Beragama merupakan konsep yang jauh lebih holistik dengan aplikasi yang komprehensif. Agama hadir sebagai rambu-rambu bagi manusia untuk memaksimalkan potensi dirinya dan menjaga hakikat kemanusiaannya.
Menurut saya, hakikat menjadi manusia adalah tentang perayaan kebermanfaatan dari eksistensi diri ini di bumi Allah.
Memang betul, konsep dan ide tentang menjadi manusia sering terasa jauh dari jangkauan. Memang betul, kita hanyalah manusia biasa yang kemampuannya terbatas pada hal-hal yang biasa.
Kita tidak akan menjadi sosok yang memberikan solusi pada konflik geopolitik. Tidak akan menciptakan falsafah dan sistem ekonomi baru yang membebaskan dari kapitalisme kroni dan penjahat keuangan. Tidak akan menjadi pahlawan lingkungan yang menghentikan masifnya aksi perusakan oleh pemegang kekuasaan. Tidak akan pula memimpin revolusi di negara ini untuk mengentaskan segala bentuk ketidakadilan.
Kita memang manusia kecil dalam alur kehidupan yang normal. Setitik dan tak lebih.
Tetapi kita punya kemampuan untuk secara maksimal, sebagai manusia biasa, merenungi ulang hakikat bertuhan, beragama, dan menjadi manusia, lalu mengaplikasikan hasil renungan itu dengan berbenah diri, mulai dari diri sendiri.
Kita sangat punya kemampuan untuk membawa sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya kebaikan dalam dunia kecil kita.
Kita punya kemampuan untuk menjadi entitas yang membawa energi positif. Yang tidak menormalisasi mengambil lebih dari haknya dalam hal sekecil apapun. Yang memanfaatkan kemampuan berpikirnya untuk mengamati dinamika sosial, politik, ekonomi, dan penegakan hukum di lingkungannya. Yang secara konstan selalu berusaha untuk menjaga adab, berbaik hati, dan menjadi kebaikan bagi sesamanya dan lingkungannya.
Kita sangat sanggup untuk memulai kebaikan-kebaikan dalam skala paling kecil, dimulai dari diri kita terhadap orang dan lingkungan terdekat kita.
Pilihannya ada pada kita. Mau menjadi manusia yang bagaimana. Mau beragama yang bagaimana.
*Ditulis dalam keterbatasan ilmu dan kedangkalan pengetahuan, namun dengan sepenuhnya cinta dan doa paling tulus, semoga kita semua dimampukan untuk menjadi "manusia".