Assalamu’alaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh,
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ (مَرَّتَيْنِ)، وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، اَلصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’ (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada aroma minyak kesturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala karenanya dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”
“MasyaAllah banget, ya. Deadline tugas tinggal besok.”
“Besok terakhir masuk?” Sejenak, Afi menatapku aneh, “Ya iyalah, masih aja tanya.”
Tinggal sehari waktu yang dimiliki untuk menyelesaikan tumpukan tugas: Teks Eksposisi Bahasa Inggris (remidial), cerpen dan membuat soal Bahasa Indonesia, ecobrick prakarya (masih kurang satu botol), latihan soal matematika (80 soal turunan), cerpen Bahasa Jawa, PR event masjid, dan...artikel blog untuk rohis sekolah (sudah nunggak hampir satu minggu). Aku prihatin sendiri dengan diriku—yang sedari kemarin sangat lamban menyelesaikan tugas. “Makanya jangan tidur terus,” Salma berkomentar saat aku mencurhatinya soal tugasku yang belum rampung-rampung.
Kuputuskan untuk menyentuh PR artikel untuk blog rohis sekolah. Sejujurnya, aku sangat suka menulis, tapi berhubung ini artikel tentang keutamaan Ramadhan (yang intinya dakwah), tentu saja bukan perkara mudah untukku. Setelah semalam tertidur setelah mengaji, paginya aku terbangun sendiri. Pukul 03.30, masih ada waktu untuk Qiyamul Lail dan mencari referensi untuk artikel.
Mengawali hari dengan qiyamul lail (hanya 4 rakaat tahajjud, 3 rakaat witir)—sebuah aktivitas yang aku harap dapat menjadi kebutuhan bagiku. Kulanjutkan dengan membuka mesin pencarian.
“Alhamdulillah, koneksinya lancar. Untung nggak mati lampu,” aku bergumam sendiri, berusaha menghilangkan kesunyian pagi.
“Seorang petani memiliki 12 bidang tanah...”
‘Eh, kenapa malah ada petani? Padahal aku nyarinya tentang Ramadhan.’ Aku bergumam dalam hati—kali ini tidak kuucapkan lisan. Alhasil, si penulis website membuatku penasaran juga untuk mampir, melihat, ‘Apa, sih, isi artikelnya?’ Maka, kubuka website itu, beserta beberapa artikel lain.
Aku terkagum-kagum sendiri saat menyadari analogi yang dibuat si penulis. Seorang petani memiliki 12 bidang tanah. Dari hasil penelitian, bidang tanah yang ke 9 (sembilan) sangat subur, apabila diolah atau ditanami dengan apa saja maka akan berlipat ganda hasilnya, kalau dibandingkan dengan bidang tanah yang lain. Maka, kalau petani itu tidak mau mengolah tanah pada bidang yang nomor sembilan secara optimal, tentu petani itu seorang yang bodoh, seorang yang membuang kesempatan untuk mendapat keuntungan yang berlipat ganda.
Sebelum membaca kelanjutannya, aku sudah menyadari penafsiran analogi ini: Ramadhan. Aku tersentak sendiri saat membaca analogi ini, .....seorang yang bodoh (apabila tidak memanfaatkan). Aku melakukan baca-memindai untuk artikel-artikel yang lain. Belum sempat menyelesaikan bacaan artikel terakhir, adzan Subuh berkumandang. Dengan setengah berat hati, kutunda dulu pekerjaan rumahku ini—nanti usai Subuh saja.
Pukul 05.00. Tinggal maksimal satu setengah jam sebelum melaju kendaraan ke sekolah, berarti setengah jam mengerjakan artikel blog. Usai Subuh berjamaan di masjid, kubuka aplikasi ketikku: segera buat artikel.
Keutamaan Bulan Ramadhan dan puasanya:
1. Bulan tarbiyah untuk mencapai taqwa
Saat bulan Ramadhan, umat muslim berpuasa dengan tujuan utama mencapai ketaqwaan, sebagaimana pada Al-Baqarah: 183 :
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
2. Bulan diturunkannya Al-Qur’an
Dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa—umat muslim melaksanakan puasa fardhu selama 30 hari di dalamnya—adalah karena pada bulan inilah diturunkan Al-Qur’an. Sebagaimana pujian yang Allah berikan dalam Al-Baqarah: 185 :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”
3. Bulan dilipat gandakannya amal shaleh
Hal ini sebagaimana dalam khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sa`ban yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :
"Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaung. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan.”
4. Bulan dengan awalan rahmat, ampunan sebagai tengahnya, ampunan dosa sebagai akhirnya
"Apabila masuk bulan Ramadhan dibuka pintu rahmat (kasih sayang) dan ditutup pintu jahanam dan setan-setan dibelenggu.” (HR Ahmad)
Sementara beberapa keutamaan puasa Ramadhannya sendiri antara lain:
1. Puasa merupakan metode yang mantap untuk melakukan perubahan
Maksud perubahan di sini adalah perubahan diri ke arah yang lebih baik (menurut pandangan islam), atau identik dengan istilah “hijrah”. Di saat puasa, seorang muslim—apabila menginginkan kesempurnaan puasa, maka diwajibkan untuk menahan diri dari hawa nafsu buruknya, juga dari perbuatan tercela dan keji dalam pandangan Allah. Ghibah, berkata kotor dan kasar, berkhalwat, riba, mendengarkan musik—adalah beberapa aktivitas yang tidak seharusnya dilakukan seorang muslim, terutama saat berpuasa. Sebaliknya, akan terbentuk akhlak mulia dari puasa yang dilakukan.
2. Puasa memperkuat keinginan
Keinginan yang dimaksud di sini adalah keinginan untuk menang atas diri sendiri dan menjadi seseorang, atau sebuah umat yang besar. Misalkan saja jika umat muslim menginginkan kejayaannya kembali, maka seluruh umat muslim harus saling bahu membahu secara berjama’ah memerangi kemungkaran, melawan hawa nafsu, sehingga umat muslim dapat memerangi segala bentuk kebathilan. Dengan berpuasa, yang seluruh umat muslim InsyaAllah menahan diri dari lapar, haus, dan nafsu syahwat, maka secara bersama umat islam telah berlatih menguatkan benteng dari segala kebathilan.
3. Puasa merupakan salah satu wujud dari kesatuan umat Islam
Seperti yang disinggung sebelumnya, puasa merupakan awal dari kesatuan umat muslim. Baik yang kaya, miskin, laki-laki, perempuan, anak-anak, semuanya sama-sama berpuasa saat Ramadhan. Sama-sama merasa lapar, memohon ampunan pada Allah, semuanya serba sama-sama menuju keridhaan Allah, InsyaAllah. Dengan kesatuan ini, tentu diharapkan umat muslim menjadi umat yang kuat.
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku.”
4. Puasa memiliki pengaruh besar bagi kesehatan secara umum
Dengan puasa, tubuh mengistirahatkan pencernaan, membersihkan perut dari sisa-sia makanan yang tidak dapat dicerna, serta mengurangi lemak perut yang berbahaya bagi kesehatan jantung. Puasa juga membuat tubuh terkonsentrasi melakukan toksinasi (pembersihan racun) dalam tubuh. Dari sini, didapatilah kesehatan fisik dari puasa. Puasa juga memberikan kesehatan rohani, di mana kita semakin mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan menghindarkan diri dari nafsu syahwat.
Jujur, aku merasa malu saat menulis artikel tentang Ramadhan. Malu karena belum mempersiapkan apa pun untuk Ramadhan (termasuk uang untuk sedekah dan infaq), juga dengan kesempurnaan puasa yang kupaparkan sendiri pada tulisan itu.
“Makanya, jadilah seseorang yang waktu puasa datang, dia tinggal sepenuhnya, dan berkesan untukmu. Ramadhan itu bulan yang baik, diterusin di bulan-bulan berikutnya,” aku merasa tertohok sendiri saat mengingat kata-kata mentorku. Semoga.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Penyusun : Takmir SAI Delayota
Line: @ehx1000a
Instagram: rohisdelayota
Twitter: saidelayota
Tumblr: saidelayota.tumblr.com
YouTube: Rohis Delayota