“Sudah? Sudah selesai keluh kesahnya? Sampai kapan? Kalau pun kau mati, mereka cukup cari Pengganti. Bertahanlah, ada orang-orang di sana yang menunggumu untuk sekadar kata Pulang”
—Rutinitas & Isi Kulkas
.
.
#6
Stranger Things
we're not kids anymore.
Jules of Nature
taylor price
trying on a metaphor
Cosmic Funnies
Cosimo Galluzzi
Monterey Bay Aquarium

tannertan36
he wasn't even looking at me and he found me
cherry valley forever

祝日 / Permanent Vacation
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
wallacepolsom

roma★

Kiana Khansmith
Not today Justin
Sweet Seals For You, Always
🪼

seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from New Zealand
@ruangkara
“Sudah? Sudah selesai keluh kesahnya? Sampai kapan? Kalau pun kau mati, mereka cukup cari Pengganti. Bertahanlah, ada orang-orang di sana yang menunggumu untuk sekadar kata Pulang”
—Rutinitas & Isi Kulkas
.
.
#6

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Mas, segera ke kantor sekalian bawa perlengkapan. Sore ini Mas ke Lokasi Banjir. Lebaran di sana. Mas kan masih muda dan belum berkeluarga, Tak apa kan?”
—Rutinitas & Isi Kulkas
.
.
#5
“Besok lusa Lebaran Adha tiba. Sekadar info saja Teman mu merayakan dengan Istrinya, Orang-orang kantor bersama keluarganya, dan Kamu? Tenang, siapa tahu bungkusan rendang sampai padamu, siapa tahu”
—Rutinitas & Isi Kulkas
.
.
#4
“Jam menunjukkan pukul 12.30 siang dan kau masih berada di bangku mu? Apa yang kuharapkan? Tiba-tiba nasi kotak turun menghampiri mu?”
—Rutinitas & Isi Kulkas
.
.
#3
“Hei pemuda lajang apakah kau tak bosan membuka tutup pintu kulkas setiap kau pulang. Padahal kau tahu kan malam ini kau makan di luar lagi”
—Rutinitas & Isi Kulkas
#2

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Aku terkejut bagaimana orang lain dengan mudahnya menemukan jalan pulang, ketika diriku masih berkutat dengan hal yang itu-itu saja, menyebalkan"
—Rutinitas & Isi Kulkas
#1
02.28 wit.
Rapalan terakhir sebelum tidur:
Kepikiran setelah Lebaran nanti, apa akan jadi lebih baik atau sebaliknya. Apa akan jadi lebih mudah atau sebaliknya. Apa akan jadi lebih normal atau sebaliknya. Apa akan jadi lebih sehat atau sebaliknya. Apa akan tetap hidup atau sebaliknya.
Semoga tidak apa-apa 🌻
01.37 wit.
Rapalan terakhir sebelum tidur:
Ku buka pintu kamar tidur.
Terlihat tumpukan harap dan mimpi berantakan di atas kasur.
Aku lupa kapan terakhir kali menatanya.
Dan sekarang, aku juga lupa cara mencapainya.
Dalam kalut, ku putuskan untuk tidur.
Istirahat lah angan 🌻
01.19 wit.
Rapalan terakhir sebelum tidur:
Tuhan, dalam tidurku nanti ijinkanku untuk bersua dengan keluarga, meskipun sebentar aku mohon. Setidaknya sedikit membantuku mengikhlaskan bahwa 1 tahun tak temu hanyalah sebuah angka
Lekas sembuh Bumi, Lekas membaik Dunia. 🌻
Rapalan terakhir sebelum tidur:
Tuhan, dari ribuan kemungkinan hal buruk. Sandingkan lah kami dengan jutaan hal-hal baik.
Panjang umur untuk semua hal-hal baik.
Amin.
🌻

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
[Surat Tersirat] Eps.02 Embun
[Surat Tersirat] . . Teruntuk Suami ku,
Nahkoda dari kapal bernama Kita.
Sembilan bulan telah berlalu dari hari pernikahan kita, iya aku dan kamu sudah sah menjadi sepasang pengantin. Susah senang mu menjadi milik ku juga, Susah ku? biar aku pikir-pikir dulu ya, mungkin kamu bisa menyicilnya hehe. Terlalu egois? mungkin, aku hanya tak mau menjadi beban mu. Beban yang tak seberapa dibandingkan beban yang kamu tanggung selama ini, sebagai anak sulung, sebagai tulang punggung, dan sebagai budak korporat yang sering kau ceritakan pada ku di setiap malam, di waktu mata mulai terpejam.
Kita masih muda waktu kamu memberanikan diri menemui Bapak untuk memiliki aku seutuhnya dalam sebuah ikatan yang lebih sakral, sebuah pernikahan. Di umur ku yang masih 24 tahun dan dirimu yang baru saja menginjak angka 25, kita memutuskan untuk menikah, haru dan bahagia mengiringi langkahku menjadi Istrimu dan kamu menjadi Suamiku.
Sayang, kamu pernah bilang pada ku, "Bila suatu saat kau menjadi istri ku, maukah kau terima aku apa adanya?, dengan masa lalu ku, keluargaku, dan pekerjaanku?", dan aku iya kan hal itu. Aku telah berdamai dengan masa lalu mu, sebagai pengguna dan pengedar obat-obatan terlarang di umur mu yang masih belasan. Bahkan aku sangat kagum dengan keberanianmu menceritakan masa lalu mu pada Bapak yang notabene Pesiunan Militer. Meskipun kamu tahu raut wajah Bapak tidak bisa berbohong seakan ingin mengatakan "Benarkah ini calon mantu ku?". Tapi kamu berhasil menyakinkan Bapak bahwa kamu adalah calon suami terbaik untuk anak bungsunya ini. Entah rapalan apa yang kau ucapkan, bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya kamu mampu menaklukan sifat keras Bapak. Aku curiga kamu menggunakan pelet hehe.
Sembilan Bulan kita tlah menjadi keluarga paling bahagia di Angkasa raya (self disclaimer), Iya Sembilan Bulan sudah. Dan aku mulai Bosan. Hey, sayang kau baik-baik saja kan?. Aku tahu kamu pasti terkejut membacanya, tapi aku harus jujur. Aku benar-benar bosan. Bukan bosan kepada mu, tenang sayang. Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghujani kita. Tentang Kapan punya momongan lah? tentang kapan beli rumah lah? sepertinya urusan pribadi kita juga jadi urusan mereka. Segabut itukah mereka?. Atau kita sebenarnya pasangan artis ya? kalaupun benar, aku pasti menolaknya. Aku hanya ingin hidup tenang bersama mu.
Dan Sembilan Bulan sudah kita menjalin hubungan jarak jauh, aku di Kota YK, kamu di Belahan Timur Negeri. Banyak orang pesimis dengan hubungan ini, jarak bukanlah opsi, tapi sekali lagi kamu berhasil menyakinkan ku. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku sempat khawatir karena keegoan untuk menyelesaikan Gelar S2, malah memperburuk situasi kita. Dulu, sebelum menikah aku pernah bilang kepadamu, 'Sayang bila setelah menikah kamu ingin membawa ku berlayar ke Timur sana, dan meminta ku untuk meninggalkan study ku, aku akan menerimanya'. Sekarang kamu Imam ku, kamu adalah Nahkoda kemana kapal ini akan berlayar bukan? Jadi bimbinglah aku menjadi Istri paling paripurna di Matamu, Hatimu, dan Ridho-Nya.
Bicara soal hubungan jarak jauh, aku sebenarnya sangat khawatir. Khawatir rasa rindu yang ku tabung keping demi keping berubah perlahan jadi rasa curiga yang aku sendiri tak tahu kenapa. Apalagi celtukan orang-orang yang semakin membuatku tak tenang. Serapuh itukah rindu? aku hanya tak mau rindu yang harus tuntas dengan temu berubah menjadi kecurigaan yang mengarah. Tolong yakin kan aku. Dan, untuk kesekian kalinya kamu berhasil. Sayang, sepertinya aku sudah benar-benar terpelet oleh mu, kamu pakai dukun mana sih? jujur? semua ragu ku seketika hancur seketika tiap kali kau berbicara. Kesel. Jadi pengen peluk.
Sayang, kamu tahukan akhir April ini, dua hari lagi aku akan resmi meraih gelar S2 ku? Mungkin saat membaca tulisan ini kamu sudah ada di Bandara menunggu Pesawat yang akan menjemput mu pulang. Aku sudah mempersiapkan pakaian mu untuk wisuda ku nanti, dan juga Tiket Bulan Madu kita. Kedua. Malu untuk mengatakannya. Aku Rindu.
Soal Dedek Bayi, aku pikir-pikir lagi, aku sudah siap seutuhnya. Waktu awal pernikahan kita, kamu bilang kita tunda dulu punya momongan, agar tak mengganggu proses study ku. Dan jujur aku harus berterimakasih, karena waktu itu aku belum benar-benar siap. Tapi sepertinya sekarang kita harus menuntaskan Honey Moon kita. Setuntas-tuntasnya dan sesempurna-sempurnanya. Jadikan aku wanita seutuhnya di Matamu, Hatimu, dan Ridho-Nya.
Hmmm... Bagaimana mengatakannya ya? hmm...perlukah kita melakukan 'role play'? atau perlukah aku memakai kostum? Aww... jadi malu kan. Sayang, sepertinya kamu harus segera pulang. Istri mu ini sudah tak tahan lagi menghirup aroma tubuhmu. Membelai wajah mu, tidur dalam peluk mu, bahkan rindu pada tahi lalat yang ada di belakang telinga sebelah kanan mu itu. Rindu ternyata bisa segila ini.
Setelah ini aku siap kamu bawa berlayar ke entah berantah bersamamu. Kamu adalah Nahkoda Kapal bernama 'Kita' ini kemana akan berlayar. Hmmm... Bagaimana kalau kita mewujudkan mimpi keliling Indonesia? Mimpi-mimpi yang selalu kamu ceritakan dulu.Tapi mimpi sepeti itu pasti banyak yang harus dikorbankan. Bukan, bukannya aku tak percaya kita bisa meraihnya, hanya saja aku takut kehilangan ruang dan waktu.
Jadi bicara kemana-mana kan, padahal aku cuma ingin menyampaikan rindu. Tapi tak mengapa, biar kita tuntaskan Rindu ini dengan temu terlebih dahulu, untuk mimpi-mimpi lainnya kita cicil satu per satu.
-Dari Wanita yang kamu pilih untuk berlayar dengan mu. 27/04/2017 ....
Pesan ini disampaikan ulang oleh Ridwan kepada Istrinya Ismi di ruang kecil di salah satu sudut Kantor Pengadilan Agama YK. Seketika haru membiru memenuhi ruangan berukuran 3 x 4 meter yang hanya diisi mereka berdua. Air Mata Ridwan tak kuasa dia bendung, dia rindu hangatnya sebuah pelukan dari mimpi paling sempurnanya. Tanpa ia sadari, langkahnya memperpendek jarak, dipeluknya tubuh mungil yang paling ia rindukan, 3 bulan ia memendam rindu dan baru sekarang ia bisa bertemu meskipun ditempat yang paling tak pernah terpikirkan di hidupnya. Sebuah pelukan menghangatkan hatinya yang akhir-akhir ini mulai membeku, dalam benaknya 'Ya Tuhan, aku mohon hentikanlah Sang waktu saat ini juga'.
Pelukan Ridwan pun berbalas, Ismi istrinya juga tak kuasa menahan rindu. Rindu yang selalu ia sangkalnya, rindu yang selalu ia tolaknya, rindu yang akhir-akhir ini selalu menghantui setiap langkahnya. Air matanya pun mengalir deras membasahi pipi, meluncur bebas ke bahu orang yang selalu menopang mimpi-mimpi. Kemudian sebuah pertanyaan muncul dibenaknya "Apakah langkah yang aku ambil ini salah?". 'Ya Tuhan, aku mohon hentikanlah Sang waktu saat ini juga'.
"Ismi istri ku, wanita terhebat dalam hidupku setelah sosok ibu. Mungkin Tuhan sudah menuliskan jalan hidup kita seperti ini, cobaan demi cobaan berhasil kita lalu bersama, dan saat ini kita dihadapkan tembok tinggi yang entah puncaknya setinggi apa. Tapi aku percaya, bersama mu kita pasti bisa melewati semua itu. Meskipun harus jatuh bangun mendakinya percayalah, aku akan selalu menarik mu sampai kita berhasil melewati dinding ini. Aku tak akan marah kepada keputusan yang kamu buat, aku tahu sungguh berat memutuskan hal sebesar itu. Maaf, disaat-saat masa susahmu aku tak berada di samping mu, menjadi sandaran segala keluh kesah mu seperti yang aku janjikan dulu. Sekali lagi Maaf".
"Sayang, ijinkan aku tetap memanggil mu seperti itu, entah nanti keputusan mu berubah atau tidak, aku tak akan memaksa. Percayalah aku kan tetap ada disini sebagai rumah yang setia menunggu mu pulang nanti".
"Dan sekali lagi, aku mohon tetaplah bersama ku, ada ribuan mimpi-mimpi kita yang belum berhasil kita singgahi. Meskipun dengan kondisi sekarang, secara medis kamu dinyatakan tak bisa punya keturunan, percayalah aku tak ingin kamu pergi".
"Pegang erat tangan ku, mari kita lewati semua ini. Aku percaya kita bisa selama kita bersama".
"Ya Tuhan, aku mohon hentikanlah Sang waktu saat ini juga".
Sebuah kecupan lembut hinggap di bibir Ismi, kecupan kecil yang mampu memporandakan isi hatinya, seiringan dengan seorang petugas yang memberitahu waktu sidang segera dimulai via speaker kecil di pojok ruangan.
Hatinya berbisik.
"Terimakasih atas kebahagian yang kau tebar, benih itu akan selalu tumbuh menjulang". 22/11/2019 ....
[Surat Tersirat] Eps.01 Pergiku Kali Ini Bukan Sebuah Pelarian
Teruntuk;
Bapak, Ibu, dan Ading Adnan.
Aku minta maaf.
Untuk tidak menjadi anak yang penurut, anak yang berbakti selayaknya yang diharapkan orang tua pada umumnya. Untuk selalu membangkang dan memilih jalan hidup nya sendiri.Untuk menjadi relawan di Ujung Negeri berbulan-bulan tanpa memberi kabar.
Dulu, menjelajah negeri ini hanyalah sebuah khayal yang tak mungkin aku genggam. Sebagai seorang anak buruh pabrik yang serba kekurangan sepertinya mimpi ku yang satu itu terlalu mudah dipatahkan kehidupan. Hidup sudah terlalu kejam bukan?.
Iya, Hidup terlalu kejam untuk kita. Masih terbayang di mata ku, sepulang sekolah waktu itu. Kerumunan memadati rumah kita yang sederhana, orang-orang asing memakai seragam yang sama.Terhentak detak jantung ku, hanya satu kata yang terucap. BAPAK.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ku, aku menangis untuk Bapak. Wajah yang penuh luka, mata kiri yang lebam mengungu. Dan mata kanan Bapak yang tak terlihat lagi hitam nya. Yang ku lihat hanyalah darah menutup selaput mata kanan Bapak.
Di tengah ketidakberdayaan, Bapak masih sempat meneriakan kata "LAWAN!", satu terikan yang membangkitkan semangat kawan-kawan seperjuangan. Aku yang waktu itu masih SMA tak mengerti apa yang kalian maksudkan, tapi aku paham yang Bapak perjuangkan. Keadilan.
Selepas dari rumah sakit, Ibu memberi tahu ku keadaan Bapak. "Bapak mu buta nak" satu kalimat yang meruntuhkan ego ku sebagai anak lelaki tertua. Ibu menangis memeluk ku dan Ading Adnan. Dalam peluknya, aku menangis sejadi-jadinya. Bu, kenapa hidup terlalu kejam untuk kita?.
Kata Dokter, Mata kanan Bapak mengalami kebutaan akibat gangguan saraf mata. Bisa disembuhkan, tapi perlu biaya yang tak murah. Jaminan kesehatan dari Pabrik pun tak seberapa, ditambah biaya hidup keluarga dan aku yang akan beranjak meninggalkan bangku SMA. Bapak memilih untuk buta. Sebuah pilihan yang tak pernah ku maafkan.
Lagi-lagi keadaan ekonomi membuat kita harus memilih. Dan sekali lagi kita tak berdaya dengan kekuasaan dan uang. Bapak dengan Keadilan Hak Buruh nya, aku dengan kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang sirna. Ya aku telah Berbohong.
Berbohong tentang Olimpiade yang sering aku bicara kan. "Aku Lolos" kalimat yang ingin sekali aku sampaikan namun tertahan dengan keadaan. Karena aku tahu, kita tak akan mampu membayar biaya pendaftaran dan transportasi, parahnya lagi pihak sekolah tak mau membantu ku memperjuangkannya. Benar, saat itu aku lolos ke Jakarta.
Runtuh sudah semua mimpi, di saat hari kelulusan aku memutuskan untuk bermimpi sewajarnya. Setelah ini aku akan cari kerja, kerja apa saja asal dapat duit, jadi tak perlu khawatir besok kita makan apa. Realita tetaplah realita, Mimpi tetaplah sekedar mimpi. Aku menyerah. Pak, Hidup memang jahat.
Enam tahun berlalu dan sekarang aku ada di sini, Salah satu Rumah Sakit terbesar di kota S*******a. Rumah sakit yang membuat Bapak memilih buta atau keluarga. Berkat doa dan usaha Bapak-Ibu, aku menjadi Dokter di tempat ini. Entah keajaiban apa yang sedang terjadi, Hidup punya sihirnya sendiri.
Kata-kata Bapak yang selalu ku ingat, "Nak, kalau kamu menyerah ingat mata kanan Bapak ini, Bapak tak menyerah memperjuangkan apa yang Bapak anggap benar, meskipun sebagai gantinya Mata kanan Bapak Buta. Kerjalah mimpi mu, Bapak dan Ibu akan membantu mu. Tak usah pedulikan uang, uang bisa dicari, Tapi mimpi mu?.
Nak, Jangan seperti Bapak yang menyerah pada mimpi-mimpinya.
Tak perlu aku ingatkan bagaimana Bapak dan Ibu memperjuangkan mimpi ku. Entahlah, apakah ini yang dinamakan manusia hidup di garis waktunya masing-masing. Bak sebuah mimpi, aku mendapatkan beasiswa di salah satu PTN di selatan Pulau Jawa. Keajaiban? entahlah sekali lagi.
Dan roda berputar, hidup tak membiarkan kita tenang-tenang saja. Disaat kondisi ekonomi keluarga mulai membaik, hubungan ku dengan Bapak tak baik-baik saja. Enam bulan yang lalu Bapak marah besar pada ku, marah yang tak pernah aku lihat sebelum nya.
Pergaulan mengubah hidup ku, sebagai seorang Dokter harusnya aku menjaga perilaku ku. Tapi aku terbawa arus, aku sering mabuk, clubbing, main perempuan dan semua hal tabu lain nya. Dan malam itu aku pulang dalam kondisi mabuk semabuk-mabuknya. Aku bukan lagi manusia kata Bapak. "Bapak Kecewa" satu kalimat yang membuat diriku merasa tenggelam dalam rasa bersalah.
Hari-hari selanjutnya keadaan rumah tak kunjung membaik, semua terlihat normal kecuali aku dan Bapak. Kita masih sama-sama diam, tak saling berbicara, bertatap muka pun tidak. Ego sebagai lelaki membuat ku enggan memulai dulu, aku memilih untuk diam. Semakin lama rasa bersalah seakan menggrogotiku perlahan-lahan.
Hingga suatu saat ada tawaran untuk menjadi Dokter Relawan di Ujung Negri, aku menyetujuinya. Entah ini keinginan ku atau hanya upaya ku untuk tak bertemu ayah. Aku melarikan diri, Dasar Pengecut. Tepat di malam akhir Bulan Juli aku meninggalkan Rumah, diam-diam. Hanya Ibu dan Ading Adnan aku berpamitan. Bapak? aku tak berani.
Lima bulan berlalu, aku telah berkelana menyusuri sepertiga daerah tertinggal Negeri ini.Tanpa bingar-bingar perkotaan, kehidupan malam, dan semua hal yang biasa aku dapatkan. Sebuah pengalaman hidup yang ingin aku bagikan kepada Ibu, Adnan, dan..... Bapak. Aku Rindu.
Selama pelarian ku sesekali aku menelpon Ibu, maklum di tempat terpencil sinyal sangatlah susah bahkan nyaris tidak ada. Jadi maaf kan anak mu ini yang jarang memberi kabar. Sekalinya bisa, hanya untuk beberapa menit sebelum jaringan tiba-tiba hilang. Terkadang aku juga menanyakan kabar Bapak. Pembelaan ku.
Di awal Februari akhirnya tugas ku usai. Aku akan kembali ke Kota S*******a, kembali ke rumah, kembali ke pelukan Ibu dan dekapan Bapak. Anak mu pulang, anak mu telah menang melawan ego nya sendiri. Dan, anak mu sudah memberanikan diri meminta maaf pada mu, Bapak. Aku menyesal.
Di tengah Kapal yang membawa aku pulang, aku sudah mempersiapkan cerita-cerita apa yang aku bagikan ke kalian. Bagaimana aku naik kapal untuk pertama kali, cerita saat kami hampir tenggelam, cerita saat pertama kalinya aku mencoba durian (ternyata durian tak seburuk yang aku bayangkan bu).
Cerita untuk pertama kalinya kami membantu Babi melahirkan, cerita saat kami menembus badai untuk menyelamatkan warga, cerita saat kami kehabisan obat dan terpaksa menggunakan obat-obat herbal dari alam, cerita saat aku belajar Bajubi, dan bagaimana aku menangis karena ucapan terimakasih dari anak yang aku selamatkan.
Sekarang aku tahu mimpi-mimpi ku.
Aku ingin bencerita lebih banyak, tapi apa daya negara memanggilku. Tiga hari setelah pulang, tugas memaksaku untuk ke Ibukota. Maafkan anak mu ini Pak,Buk.
...
Hapir sebulan berperang melawan tamu tak diundang, akhirnya aku tumbang juga. Bukan keinginanku untuk tumbang disituasi yang pandemi seperti ini, aku hanya ingin menolong lebih banyak lagi. Sekarang aku paham kata-kata Bapak, ini lah mimpi ku yang sebenarnya. Bukan menjadi apa, tapi seberapa bergunanya aku untuk manusia lainnya.
Aku ingin bisa bertahan, tapi hidup sepertinya tidak mengijinkan. Waktu ku sudah sampai di garis akhir. Tamu itu telah masuk ke tubuhku dan tanpa ku sadari ada penyakit ginjal yang memperburuk keadaan. Aku tak sanggup lagi melawan.
Maafkan anak mu ini, yang belum bisa berbakti tapi harus pergi lagi. Kepergianku ini bukan sebuah pelarian seperti dulu, tapi karena waktu telah memanggil ku. Dan aku tak akan pernah kembali. Maaf dan Terimakasih. Aku sayang kalian.
....
Pesan:
Pesan khusus untuk Ading Adnan, Jangan seperti abang mu ini. Aku titipkan Bapak dan Ibu ke Ading, Maafkan abang harus melimpahkan beban ini untuk Ading. Maafkan abang yang tak bisa datang ke acara wisuda mu bulan depan.
Jangan suka membantah perintah Ibu, jangan suka begadang main game, jangan suka habisin duit buat benerin motor. Kalau nanti ada program Dokter Relawan coba lah ikut. Aku menitipkan pesan untuk adik ku ini di Kepala Desa Pulau ***.
"Lima atau Enam Tahun lagi ada seorang Dokter Muda bernama Adnan Sy***f akan datang ke Pulau ini untuk mengambil kado ulang tahunnya".
-Surat ini diterima keluarga, 3 Jam setelah Dr.xxxxx dinyatakan meninggal.
Nah gara-gara foto ini semakin yakin kalo bakat gw memang di dunia model sabun batangan 😏
.
.
.
Ayo kapan kita kemana?
#SAMBAT Eps.01 Rumah Baru
Sekitar empat bulan yg lalu saya pindah ke rumah baru ini, lebih tepatnya dipindahkan. Padahal saya masih nyaman dengan rumah lama & berharap bisa tinggal disana untuk waktu yang lama.
Meskipun masih terbilang satu kompleks perumahan, tapi bentuk dan warnanya saja sudah beda. Sewaktu masih tinggal di rumah lama saya bahkan tak pernah berpikiran macam-macam tentang rumah baru ini, tapi setelah oknum-oknum yang tinggal disini kalah maen petak umpet, malah saya jadikan bahan guyonan.
"Wah gak rapi sih maennya, mampus" dan apa yg terjadi sekarang? Saya tinggal di rumah baru ini sekarang sampai kapan tidak ada yg tau. Terpaksa? Iya, harus ku akui ada rasa kecewa yg terasa sangat. Padahal dari awal naksir nya ke rumah lama, setidaknya saya sudah tau subtansi nya seperti apa.
Sudah kami sampaikan mosi keberatan kepada pengelola perumahan ini, tapi sampai sekarang pun tidak ada jawaban pasti. Sambil 'terpaksa' berkenalan dgn rumah baru, kami masih menaruh harap bisa kembali pada rumah lama itu.
Di rumah baru isinya beda dengan rumah lama, tata ruangnya, warna dindingnya, hiasan interiornya dan sebagainya. Meskipun masih satu kompleks tapi ini jadi sesuatu yg 'asing' bagi ku. Dan sekarang saya dalam proses berdamai dengan semua ini. Tapi apakah saya mampu?
Entah sampai kapan. Saya masih dendam dengan pengusiran ku dan di sisi lainnya mau tak mau saya harus menempatkan diri sebagai penghuni rumah baru. Kami harus bertahan. Berusaha realistis, sembari berdoa balik ke rumah lama itu optimis.
Jalan 4 bulan ini saya mulai sedikit paham, apapun yang saya keluhkan pada akhirnya hanya jadi pelarian dendam ku saja, semua serba saya banding - bandingkan dengan rumah lama, dari pola lantai sampai tata cahaya lampu nya. Apa aku puas? Tidak, tidak sama sekali. Terus kenapa masih mengeluh?
Menurut ku berkeluh-kesah hanya metode untuk Berterimakasih pada diri sendiri bisa bertahan sampai hari ini. Ya tentu semua ada batasan nya. Cukup katakan kemudian lupakan. Jiwa mu terlalu berharga hanya untuk semua sambatan mu kawan.
Bila di rumah lama punya ABCD, di rumah baru pun punya EFGH. Mau disamakan seperti apapun akan sulit, tapi bisa bila semua mau. Kawan bilang "Enak ya di rumah baru" sedangkan kami "Andai aku masih di rumah lama, pasti enak". Kami saling mencemburui satu sama lain. Lucu.
Seperti quote yg akhir" ini bertebaran, 'Kenapa kita tidak bahagia? Karena patokan kita adalah kebahagiaan orang lain'. Padahal Bahagia itu hak prerogatif setiap manusia. Lalu kenapa masih membandingkan satu sama lain? Untuk hal-hal yang baik menurut ku itu tak masalah.
Pada akhirnya saya menyadari, hal paling mudah adalah mengeluh dan hal yg tersulit adalah bersyukur. Tapi tetap saja saya masih mengeluh Wkwkwk. Ampunilah Hambamu ini Ya Rabb.
Jadi sekarang tinggal atur seberapa besar porsi sambat dan rasa syukur kita. Selamat melanjutkan sambat eh.. Jangan Lupa Bersyukur Hari ini Kawan.
— Panjang umur untuk semua hal-hal yang baik.
Selamat Merdeka Tanah "Air" Indonesia.
Entah skenario apa yg membuat ku sampai pulau ini. Bukan pulau terluar atau terjauh, hanya salah satu pulau dari ribuan pulau di negeri ini. Mungkin sebagian orang harus minta wangsit dari google dulu buat cari tahu letak nya. Dan kau tahu, apa pencarian paling populer nya? Yak pengibaran bendera negara asing di tanah ibu Pertiwi. Pulau Obi, Maluku Utara.
Obi, pulau yang cantik dan ramah masyarakat nya. Kau akan sangat lega bila menginjakkan kaki di tanah obi setelah perjalanan panjang dengan kapal dari Ternate (1 hari 1 malam) sungguh berombak dan melelahkan. Dan aku sangat yakin, setelah melalui perjalanan yg panjang itu, sebagian besar kalian pasti berkata "Sepertinya aku lebih mencintai daratan dari pada lautan, sebagaimana mencintai tanah dari pada air" seperti aku ini, awalnya.
Tapi apakah kita benar-benar mencintai tanah selayaknya mencintai daratan? Pertanyaan itu terjawab ketika kapal mulai mengarungi sisi lain dari Pulau Obi, Desa Kawasi. Selama perjalanan kau akan disuguhi pemandangan yang sangat kontras, warna tanah dan industri yang masif. Alat-alat berat, corong asap, kapal tongkang yg bersender rapi, bangunan 3 lantai yang tak kalah dengan rumah susun di Jakarta, dan yang sangat membuat mata ini tak henti menatap adalah seberapa luas hutan yg harus dihancurkan demi ambisi industri. Setengah dari luas ibukota (mungkin).
Keadaan akan lebih menyedihkan ketika malam datang, kau akan sangat jarang melihat cahaya lampu di rumah-rumah desa sekitar sedangkan beberapa ratus meter di sebelah nya ada sebuah industri tambang yang berkilauan dengan jutaan voltase nya. Antara Langit dan bumi, putih dan hitam, terang dan gelap. Kelam.
Apakah kita benar-benar Merdeka? Mengelola bumi Pertiwi sendiri untuk anak cucu dan bangsa kita nanti. Lupakan sejenak arti dari sebuah kata Merdeka. Di tengah era globalisasi dan keterbukaan, industri pun berkembang. Semua ada efek baik dan buruk, termasuk Industri Tambang ini.
Setiap kali kau pergi ke pulau obi dengan kapal reguler yang ada misal KM. Obi Permai, hampir setiap saat kau akan menemui, setidaknya melihat orang-orang asing berada di deck paling atas, penghuni kamar-kamar yang paling berkelas, melihat orang-orang di bawah sana. Ya mereka adalah para pekerja tambang, entah sebagai buruh kasar atau pekerja profesional. Aku tak mempersalahkan dari mana, etnis apa, agama apa, negara mana yg mencari nafkah di negeri ini. Tapi semua harus ada porsinya. Semua harus ada sumbangsih nya.
Selama negeri ini belum bisa berdiri di kaki sendiri, tak masalah untuk belajar berlari dengan bantuan negeri lain. Tapi, sekali lagi semua ada batasan nya, semua ada porsinya.
Seorang penumpang kapal bercerita kepada ku, "Suatu saat orang-orang di pulau ini hanya lah bidak - bidak tambang asing, cita-citanya hanya setinggi bagaimana bisa bekerja di tambang, dan yg menyakitkan ada masanya orang-orang ini akan menjadi budak di negeri nya sendiri. Seperti sebuah syair lagu 'Tanah air ku Indonesia' suatu saat hanya tersisa Airnya saja", candanya.
Bagaimana kita bisa hidup tanpa air? sebaliknya bagaimana kita bisa hidup tanpa tanah untuk berpijak? Dan bagaimana kita bisa hidup tanpa Tanah Air?
Aku bukan lah orang yang dengan lantang menolak pertambangan, anti - industri, bahkan teman-teman ku juga banyak yg bekerja di pertambangan. Aku hanya lah orang yang ingin benar-benar Merdeka, dalam berbangsa dan bernegara, beropini, bercanda, beragama, bekerja, berkeluarga, dan lain sebagainya. Sebagai mana Merdeka dalam arti sebenarnya, secukupnya, dan sebaik-baik nya.
Aku ingin Merdeka.
Bersama-sama.
M E R D E K A!
.
.
-Ternate, 17 Agustus 2019

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#EidAlAdha 🌱
CERITA KU TENTANG BUMI DAN IMAJINASI
#2 [Akhirnya bertemu juga]
Tepat tanggal 1 Desember di akhir musim gugur yang beranjak menuju musim dingin. Kau meninggalkan ku sendiri, membiarkan tubuh ku membeku, dan tergeletak sekarat. Di tengah sakaratul maut ku, lagi-lagi bayang mu menampakan diri di hadapan. Membelai wajah ku yang mulai bersalju, di bawah langit kuil Kiyomizudera. Halusinasi. Iya, aku percaya kau yang ada di hadapan ku saat ini hanyalah imajinasiku, seseorang yang harusnya tak kuharapkan datang menjelang kematian ku. Seseorang yang selalu ada di setiap pagi dan malam ku. Dulu. Benar dulu, sebelum aku ditinggalkan. Bahkan dalam bentuk sebuah khayalanku sekarang, aku tetap tak bisa melihat wajah mu. Bagaimana ekspresi mu, apakah kau sedih atau malah tertawa melihat tubuhku yang mulai membiru kaku ini. Ah.. biar, biarkan saja aku tak tahu. Biar aku bisa mati dengan tenang. Mati dalam keadaan membenci mu. Sepertinya ini waktunya, akhirnya aku usai juga. Ku pejamkan mataku perlahan, akan ku nikmati setiap tarikan napas ku yang mulai hilang. Selamat datang keabadian. Sebelum sesaat kemudian,
"Yatta, akhirnya ketemu juga."
Pagi ini kau terlihat cantik. Cantik yang tidak biasa, kau sangat cantik hari ini. Ah.. kau juga memakai parfum yang berbeda, aroma mu lebih manis dari biasanya. Sekarang kau tak malu-malu lagi memakai make-up, memoles wajah yang sebenarnya sudah amat cantik itu. Gincu yang kau pakai juga merah menyala, menegaskan kau manusia paling bahagia. Rona merah muda di kedua pipi mu itu sangatlah lucu, seakan menggoda untuk menciumnya. Maaf, aku tergoda.
Hari ini entah kejutan apa yang kau persiapkan, ketika kau bilang kita akan ke Kyoto. Hah.. yang benar saja? apa kau bercanda? Kota yang jauhnya 3 jam perjalanan dari Tokyo, itupun menggunakan kereta tercepat. 460 km itu tidak dekat sayang. Memang ada apa disana? menjelang musim dingin seperti ini aku rasa Kyoto bukan lah tempat yang tepat untuk kita berdua. Tapi, melihat cara mu mengatakannya aku tahu, aku tak bisa menghalangimu, kau sangat bahagia. Selama kau bahagia, aku tak kan menghalangi keinginan mu. Aku juga bahagia. Semua yang kau lakukan pagi ini aku suka, sangat suka. Tapi aku tahu semua itu bukan untuk ku ketika nama dia, lelaki itu kau sebut. Dan aku benci tentang hal itu.
Di dalam kereta kau sibuk dengan ponsel beraksesoris serba merah muda mu, sekali lagi aku diabaikan. Kadang aku cemburu, melihat mu mencurahkan semua perhatian mu untuk benda persegi panjang itu, kau lebih sering membagi senyum yang mempesona tak kala melihatnya. Iya, aku cemburu. Sekalipun dengan ponsel mu. Apalagi dengan lelaki yang namanya kau sebut tadi pagi. Aku cemburu teramat sangat. Tapi apalah daya, aku tak bisa mengatakannya. Bahwa sebenarnya aku menyukai mu. Sedari dulu, saat ayah mu mempertemukan kita tepat di hari ulang tahun mu ke-17. Dan aku masih ingat kau tersenyum bahagia, dan aku sangat senang kala itu, karena bahagia mu adalah aku.
Tiba di Stasiun Kyoto kau langsung menarikku masuk kedalam mobil taksi, seraya menyebut Kuil Kiyomizudera. Hah.. aku tidak salah dengar kan? sebuah kuil untuk sebuah kencan? Dasar pecundang, lelaki mana yang membiarkan gadis cantik sepertimu bepergian sejauh ini hanya untuk sebuah kuil. Sepertinya aku harus mengajari dia, lelaki yang sekarang menjadi pusat perhatian mu. Bukan aku. Lagi-lagi kau tak mendengarkan aku, aku diabaikan. Aku tahu di balik ponsel mu yang sedang kau pandangi sambil tersenyum-senyum itu ada dia, lelaki yang namanya sering kau sebut dua tahun terakhir ini. Kesal, iya aku sering kesal akhir-akhir ini. Sumpah serapah apalagi yang aku alamatkan kepada lelaki mu itu. Sudah terlalu banyak, aku membencinya. Membencinya karena dia orang yang membuat mu bahagia. Padahal aku juga bisa. Dan kini lihatlah aku sekarang, siapa lah aku. Seorang pecundang. Tak ubahnya langit Kyoto hari ini, kelam nan abu-abu. Itulah aku. Dan sepanjang perjalanan kita habiskan dalam diam, seperti saat di kereta tadi. Kau sibuk dengan dunia mu, sedangkan aku sibuk mencemburui mu.
Tiga puluh delapan menit sudah berlalu, hanya untuk menunggu lelaki bodoh mu itu. Tapi aku senang, aku harap lelaki mu itu tak usah kemari sekalian. Biar hanya ada kita, bukan dia. Duduk di bangku taman pelataran kuil, di musim yang mulai dingin, dan kita hanya berdua. Iya berdua saja. Tunggu bukan kah ini kencan? Hah yang benar saja, bagiku iya sedangkan bagimu ini hanyalah soal penantian. Ternyata doa ku tak terkabul, lelaki mu datang. Menyapa mu membuat mu tersipu malu, sesaat kemudian tangan mu diraihnya dibawanya kau menuju ke kebahagiaan yang luar biasa. Sedangkan aku disini, mengikuti mu dari balik hati yang paling sunyi.
Jadilah ini perjalanan yang paling menyebalkan bagi ku, tau gitu kenapa kau mengajak bila pada akhirnya aku bukanlah pemeran utamanya. Melihat bagaimana sikap manjamu kepadanya, semakin membangkitkan amarah ku. Bila saja tatapan bisa membunuh, ku pastikan dia mati duluan. Iya sebenci itu aku. Bagaimana tidak, lelaki yang ada di sampingmu itu yang merebut pusat kebahagian ku, dirimu. Dia berhasil membuatmu mengabaikan ku, bahkan mungkin hanya tinggal menunggu waktu hingga aku ditinggalkan. Seperti saat ini, kau dan dia mampir sejenak ke Otowa no Taki —tempat pancuran air suci, tepat di ujung jalan sebelum masuk kuil Utama. Melihat bagaimana cara kau menatap lelaki itu, bagaimana kau dengan mudah memamerkan senyum merona mu itu, bagaimana kau begitu nyaman memeluk erat tubuhnya, bagaimana kau begitu senang mengusap-usap pucuk kepalanya, dan semua hal-hal kecil yang kau lakukan padanya yang tak pernah sekalipun kau lakukan pada ku. Hebat. Aku sungguh hebat untuk tidak balik badan dan pergi secepatnya dari semua pemandangan ini. Aku iri. Terlampau sangat.Sesaat kemudian kalian saling berhadapan, menyilangkan kedua tangan kanan saling bertautan. Kau menatapnya, dia menatap mu. Kau tersenyum, dia juga tersenyum, dunia milik kalian berdua.
"Aku ingin aku dan kamu menjadi kita, bersama dan bahagia selamanya" doa mu, sebelum kalian minum air suci itu bersamaan aku yang kandas dalam diam. Ingin sekali aku pergi dari semua ini, juga dari mu. Luka ini biar aku kubur dalam-dalam hingga ego ku tak bisa menemukan, akan ku anggap ini semua hanyalah mimpi buruk di setiap malam, di hari-hari ku nan kelam. Tapi apalah daya, aku terikat. Aku telah terikat janji pada ayah mu. Iya ayah mu yang memberiku tugas untuk menjaga dan selalu melindungi mu. Dan aku telah bersumpah. Kini tinggalah aku sendiri di sini, bila memang dia yang kau pilih untuk membahagia kan mu, aku kan berusaha sebaik mungkin untuk mengikhlaskannya. Asal kau bahagia, aku coba untuk bahagia meskipun harus diaaku itu sulit, karena dia bukan aku. Aku akan berusaha.
Menjelang malam aku telah memperingatkan mu, tinggal tiga puluh menit lagi sebelum kereta ke Tokyo akan datang. Kau harus bergegas pulang. Dan sekali lagi kau mengabaikan peringatan ku, kau malah asyik melihat sebuah kotak kecil berpita merah yang kekasih mu berikan. Kau sangat senang. Mata mu berbinar. Tatapan mata yang sama, yang aku terima lima tahun lalu saat kali pertama kita bertemu. Sebuah jam tangan. Dia memberimu sebuah jam tangan baru, berwarna putih berlian, sangat menawan, dan mewah. Kau tak sanggup berkata-kata, ketika lelaki itu meminta ijin mu untuk memakaikan jam baru itu. Kau hanya mengangguk masih dalam diam mempersilahkan. Kemudian tangan kanan mu meraih ku, melepas gengaman erat ku. Aku kalah. Inikah waktunya?. Sesaat setelah jam baru mu melekat, kau secepat kilat memeluk kekasihmu. Kebahagianmu di ujung senja itu kau luapkan dalam pelukan hangat dan dalam. Sedangkan aku masih terdiam di sini, di sudut pagar Jigokudome, seraya berharap kau tak melupakan ku. Tapi yang ada, kau meninggalkan aku. Tepat di sudut Kota Kyoto, disaat butiran salju mulai turun aku kan sekarat.
…
Pagi ini terasa aneh, aku terbangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Padahal biasanya bangun tidur ku tak se-menyenang-kan ini. Apalagi... Oh ya mana jam tangan ku? Aku segera bangun mengecek laci meja sebelah tempat tidur. Yatta, ternyata di sini, di kotak kecil berwarna putih yang dihiasi pita merah kecil aku titip kan hadiah dari kekasih ku. Lelaki yang sekarang menjadi pusat kebahagian ku. Karena terlalu senangnya diri ku sampai aku tak tega mengenakan jam tangan yang dia berikan. Aku takut jam itu rusak atau pun berdemu. Iya, aktifitas ku sebagai Mahasiswi arkeologi mengharuskan ku berhadapan langsung dengan benda-benda masa lalu, dan yang pasti harus kotor. Maksud ku berani kotor. Seperti nanti siang, aku akan terbang ke Myanmar untuk meneliti. Jadi, terpaksa aku tak bisa memakai jam tangan secantik itu, untuk kegiatan sehari-hari ku. Aku pun sudah bilang padanya, dan dia mengerti.
Setelah merapikan kamar yang untuk beberapa hari aku tinggalkan, aku bergegas turun ke lantai bawah, membawa tas ransel dan segala perlengkapan yang sudah aku siapkan tadi malam. Ibu sudah menungguku di ruang depan, duduk bersimpu di depan altar ayah. Iya Ayah sudah meninggal, satu bulan setelah ulang tahun ku ke-17. Jujur aku sempat depresi ditinggalkan oleh lelaki yang sangat aku sayangi. Aku hancur waktu itu. Benar-benar hancur. Tapi aku tak boleh cengeng lagi, aku tak boleh menangis lagi, melihat betapa tegarnya Ibu menerima kematian Ayah meskipun aku tahu tiap malam Ibu masih sering menangis di dalam kamarnya, aku harus membahagiakan Ibu. Aku janji Ibu.
"Ayah, terimakasih atas segala kasih sayang yang selama ini kau berikan pada putri kecil mu ini. Aku tidak akan cengeng lagi, aku tak kan manja lagi, aku akan jadi anak yang baik, aku tak akan menyusahkan Ibu kagi, dan aku berjanji untuk selalu mejaga dan membahagiakan Ibu. Terimakasih Ayah sudah mengenalkan ku pada dunia arkeologi, dan sekarang aku akan berangkat menuju Myanmar untuk penelitian, setelah itu bulan Januari tahun depan aku akan segera Wisuda Ayah, Doa kan putri kecil mu ini. Semoga Ayah bahagia disana. Amin". Ditengah-tengah doa ku, aku mendengar isak tangis Ibu yang ada di belakang ku. Pasti ini berat. Meskipun hanya beberapa hari tapi meninggalkan Ibu sejauh ini untuk beberapa hari, memang berat. Aku peluk tubuh Ibuku, dalam dan nyaman. Iya, ini sangatlah nyaman, aku rindu. Kapan aku terakhir seperti ini, sepertinya aku harus sering-sering memeluk Ibu. Ibu, memelukmu adalah candu ku.
"Nak, apakah kau akan benar-benar akan pergi, tak bisa kah kau disini aja. Menemani Ibu" pinta Ibu.
"Aku juga ingin bu, tapi aku harus menyelesaikan penelitian ini. Aku berjanji, setelah pulang nanti waktu ku hanya untuk mu bu" pelukannya semakin erat membenamkan ku, tak ingin lepas.
"Bu ayo, ini sudah waktunya. Aku akan berangkat".
"Baiklah nak, jaga dirimu. Ibu menunggu mu".
"Oh ya setelah kau pulang nanti, bisakah kau bawa kekasih mu kemari. Ibu ingin tahu seperti apa pemuda yang bisa menakhlukan gadis sepertimu". Permintaan ibu, cukup membuat ku kaget. Tapi, aku takan menolaknya karena kekasih ku memang berencana berkunjung ke rumah. Dia juga ingin bertemu Ibu. Siapa tahu setelah itu aku akan segera menik...ah maaf. Aku terlalu bahagia memikirkannya. Semoga dan segera.
"Baik bu, akan ku kenalkan dia".
Lima menit lagi pesawat akan take off dari Bandara Narita. Aku duduk di bangku nomor 8A, tepat disamping jendela. Sembari mendengarkan Pramugari didepan sana yang sedang memperagakan demo keselamatan, aku mengecek barang-barang ku. Dompet, Kacamata, Ponsel, Changer, Powerbank, Sunscreen, Semuanya sudah. Tapi sepertinya ada yang kurang, tapi apa. Ditengah rasa penasaran ku, tiba-tiba seseorang pria di sebelah tak sengaja menyenggol bahu ku.
"Maaf" sedikit menganggukan kepala. aku membalas mengagukan kepala mejawab dalah diam bahwa aku tidak apa-apa. Ku lihat wajahnya bukan seperti orang Jepang pada umumnya, lebih mirip orang Eropa. Tapi saat dia meminta maaf tadi terdengar sangat lancar. Ah mungkin dia seorang Mahasiswa jurusan Bahasa atau memang Blateran. Penampilanya pun sangat sederhana, kaos oblong warna hitam, celana jeans, jam tangan sport. Tunggu Jam tangan? JAM TANGAN AYAH DIMANA???? Seketika itu aku menjadi sangat panik, bagaimana aku bisa lupa dengan benda yang sangat berharga untuk ku.
Jam tangan itu adalah hadiah terakhir dari ayah sebelum meninggal. Maaf, Ayah aku benar-benar lupa. Otak ku aku paksa mengingat dimana aku letakan jam itu. Jam yang selalu berbunyi setiap pukul 6 malam, bunyi nya sangat khas, aku sengaja mengaturnya agar tidak tertinggal kereta tiap aku pulang. Buram, ingatan ku tak menemukannya. Sekali lagi aku paksa ingatanku, aku harus menemukannya. Ditengah perjuangan ku, terlintas bunyi alarm Jam tangan ayah, kemudian gambaran-gambaran tentang kereta, taksi, salju, sebuah kuil. Aku ingat sekarang. Akhirnya aku mengingat dimana jam itu ku tinggalkan. Antara sedih dan senang, aku tak kuasa menahan air mata ku. Sekali lagi maaf ayah, aku berjanji untuk menemukannya.
Kurang lebih seminggu penelitian di Myanmar akhirnya usai juga, sekarang aku ada di dalam pesawat yang membawaku ke Kyoto. Aku sudah menceritakannya pada Ibu, bahwa aku akan sedikit terlambat pulang ke rumah. Soal jam tangan ayah aku tak menceritakannya pada Ibu, aku takut dia juga ikut khawatir. Sekalian akan ku bawa kekasih ku ke Tokyo untuk bertemu Ibu. Tapi kali ini aku harus menemukan Jam tangan ku.
Sudah dua puluh tiga menit aku mencari-cari jam tangan ku, terakhir kali aku ingat meninggalkannya di dekat pagar Jigokudome saat kekasihku memakaikan jam tangan hadiah darinya. Apa mungkin sudah diambil seseorang? semakin menipis harapan ku untuk menemukannya. Tidak tidak tidak.. aku harus menemukannya. Aku harus optimis. Melihat kekasih ku juga ikut mencari di bagian lain dari kuil ini, membuat ku tak tega. apalagi Kyoto saat ini sedang bersalju, dingin sangat dingin. Sesaat kemudian kekasih ku melihat ku tersenyum sambil melambaikan tangan. Kemudian di kepalkan tanganya sekan memberiku semangat untuk menemukan jam tangan ku. Aku tak kan menyerah.
Aku baru ingat, Kuil Kiyomizudera ini berbentuk panggung kayu, apakah mungkin jam tangan ku jatuh kebawah? benar juga, aku harap aku kan menemukannya. Bergegas aku berlari menuju bawah kuil ini, tanah yang mulai bersalju agak menyulitkan ku. Daerah di bawah kuil memang jarang di lewati orang, jadi wajar agak licin dan penuh salju. Beberapa kali aku sempat terpeleset, mungkin ada beberapa luka lecet di tangan ku. Tapi tak mengapa perihnya tak sebanding dengan dingin nya Kyoto hari ini. Hingga untuk ketiga kalinya aku terpeleset, kali ini aku benar-benar jatuh, wajah ku bertemu tanah bersalju, sakit. Ingin aku menangis saja, tapi aku sudah berjanji. Ayah tolong putri kecil mu ini. Lagi-lagi bayangan Ayah mucul dalam pikiran ku. Sekali lagi aku takkan menyerah. Aku angkat wajah ku menghadap kedepan, siap-siap untuk berdiri lagi. Ditengah upayaku untuk bangkit lagi, aku melihat sebuah benda hitam diselimuti salju yang mulai menebal. Aku hampiri seraya berharap bahwa itu adalah jam tangan ku. Aku Usap benda bersalju itu dengan telapak tangan ku yang mulai pucat karena kedingan. Sesaat kemudian,
"Yatta, akhirnya ketemu juga."
-end-