Ya Allah, ini arahnya kemana?
Kalimat itu biasanya muncul ketika hati mulai merasa digiring ke sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada keresahan halus, campuran antara takut salah melangkah dan ingin sekali melihat ujung jalan. Namun hidup memang sering bekerja dengan cara mengaburkan peta, lalu meminta kita berjalan pelan sambil menjaga niat tetap jernih.
Pertanyaan “ini arahnya ke mana?” bukan tanda lemahnya iman. Itu justru tanda bahwa Anda sedang sadar. Sadar bahwa Anda tidak Maha Tahu. Sadar bahwa Anda bisa salah membaca tanda. Sadar bahwa keputusan hidup tidak sesederhana garis lurus.
Dalam momen seperti itu, yang paling penting bukan mengetahui arah akhirnya, tetapi menjaga tiga hal: niat yang bersih, langkah yang jujur, dan doa yang tidak putus. Arah akan muncul di waktu yang tepat. Allah tidak menuntut Anda mengetahui semuanya, hanya menuntut Anda tetap berada di jalur yang benar.
Kadang perjalanan terasa membingungkan karena Allah sedang menggeserkan kita dari tempat lama menuju tempat baru tanpa membuat kita kaget. Kadang kebingungan adalah cara-Nya membuat kita lebih banyak memohon. Kadang arah yang samar justru menyelamatkan kita dari kesombongan merasa paling tahu.
Mungkin bukan tentang tujuannya dulu. Mungkin tentang melatih hati agar tenang ketika peta masih belum lengkap. Dan biasanya, ketika hati mulai tenang, arah pun tiba-tiba menjadi terang tanpa perlu dicari keras-keras.
Cibiuk - Garut, yang semoga Allah berkahi.
Eko Puspito (@ekopuspito)

















