33/365
Dibalik Tirai Takdir
Pagi itu, udara terasa dingin menembus jendela, membawa serta kecemasan yang belum sempat larut. Di atas sajadah yang masih tergelar, seorang hamba duduk bersimpuh, menatap jemarinya yang gemetar. Ada mimpi yang baru saja patah, ada rencana besar yang hancur berkeping-keping, dan ada kehilangan yang menyisakan rongga kosong di dada. Ia merasa dunianya runtuh, seolah-olah seluruh semesta sedang bersepakat untuk mengujinya tanpa ampun.
Namun, di tengah badai kecewa yang berkecamuk, sebuah kesadaran perlahan terbit seperti fajar. Ia teringat kembali pada secarik keyakinan purba yang tertanam di lubuk hati, bahwa lembar-lembar kehidupannya telah ditulis rapi di Lauhul Mahfuz jauh sebelum ia dilahirkan. Sungguh egois jika ia hanya bersedia memeluk nikmat yang manis, namun membuang muka saat disodori cangkir ujian yang pahit. Bukankah sang Khalik adalah Pemilik mutlak atas jalannya waktu dan embusan napasnya?
Perlahan, ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya bersama dengan seluruh ego yang sempat meninggi. Hatinya mulai mengeja sebuah kepasrahan yang indah. Ia menyadari bahwa pandangan matanya sebagai manusia sangatlah pendek, hanya mampu melihat apa yang ada di depan hidung. Sebaliknya, pandangan Allah Ta'ala melampaui batas ruang dan waktu, mengetahui akhir dari segala awal, dan memahami obat terbaik bagi setiap luka. Apa yang ia tangisi hari ini sebagai musibah, bisa jadi adalah cara Allah menyelamatkannya dari jurang kehancuran yang tidak ia ketahui.
Air mata yang menetes kini bukan lagi air mata protes, melainkan embun penyejuk yang membasuh jiwa. Mengatakan "Aku rida atas takdir-Mu, ya Allah" ternyata tidak mengurangi kekuatannya, justru melahirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Menyerahkan segala urusan kepada-Nya bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan sebuah keberanian tertinggi untuk percaya bahwa skenario-Nya tidak pernah salah.
Kini, ia melangkah keluar rumah dengan senyuman yang baru. Beban berat di pundaknya seolah menguap, digantikan oleh kelapangan dada yang luas. Ia siap menyambut apa pun yang tertulis di garis hari esok—baik itu tawa renyah maupun air mata—karena ia tahu, selama ia menggandeng rida Allah, setiap takdir adalah jalan pulang yang membawa kebaikan.
Di bawah langit | 12.30















