Setiap Manusia Memiliki Cara Untuk Menyusun Dirinya Sendiri
Mungkin selama ini aku terlihat baik-baik saja di hadapanmu.
Padahal, ada banyak hal yang belum benar-benar selesai di dalam diriku. Ada bagian-bagian yang masih berantakan, yang belum sempat kujelaskan, bahkan kepada diriku sendiri. Aku hanya belajar untuk tetap tersenyum, untuk tetap hadir seolah semuanya tidak terlalu berat.
Aku menyadari, aku sering memilih diam ketika seharusnya jujur. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu darimu, tetapi karena aku sendiri masih mencoba memahami apa yang sebenarnya kurasakan. Ada hal-hal yang belum berani kuhadapi sepenuhnya, dan tanpa sadar, itu ikut memengaruhi caraku bersikap padamu.
Kadang aku khawatir, kamu melihatku sebagai seseorang yang lebih utuh daripada kenyataannya. Padahal aku juga sering ragu, sering lelah, dan tidak selalu tahu harus menjadi seperti apa. Tapi di tengah semua itu, aku tetap ingin belajar menjadi seseorang yang lebih baik—bukan untuk terlihat kuat, melainkan supaya aku tidak terus lari dari diriku sendiri.
Jika suatu hari kamu menemukan sisi diriku yang tidak seindah yang kamu bayangkan, semoga kamu bisa melihatnya sebagai bagian dari prosesku, bukan sebagai kekecewaan. Aku tidak sedang berpura-pura, aku hanya sedang berusaha bertahan dengan cara yang paling mampu kulakukan saat ini.
Terima kasih karena tetap hadir, bahkan ketika aku belum sepenuhnya selesai dengan diriku sendiri. Dan jika aku pernah membuatmu merasa lelah tanpa kusadari, maafkan aku. Aku hanya berharap, pelan-pelan, aku bisa tumbuh tanpa harus kehilangan diriku, dan tanpa harus kehilangan kamu juga.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Keputusan yang Kuambil Saat Ini Terasa Semakin Tepat
Apa yang telah kupilih sepenuhnya adalah keputusanku sendiri. Segala konsekuensi dan hasilnya pun menjadi tanggung jawab yang harus kuterima dengan kesadaran penuh.
Pandangan orang lain tentang diriku dan pilihanku sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Namun, justru dari situlah aku terdorong untuk merenung lebih dalam.
Kini, aku mampu menanggapinya dengan lebih tenang, tanpa merasa perlu berkonfrontasi. Dulu, ketenangan seperti ini adalah hal yang sangat kuinginkan. Barangkali, ketenangan memang hadir setelah seseorang cukup lama berdamai dengan dirinya sendiri.
Di titik ini, aku mulai memahami bahwa waktu akan membuka jawaban demi jawaban dengan caranya sendiri, perlahan-lahan. Mungkin, kedewasaan adalah kemampuan untuk menunggu proses itu dengan sabar, tanpa kehilangan arah dan tanpa terjebak dalam keinginan untuk terus membuktikan diri kepada setiap orang.
@ekopuspito | Garut, 07 Mei 2026 M/ 19 Dzulqa'dah 1447 H
Aku sedang menata ulang arah, merapikan kembali visi yang sempat kabur karena rutinitas yang melelahkan. Perjalanan menjadi versi profesional terbaik ini bukan tentang pembuktian pada siapapun, melainkan upaya agar aku pantas mengemban tanggung jawab yang lebih besar nantinya.
Hari ini, aku memilih untuk menyembuhkan rasa kecewa pada masa lalu dan merelakan bab pekerjaan yang telah usai.
Aku ingin berkarya dengan cara yang benar: dengan integritas, dedikasi, dan kehormatan.
Aku percaya, tempat pengabdian yang lebih baik akan datang di waktu yang tepat, saat aku sudah benar-benar siap memberikan kontribusi dengan kapasitas yang penuh.
@ekopuspito - Garut, 01 Mei 2026 | 13 Dzulqa'dah 1447 H
Kalimat itu biasanya muncul ketika hati mulai merasa digiring ke sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada keresahan halus, campuran antara takut salah melangkah dan ingin sekali melihat ujung jalan. Namun hidup memang sering bekerja dengan cara mengaburkan peta, lalu meminta kita berjalan pelan sambil menjaga niat tetap jernih.
Pertanyaan “ini arahnya ke mana?” bukan tanda lemahnya iman. Itu justru tanda bahwa Anda sedang sadar. Sadar bahwa Anda tidak Maha Tahu. Sadar bahwa Anda bisa salah membaca tanda. Sadar bahwa keputusan hidup tidak sesederhana garis lurus.
Dalam momen seperti itu, yang paling penting bukan mengetahui arah akhirnya, tetapi menjaga tiga hal: niat yang bersih, langkah yang jujur, dan doa yang tidak putus. Arah akan muncul di waktu yang tepat. Allah tidak menuntut Anda mengetahui semuanya, hanya menuntut Anda tetap berada di jalur yang benar.
Kadang perjalanan terasa membingungkan karena Allah sedang menggeserkan kita dari tempat lama menuju tempat baru tanpa membuat kita kaget. Kadang kebingungan adalah cara-Nya membuat kita lebih banyak memohon. Kadang arah yang samar justru menyelamatkan kita dari kesombongan merasa paling tahu.
Mungkin bukan tentang tujuannya dulu. Mungkin tentang melatih hati agar tenang ketika peta masih belum lengkap. Dan biasanya, ketika hati mulai tenang, arah pun tiba-tiba menjadi terang tanpa perlu dicari keras-keras.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ternyata makan daging ayam buatan ibu saat munggahan di rumah jauh lebih nikmat dibanding makan daging ayam saat munggahan tapi sendirian di tempat kerja. Ada rasa hangat yang tidak bisa dipindahkan oleh rasa bumbu. Yang hilang bukan makanannya, tapi kebersamaannya.
Refleksi seperti ini mengingatkan kita bahwa ibadah dan keluarga sering kali bertemu pada titik yang sama, yaitu rasa syukur. Di tengah kesibukan, manusia baru sadar bahwa kenangan sederhana adalah bekal yang paling bertahan lama.
Ternyata, jauh lebih berharga jika diri ini "terkunci" di rumah, sibuk membantu Ibu memasak dan menyiapkan hidangan untuk menyambut puasa, daripada memiliki kebebasan tak terbatas untuk pergi ke mana saja, namun tujuan akhir dari kebebasan itu hanyalah makam Ibu untuk berziarah.
Sebab, pengabdian dan kebersamaan hari ini adalah anugerah yang takkan bisa dibayar dengan penyesalan dan rindu di masa depan.
Tiga indikator manusia produktif dalam Islam sebenarnya sudah dirangkum secara padat dalam Surah Al-‘Ashr. Ayatnya singkat, namun kerangka berpikirnya sangat kaya. Jika dilihat lebih dekat, Islam tidak mendefinisikan produktivitas sekadar sibuk atau banyak kegiatan, tetapi sebagai kualitas hidup yang terarah.
Pertama, iman.
Produktivitas dalam Islam dimulai dari orientasi. Iman menentukan arah gerak dan memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak sekadar menghasilkan sesuatu, tetapi menghasilkan kebaikan yang bernilai di hadapan Allah. Iman membuat seseorang bekerja dengan integritas, jujur, amanah, dan konsisten.
Kedua, amal shaleh.
Ini indikator paling konkret. Produktif bukan hanya beraktivitas, tetapi menghasilkan tindakan yang membawa manfaat nyata. Dalam konteks keseharian, amal saleh mencakup pekerjaan yang dilakukan dengan benar, kontribusi pada lingkungan, peningkatan kualitas diri, hingga adab dalam interaksi. Islam menilai produktivitas dari dampak, bukan dari kepadatan jadwal.
Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Ini dimensi sosial. Manusia produktif tidak hidup dalam ruang pribadi saja. Ia berperan menjaga lingkungannya tetap berada di jalur yang benar. Menyampaikan kebenaran menuntut keberanian. Menyampaikan kesabaran menuntut kebijaksanaan. Dua hal ini menunjukkan bahwa produktivitas bukan hanya soal apa yang kita capai, tetapi bagaimana kita memperkuat orang lain.
Jika tiga unsur ini bersatu, seseorang tidak hanya produktif secara duniawi, tetapi juga produktif dalam makna yang lebih luas. Produktivitas seperti ini stabil, tidak rapuh, dan tidak mudah dipatahkan oleh perubahan keadaan.
Islam menempatkan kualitas hidup pada keseimbangan antara orientasi batin, tindakan nyata, dan kontribusi sosial. Dari sini, jelas bahwa produktivitas sejati bersifat menyeluruh, tidak sepenggal atau terpisah dari nilai-nilai yang membentuk manusia itu sendiri.
Ada ketenangan tertentu yang muncul ketika seseorang mengucapkan kalimat
ما قدر الله من أمر سأرضاه
Bukan pasrah asal-asalan tetapi penerimaan yang lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada di genggaman kita. Ada wilayah yang dapat diikhtiarkan dan ada wilayah yang hanya bisa disambut dengan hati yang lapang.
Refleksi dari kalimat ini mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam ilusi kendali. Kita menyusun rencana, menghitung peluang, dan menata langkah, seolah semuanya akan berjalan sesuai desain pribadi. Ketika realitas berbelok, kegelisahan muncul karena benturan antara kehendak kita dan kehendak yang lebih besar. Dalam momen seperti itu, kalimat ini terasa seperti pintu udara yang membuat napas kembali normal. Ia mengajarkan bahwa ridha bukan kekalahan. Ridha adalah bentuk kedewasaan spiritual, semacam pengetahuan batin bahwa hikmah tidak selalu hadir di awal.
Sikap ini juga tidak menuntut seseorang mematikan perasaan. Boleh kecewa, boleh lelah, bahkan boleh menangis. Namun setelah itu, ada dorongan lembut untuk berdiri lagi sambil berkata, “Jika ini bagian dari takdir-Nya, maka ada kebaikan yang belum terbaca.” Pada titik itulah hati mulai berlatih tenang. Tentu tidak mudah, tapi setiap usaha kecil menuju ketenangan adalah langkah menuju kekuatan.
Kalimat ini pada akhirnya mengajak Anda menimbang ulang cara menghadapi peristiwa hidup. Apakah semua harus dipahami sekarang juga, ataukah sebagian cukup diserahkan kepada waktu dan kebijaksanaan Tuhan. Menerima tidak berarti berhenti bergerak. Justru dari penerimaan itulah langkah berikutnya menjadi lebih jernih, karena hati tidak lagi sibuk melawan apa yang sudah terjadi.
Hakikat Ambil Baiknya, Buang Buruknya dalam Menuntut Ilmu Agama
Ketika melihat deretan jeruk yang tampak mulus, kita sering mengira bahwa semua rasanya pasti manis. Kenyataannya tidak selalu begitu. Kita memang bisa menilai kualitas jeruk secara kasat mata karena terbiasa memilihnya, tetapi tetap saja ada satu dua buah yang ternyata masam. Dari pengalaman seperti itu kita belajar lebih teliti: memperhatikan warna, tekstur, dan ciri-ciri lain agar tidak salah pilih. Pengetahuan kecil semacam ini membuat kita menikmati jeruk dengan lebih yakin.
Namun cara pandang ini tidak bisa kita terapkan begitu saja ketika memilih guru atau tempat menuntut ilmu agama. Prinsip “ambil baiknya, buang buruknya” terlihat bijak, tapi sebenarnya berisiko besar bila diterapkan tanpa fondasi ilmu yang memadai. Orang yang sudah kuat ilmunya mungkin mampu memilah. Berbeda halnya dengan pemula. Mereka rentan keliru menangkap ajaran, tidak sadar pada syubhat, dan sulit membedakan mana yang lurus dan mana yang menyimpang. Ilmu agama punya konsekuensi jauh lebih serius dibanding memilih buah.
Karena itu, langkah yang aman adalah mencari ilmu dari sumber yang terpercaya. Belajar dasar-dasarnya lebih dulu agar kemampuan memilah tumbuh secara bertahap. Sama seperti belajar mengenali jeruk, kejelian memilih guru juga butuh latihan, pengalaman, dan bimbingan yang benar.
Jika Anda merasa masih kesulitan membedakan mana ajaran yang kuat dan mana yang meragukan, tidak perlu tergesa-gesa. Menunda keputusan lebih baik daripada menerima sesuatu yang ternyata keliru. Mintalah petunjuk dari orang yang ahli dan amanah. Prioritaskan sumber yang kredibel, perkuat dasar ilmu, dan bersikap hati-hati. Dengan cara itu, Anda tidak hanya belajar dengan tenang, tetapi juga memastikan ilmu yang diterima benar-benar membawa kebaikan yang bertahan lama.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan pekerjaan yang sedang saya gandrungi. Pekerjaan saya, gaji saya saat ini mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan tempat lain yang lebih besar.
Tapi disini, waktu-waktu senggang setelah selesai bekerja, tempat dan suasana bekerja yang sangat membantu dalam hal peribadahan.
Saya bisa shalat tepat waktu di masjid, baca artikel atau buku agama atau sekedar istirahat dengan waktu yang cukup lama.
Atasan saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu ketika pekerjaan saya selesai. Asal semua beres. Banyak sekali kawan yang bekerja di tempat yang qadarullah Allah memberi ujian dengan pekerjaannya. Waktu yang sempit, istirahat yang sebentar hingga tubuh yang letih karena target pekerjaan. Tentu ini adalah nikmat Allah yang patut diperhitungkan jika kita ingin pindah ke tempat yang lain yang lebih besar gajinya, sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang karena di tempat lain belum tentu seperti ini.
Sama dengan kamu yang kerja di tempat lain, pikirkan kembali dengam matang apabila ingin pindah. Barangkali rezekimu ada di tempat kerjamu. Karena keberkahan itu selalu hadir ketika kita bekerja dengan memenuhi hak-hak dan kewajiban kita kepada Allah.
Saya sering bertanya pada diri sendiri, apa sesungguhnya proyek hidup yang sedang saya jalani? Apakah saya hidup hanya untuk hari ini, atau adakah tujuan mulia yang lebih besar dari sekadar rutinitas? Apakah ada cita-cita yang kini sedang saya kejar dengan segenap jiwa? Saya merenung, ketika kelak ajal menjemput, apa yang akan dikenang orang-orang dariku? Apakah saya telah meninggalkan sesuatu yang membuatku tetap hidup di hati mereka yang mencintaiku?
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَۙ
"Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian." [QS. Asy-Syu‘ara: 84]
فارفع لنفسك قبل موتك ذكرها فالذكر للإنسان عمر ثاني
"Tinggikanlah nama dirimu sebelum maut menjemput, sebab nama harum adalah kehidupan kedua bagi manusia."
Seringkali, kita berpikir bahwa proyek besar harus dimulai saat muda, saat semangat masih membara. Lalu, saya bertanya, apakah masuk akal jika diri ini, yang mungkin tak lagi muda, memulai sebuah proyek besar? Apakah masih pantas membangun kembali diri dari awal?
Namun, saya perlahan menyadari sebuah kebenaran yang mendalam: proyek di pengujung hayat justru jauh lebih penting dari yang mana pun. Ini adalah proyek untuk kehidupan yang tak berakhir. Ini adalah persiapan untuk masa depan yang kekal abadi. Ini adalah penataan jalan menuju kebahagiaan yang tak sirna.
Maka, saya memutuskan untuk merencanakan masa depan sejatiku seolah-olah baru saja dilahirkan. Masa lalu, dengan segala penyesalan dan kenangannya, hanyalah mimpi yang telah usai—sebuah lembaran yang telah dilipat. Kini, hanya detik yang sedang berjalan inilah yang nyata.
Saya ingin membuat sebuah proyek masa depan bersama Allah Ta'ala yang bisa saya jalankan di sisa umurku, agar kebaikannya terus mengalir, bahkan setelah raga ini kembali kepada-Nya.
Mungkin tidak harus membangun sekolah amal yang megah atau mendirikan masjid besar. Proyek itu bisa jadi sekadar mengumpulkan keberanian untuk menulis buku, menyebarkan ilmu yang saya miliki, berpartisipasi dalam proyek wakaf kecil, menanam satu pohon, atau sekadar wakaf mushaf untuk diwakafkan di masjid-masjid terpencil.
Ide-ide itu sesungguhnya terlalu banyak. Pilihan terbuka lebar. Namun, semua itu membutuhkan hati yang hidup, jiwa yang mendambakan kemuliaan, dan tekad yang kuat. Ia butuh keyakinan kokoh bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah yang terbaik, yang paling kekal, dan bahwa Hari Kiamat itu nyata.
Lalu, saya coba bisikkan pada diri ini, "Jangan pernah berkata, 'Sudah terlambat', atau 'waktunya sempit'." Itu semua hanyalah bisikan dari kelemahan. Alasan orang malas. Itu adalah cara setan menaklukkan hati, agar ia bisa menghentikan kreativitas, menghalangi pencapaian, dan mematahkan semangat ini, hingga saya tak menjadi siapa-siapa dan tak dikenal sebagai apa-apa.
Saya tahu, saya akan menjadi pribadi besar selama saya merancang proyek besar. Saya akan menjadi mulia selama saya punya tujuan yang mulia. Maka, saya ingin meletakkan diriku hari ini di tempat yang saya harapkan bisa melihatnya esok hari, di hadapan-Nya.
Dari semua perenungan ini, saya menyimpulkan:
من جاء إلى الدنيا ثم لم يزد فيها فهو زائد عليها
"Barang siapa datang ke dunia lalu tidak memberi tambahan apa-apa padanya, maka sesungguhnya ia hanyalah sebuah beban yang tak berguna bagi dunia."
Setiap insan tercipta dengan warnanya sendiri, persona, prinsip, keyakinan, mimpi, dan kelembutan hati yang unik. Warna itu bukan sekadar tampilan, melainkan catatan perjalanan hidup: jejak luka yang sembuh, tumpuan harap, serta doa-doa yang mengkristal dalam kesunyian.
Dalam galeri kehidupan, jangan pernah redup demi menyamai warna lain. Jangan pula mengaburkan gradasimu hanya agar diterima. Harmoni sejati lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari keberanian saling menerima. Saat dua warna berbeda bertemu, saling merangkum tanpa saling meniadakan, di situlah tercipta simfoni keindahan yang alami.
Kita hanya perlu menemukan jiwa yang memandang warna kita dengan mata jernih; bukan yang memaksa kita mengubah rona, bukan yang ingin mencampuradukkan pigmen jiwa, melainkan yang menyelami setiap lapisan warna kita, lalu memilih bertahan dengan sepenuh cahaya.
Jangan gelisah. Setiap warna memiliki ritme dan musimnya sendiri. Percayalah, kelak akan ada jiwa yang tatkala menyaksikan warnamu, ia berbisik: “Inilah tempat semua warna hidupku bermakna.”
Cinta yang tenang tak lahir dari keserupaan, melainkan dari keberkahan saling merangkul keunikan. Bukan dari upaya menyamakan, tapi dari kerelaan saling mengerti. Pada akhirnya, harmoni terindah tercipta ketika warna-warna itu berdansa dalam keselarasan, di bawah aturan Sang Mahawarna yang sempurna.
OPINI: Refleksi Pendidikan Guru Penggerak dan Kehidupan Setelahnya
Sebagai alumni Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan 9 di Kabupaten Garut, saya cukup terkejut ketika menerima Surat Edaran beberapa waktu yang lalu yang menyatakan bahwa Program Sekolah Penggerak secara resmi dihentikan. Padahal, sejak diangkat menjadi kepala sekolah, saya sudah memupuk ambisi untuk mendaftarkan sekolah saya agar menjadi bagian dari program tersebut jika programnya dibuka kembali. Di awal masa transisi pemerintahan, saya sempat optimis bahwa kebijakan pendidikan di era Presiden Prabowo tidak akan mengalami perubahan besar, mengingat adanya beberapa kesinambungan visi dengan pemerintahan sebelumnya. Apalagi, penunjukan menteri pendidikan dari kalangan akademisi sempat menumbuhkan harapan bahwa arah reformasi pendidikan yang telah dirintis akan tetap berlanjut. Namun, kenyataan berkata lain—perubahan yang terjadi terasa begitu drastis, bahkan bertolak belakang dengan ekspektasi.
Meski demikian, saya tetap memandang bahwa setiap kebijakan baru pasti hadir dengan pertimbangan dan tujuan tersendiri. Hal yang menarik selama mengikuti program PGP adalah beragamnya motivasi dari para peserta. Ada yang ingin mencari tantangan baru, ada pula yang sekadar ingin mengisi waktu luang, atau bahkan tertarik dengan peluang pengembangan diri yang ditawarkan. Di balik semua alasan itu, satu benang merah yang saya temukan adalah keinginan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik—baik sebagai individu, guru, maupun pemimpin. Keragaman motivasi ini menjadi kekuatan tersendiri yang menciptakan dinamika pembelajaran yang kaya dan bermakna.
Program PGP memperkenalkan pembelajaran dengan kerangka MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, Aksi nyata) yang sangat kontekstual dan aplikatif. Salah satu momen paling berkesan dalam program ini adalah ketika saya memulai modul pertama: “Mulai dari Diri”. Saya diajak untuk merenungi alasan saya ada di sini, apa mimpi saya, dan bagaimana saya ingin bertumbuh. Bagi saya, ini bukan sekadar refleksi biasa. Ini adalah perjalanan ke dalam diri sendiri, sebuah percakapan batin yang selama ini mungkin tertunda. Momen ini menjadi ruang refleksi yang kuat, sebuah titik awal untuk memahami motivasi terdalam sebelum benar-benar melangkah. Diskusi-diskusi yang terjadi dalam sesi tersebut membentuk semacam ikatan emosional dan intelektual antara peserta dan fasilitator. Inilah yang membuat pembelajaran menjadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan; ia menjadi pengalaman yang mengubah cara pandang dan sikap. Saya melihat langsung bagaimana pendekatan ini mampu menumbuhkan makna, bukan hanya pengetahuan.
Bagi saya, pengalaman ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang paling bermakna adalah yang berakar pada realitas. Ketika peserta bisa melihat hubungan langsung antara modul yang dipelajari dan tantangan yang mereka hadapi, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga tumbuh. Itulah mengapa sesi-sesi reflektif seperti ini sangat penting, karena memberikan ruang untuk peserta mengenali diri, memahami motivasi, dan menautkannya dengan tujuan jangka panjang mereka.
Setiap kelebihan, tentu ada kekurangan.
Tidak ada kebijakan yang sempurna, bukan? Seperti halnya PGP. Salah satu kritik yang cukup sering saya dengar adalah soal kebijakan pengangkatan kepala sekolah yang mewajibkan peserta berasal dari alumni PGP. Bagi sebagian kalangan, ini dianggap sebagai ketidakadilan, terlebih bagi mereka yang telah lama melalui proses seleksi kepala sekolah yang sah sebelum program ini ada. Saya bisa memahami keresahan itu. Bahkan secara pribadi, saya pun setuju bahwa pemimpin, apalagi kepala sekolah, tidak bisa dibentuk hanya dalam waktu singkat. Dibutuhkan perjalanan panjang, pembelajaran nyata, dan proses pembinaan berkelanjutan untuk mencetak pemimpin yang matang, visioner, dan berdampak.
Tapi di sisi lain, saya juga tidak menutup mata terhadap kontribusi positif PGP dalam membangun kompetensi kepemimpinan yang reflektif dan adaptif. Program ini menawarkan ruang belajar yang luas, sekaligus menanamkan semangat transformasi pendidikan dari dalam. Dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan kolaboratif, para peserta dibekali keterampilan untuk menjadi penggerak di lingkungan masing-masing, baik dalam pembelajaran maupun dalam pengelolaan sekolah secara menyeluruh. Hanya saja, hal ini masih perlu adaptasi untuk merespon sebagian orang yang tidak memiliki pandangan yang sama tentang PGP.
Walau kini kebijakan berganti, saya percaya bahwa pengalaman dalam program PGP akan tetap relevan dan berdaya guna. Apa yang saya pelajari, refleksikan, dan praktikkan dalam program ini telah menjadi bagian dari proses tumbuh saya sebagai pendidik.
Untuk itu, meski arah kebijakan berubah, semangat untuk terus mengembangkan diri dan memberikan kontribusi terbaik dalam dunia pendidikan harus tetap menyala. Karena sejatinya, pendidikan tidak pernah statis. Ia adalah proses panjang yang dibentuk oleh dedikasi, keberanian untuk berubah, kemauan untuk terus belajar, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menciptakan pendidikan yang lebih inovatif dan relevan. Bagi kita yang terlibat di dunia pendidikan, memahami pro dan kontra dari kebijakan semacam ini adalah langkah penting untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kini, meskipun jalan yang saya tuju tak lagi searah dengan rencana awal saya, saya tahu bahwa mimpi untuk membawa perubahan di dunia pendidikan belum selesai. Justru di sinilah tantangannya, melangkah meski peta telah berubah, berjuang meski arah tak lagi sama. Karena sejatinya, pendidik adalah mereka yang tak pernah berhenti belajar dan menyalakan harapan.
Terakhir, tulisan ini murni lahir dari pengalaman pribadi dan sudut pandang yang terbentuk dari proses panjang dalam dunia pendidikan. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menyinggung pihak manapun. Justru, melalui tulisan ini, saya ingin berbagi semangat dan mengajak kita semua untuk terus berupaya memperbaiki dan memajukan pendidikan dari tempat kita masing-masing.
Mewujudkan pendidikan yang baik dan berkualitas bukanlah perkara instan. Ia menuntut komitmen, ketekunan, dan kerja sama dari berbagai pihak. Terlebih lagi, jika arah pendidikan yang kita cita-citakan adalah pendidikan yang melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara spiritual—paham agama, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Salam hangat,
Eko Puspito
*) Kepala Sekolah SDTQ Al-Furqan Garut | Mahasiswa S2 IAI PERSIS Garut Prodi MPAI
Dalam hidup, kita sering kali berhadapan dengan orang-orang yang menilai kita dari masa lalu. Mereka mungkin melihat kesalahan yang pernah kita buat dan menjadikannya sebagai alasan untuk menolak kehadiran kita. Namun, apakah kita harus memaksa mereka untuk menerima kita? Tidak. Kita tidak perlu bergantung pada penerimaan orang lain untuk menemukan nilai dalam diri sendiri.
Allah telah menciptakan setiap manusia dengan keunikan dan kesempatan untuk berubah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki peluang untuk memperbaiki diri dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu merasa kecil atau terpuruk karena masa lalu. Sebaliknya, jadikanlah pengalaman sebagai pelajaran dan batu loncatan menuju masa depan yang lebih cerah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan tentang pentingnya perubahan dan kesempatan kedua. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
"Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
Maka, jangan biarkan penolakan orang lain menghentikan langkahmu. Jika mereka tidak bisa melihat siapa dirimu sekarang dan hanya terpaku pada masa lalumu, biarkan mereka pergi. Teruslah melangkah dengan keyakinan bahwa perubahan itu nyata, dan setiap usaha yang tulus akan membawa hasil.
Dunia ini penuh dengan orang-orang yang akan menghargaimu atas siapa dirimu saat ini, bukan atas kesalahan yang telah lalu. Bangkitlah, perbaiki diri, dan jadilah pribadi yang lebih baik tanpa merasa perlu memaksakan diri untuk diterima. Allah adalah sebaik-baiknya penerima hamba-Nya yang berusaha kembali ke jalan-Nya dengan penuh kesungguhan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apapun yang Allah takdirkan untukku, aku yakin itu yang terbaik menurut-Nya. Aku tidak berharap banyak, agar aku bisa menjalani hari-hariku dengan tenang, menjadi lebih tabah dalam menghadapi segala hal yang terjadi, menjadi lebih lapang jika ada rencana yang tidak sesuai dengan harapan.
Aku tidak menyalahkan siapapun atas segala rasa yang tercipta, aku kembalikan semuanya kepada diriku, mungkin ada peranku yang Allah tidak ridhoi disana.
Tidak pernah sekalipun aku menyesal atas setiap pilihan yang telah kuambil, baik pertemuanku dengan seseorang, pilihanku dalam pekerjaan, dan langkah yang aku tuju, sungguh aku telah bersyukur atas semua yang telah kupilih dalam mengarungi hidup memasuki usia 31 tahun ini.
Akhir-akhir ini aku merasa banyak sekali pikiran yang tidak bisa aku luapkan. Kegiatanku sehari-hari tetap sama, tidak ada yang berbeda. Tidak ada upgrade. Pagi berangkat mengajar, sore pulang ke rumah.
Kemarin malam Unaysah tidur enggak seperti biasanya, Unays tidur “gagah” sekali sampai aku ditendang-tendang olehnya. Saking kesalnya karena ditendang, aku sampai hati membangunkan Unays karena kekesalan itu. Hingga akhirnya aku pindah tidur di sofa di tengah rumah.
Saat subuh, selepas bangun tidur. Aku melamun. Apa aku tidak keterlaluan membangunkan Unays yang sedang tidur karena hal sepele yang dilakukan anak usia lima tahun? Apakah kekesalanku hanya sebatas pelampiasanku saja yang capek karena pekerjaan?
Sebelum Unays bangun, aku hampiri Unays yang masih tidur pulas. Aku peluk. Kucium bau keringat tidur yang keluar khas dari tubuhnya. Sesekali aku ucapkan seuntai do’a tepat diatas kepalanya.
Aku menyesal.
Ketika Unays bangun, kutanya, “Unays tadi malam abati marah-marah. Unaysah takut ya?”
“Enggak.” Jawabnya singkat lalu keluar kamar dan langsung bermain seperti biasa.