Aku mengingat kembali semua peribahasa tua yang dicekokkan ke dalam kepalaku sejak bangku sekolah dasar.
Aku diajari mengunci hewan-hewan dalam kotak metafora moralitas manusia. Salah satunya, buaya. Air mata buaya (bahwa buaya menangis saat memakan mangsanya. Dan kita selanjutnya menggunakan citra tersebut secara metaforis untuk mengecam kesedihan yang munafik atau pura-pura), lelaki/wanita buaya darat. Mereka dijadikan lambang pengkhianatan. Menurutku, itu fitnah terbesar bagi buaya yang di rawa sana mungkin sedang menjaga telurnya dengan khusyuk.
Tak ada seekor hewan pun yang pernah mendaftar menjadi simbol keburukan manusia. Kita yang menyeret mereka ke dalam pengadilan moral yang bahkan bukan milik mereka. Hewan tidak hidup dalam kategori mulia atau hina sebagaimana manusia memahaminya. Mereka hanya menjadi hewan, menjalani fitrah yang ditetapkan bagi mereka.
Berselingkuh, berkhianat, berbuat jahat, dan manipulatif adalah pilihan moral manusia itu sendiri. Tapi malah dikambinghitamkan seolah-olah perilaku buruk itu adalah "sifat hewani" yang tidak bisa dikendalikan.
Manusia, oh manusia, hobi sekali memfitnah alam demi menyelamatkan mukanya sendiri.
Namun rupanya kebiasaan membuat hierarki tidak berhenti pada relasi manusia dengan alam. Kita juga gemar menyusun tangga kemuliaan di antara sesama manusia. Ada yang kita anggap lebih pantas dihormati, ada yang kita dorong ke dasar serendah-rendanya, seolah kita diberi wewenang menentukan kadar martabat seseorang.
Ini bermula saat mataku menangkap pernyataan seorang mutual. Katanya, penyuka sesama jenis adalah manusia yang lebih rendah dari hewan.
Kalimat itu bisa mencerminkan beberapa niat— kemarahan, penghinaan, atau kesombongan—tergantung niat dan konteks orang yang mengucapkannya. Jika bukan kesombongan, seseorang bisa saja ia mengucapkannya karena sedang marah atau ingin mengecam suatu perilaku.
Marah memang tidak otomatis berarti sombong. Namun, kemarahan juga tidak otomatis membenarkan penggunaan kata-kata yang menghina martabat manusia.
Lagi-lagi, hewan dibawa-bawa. Mengapa kita begitu gemar membuat hierarki untuk sesuatu yang tidak kita pahami?
Hanya karena bisa berjalan tegak di atas dua kaki, memakai setelan jas, memegang gawai pintar, kita merasa berada di puncak piramida jagat raya? Padahal kalau dipikir-pikir, jika besok bumi diguncang gempa atau dihantam nuklir, mungkin saja kecoa, salah satu hewan yang digadang-gadang sebagai makhluk menjijikkan, akan memenangkan taruhan kelangsungan hidup.
Kita boleh saja diberi kedudukan khusus sebagai khalifah atau dimuliakan (laqad karramnā banī Ādam). Namun, kita ini ringkih. Hanya makhluk karbon yang gampang mati jika pasokan oksigen di-stop lima menit saja, tapi ego kita bertingkah seolah kita yang menciptakan gravitasi.
Memang, lewat sebaris kata, kita tidak bisa memastikan apakah orang tersebut sedang sombong atau hanya marah. Namun, bisa dikatakan bahwa kalimat tersebut tetap bersifat merendahkan manusia, dan itu merupakan ucapan yang patut dihindari, apa pun motifnya.
Agama yang kupeluk mengenal amar makruf nahi mungkar. Namun, nahi mungkar tidak identik dengan menghapus kemuliaan manusia sebagai ciptaan Allah.
Kita bisa meyakini suatu perbuatan adalah dosa tanpa harus menyatakan bahwa pelakunya "lebih rendah dari hewan". Menolak suatu perbuatan bukan berarti harus mencabut martabat pelakunya. Membenci dosa tanpa merasa lebih suci daripada pendosanya.
Allah Maha Mengetahui keadaan hati, perjuangan, taubat, dan akhir kehidupan seseorang.
Rasulullah bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Hadis ini sahih dan cukup menjadi peringatan tegas bahwa penyakit terbesar manusia bukan sekadar dosa yang tampak, tetapi juga yang setersembunyi rasa lebih mulia daripada orang lain.
Ada pula sebuah kisah hikmah yang sering dinisbatkan kepada Umar ibn al-Khattab. Riwayatnya memang tidak dapat dipastikan keabsahannya sebagai peristiwa sejarah. Namun nilai moral yang dikandungnya selaras dengan ajaran rendah hati (tawaduk). Maka izinkan kutulis sebagai pengingat kita semua.
Umar ibn al-Khattab meminta putranya pergi mencari seseorang yang lebih rendah atau lebih hina daripada dirinya. Sang anak berkeliling. Namun setiap kali bertemu seseorang, ia selalu menemukan alasan untuk tidak merasa lebih baik dari mereka.
Akhirnya ia melihat seekor anjing (dalam beberapa versi, babi). Ia sempat berpikir, "Mungkin makhluk ini lebih rendah dariku." Namun ia segera mengurungkan niatnya sambil berkata, "Siapa yang tahu? Bisa jadi di sisi Allah ia lebih baik dariku, sedangkan aku justru berakhir lebih buruk."
Ia kembali kepada ayahnya tanpa membawa siapa pun. Kemudian Umar ibn al-Khattab berkata bahwa itulah pelajaran yang ia harapkan. Jangan merasa lebih mulia daripada siapa pun, karena hanya Allah yang mengetahui akhir kehidupan setiap makhluk.
Kita memang diajari bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Al-Qur'an bahkan menyatakan, "Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam" (QS. Al-Isra' [17]:70). Ada dasar teologis yang jelas bahwa manusia memiliki kedudukan istimewa dibanding makhluk lain (aku berpikir bahwa dibanding makhluk lain yang di maksud di sini bukan seluruh makhluk secara mutlak). Namun, Al-Qur'an juga berkali-kali mengingatkan bahwa kemuliaan sebagai karunia Allah tidak sama dengan merasa diri lebih mulia daripada sesama manusia.
Ada kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada seluruh anak Adam sebagai manusia. Ada pula kemuliaan di sisi Allah yang bergantung pada ketakwaan. Yang pertama adalah anugerah. Yang kedua adalah penilaian Allah. Kita menerima yang pertama, tetapi tidak diberi wewenang menetapkan yang kedua.
Tulisan ini memang bermula saat mataku menangkap pernyataan seorang mutual yang menyatakan penyuka sesama jenis adalah manusia yang lebih rendah dari hewan. Namun, ini tidak bergantung pada siapa objek yang saat ini sedang dibicarakan. Hari ini mungkin penyuka sesama jenis. Besok mungkin pezina. Lusa mungkin pemabuk. Minggu depannya mungkin saja kita.
Yang berubah hanya objeknya, namun logika yang mengekori dan menghakiminya tetap sama.
Tidak kutulis untuk bertanya siapa yang paling berdosa. Lewat tulisan ini, aku sedang mempertanyakan, mengapa banyak manusia begitu gemar merasa paling mulia?
Afalā tatafakkarūn. Afalā ta‘qilūn.