Review - Timun Jelita 1&2
Berawal dari keisengan mendengarkan podcast Raditya Dika, beberapa kali Raditya Dika bercerita dia bikin band dan bermusik, tapi dia perlu bridging ke hal tersebut dengan cerita (Hal yang menjadi kekuatannya dia) maka lahirlah novel Timun Jelita ini, yang menceritakan perjalanan seseorang berumur 40an Tahun dan sudah menikah dan kemudian menemukan kembali mimpi-mimpinya yang dahulu sudah terkubur melalui musik. Meskipun ciri-ciri yang diberikan kepada Timun sepertinya berbeda dengan Raditya Dika, tetapi entah kenapa karakter Timun ini seperti mengundang bayangan tentang Raditya Dika sendiri. Kemudian di Novel tersebut Timun bertemu dengan sepupu nya yang gen Z dan masih berkuliah bernama Jelita. Singkat cerita, kedua orang tersebut membuat band bersama dengan nama Timun Jelita.
Kemampuan seorang Raditya Dika dalam menuliskan cerita sudah tidak perlu di ragukan lagi, buku ini menampilkan humor khas-nya yang menghibur, tidak jarang juga di selipkan tek-tok (pertukaran kata-kata) yang biasanya dibawakan pada saat Ia perform Stand-Up Comedy, namun karena ini dalam bentuk Novel, tek-tok tersebut juga memiliki kekuatannya sendiri, karena kalau saat stand-up semua nya dilakukan oleh Raditya sendiri, di Novel ini dilakukan oleh beberapa karakter, mirip seperti adegan film.
Karena Novel ini merupakan Novel musikal, yang membuat saya kaget juga, ketika kita cari di Spotify judul-judul lagu di buku tersebut, ternyata sudah dibuat beneran oleh Raditya Dika, dan seperti di Novel dimana vokalisnya adalah Jelita, disini Mutiara Amadea yang menjadi vokalis, tetapi bedanya di dunia nyata mereka berdua bukan saudara sepupu seperti yang digambarkan di Novel. Pengalaman membaca novel dan mendengarkan musiknya, menjadi semacam pengalaman yang berbeda, seakan-akan kita jadi bisa mendalami lebih jauh cerita-cerita di Novel nya, dan suara Mutiara Amadea, membuat lagunya tidak susah untuk dinikmati, persis seperti yang digambarkan di cerita novel tersebut, dimana sewaktu Jelita bernyanyi penonton bisa mengikuti nya dengan mengangguk-angguk.
Membahas mengenai Novel ini sendiri, selain menghibur, ada nilai yang sekira nya bisa ditarik, sesederhana, seseorang yang sudah cukup matang, seperti Timun yang berumur 40an tahun, ternyata masih bisa mengejar mimpi yang sebelumnya sudah lama terkubur, meskipun novel ini fiksi, tetapi dengan melihat Raditya Dika yang bisa membuat novel dan lagu ini, sepertinya memang tidak ada yang namanya "manusia expired", yang ada hanyalah kita yang mengubur mimpi dan membatasi diri kita sendiri.
Selain itu, mungkin selama ini pikiran kita terkungkung dengan stereotype dari masyarakat, sehingga, merasa aneh aja, kalau diumur "matang" baru mencoba mengejar mimpi, padahal bisa saja itu menjadi jalan kita untuk menemukan jati diri kita yang sebenar-benarnya, atau mungkin usaha kita menemukan jalan hidup kita yang sebelumnya tertutup dan membuat kita terkungkung, sedangkan di masyarakat, kebanyakan melihat, diumur yang sudah "matang" lebih baik kita bekerja sesuai "alur-nya" entah kerja kantoran sampai pensiun, atau mengerjakan aktifitas hari-hari tanpa banyak aneh-aneh karena resiko nya terlalu besar.
Ada yang bilang, hubungan antar generasi itu sesuatu yang sulit, lagi-lagi dalam cerita di novel ini, kita melihat Timun dan Jelita yang terpisah jarak generasi, dimana Timun mungkin Milenial awal dan Jelita Generasi Z pertengahan (atau akhir), tetapi bisa bekerja sama dan menelurkan karya, yang dibutuhkan adalah kelapangan dada dari kedua belah pihak dan pikiran yang terbuka, mungkin selama ini yang selalu menjadi ganjalan adalah salah satu pihak meninggikan ego nya, sehingga pihak yang lain merasa tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
Selain menghibur dengan novel yang sangat ringan, kita juga diajak untuk merenungkan kehidupan kita, apakah kita sudah menikmati hidup dan menjalankan kehidupan ini sesuai dengan passion atau panggilan hidup kita? Selamat membaca!


















