Review Film - Hunger (2023)
Karena sering lalu lalang muncul di feed instagram saya, film ini sebetulnya sudah lama mau saya tonton, karena kok sepertinya cukup seru dan menegangkan, cuplikan adegannya itu ketika si karakter utama, Aoy yang disuruh mengulang-ulang memotong daging, sesuai tuntutan dari Chef kepala dari "Hunger", yaitu Paul, inilah yang mendorong saya pada akhirnya menonton film ini di platform Netflix.
Kesan saya setelah menonton film ini sebetulnya bercampur aduk, ada rasa ngeri, excited, tegang, dan seru, Film ini pun bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang, kita bisa melihat nya dari sudut pandang pengejaran karir individu, atau perjalanan seseorang mengejar ambisi pribadi menjadi yang terbaik di bidangnya, atau dari sudut pandang pemilik bisnis yang terkadang ada yang beruntung ada yang tidak dan harus gugur atau gulung tikar, ataupun kita memandangnya sebagai cerminan budaya dan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kita, yang mengagungkan uang, ketenaran dan kekuasaan.
Sejak awal Film kita bisa melihat bagaimana kaum super kaya itu, selain suka pengalaman yang "berbeda", mereka dengan status sosialnya, seakan ingin selalu mempertegas, kalau dia adalah yang terbaik dan terkaya, dan ego inilah yang sebetulnya dimanfaatkan chef Paul, yang ia beri makan adalah "Ego" para orang kaya tersebut, dan mungkin makanan yang dihasilkan benar-benar enak (di dalam film).
Kemudian, sudut pandang beralih ke Aoy, yang hidup di keluarga pemilik kedai makan, yang hidupnya bisa dibilang pas-pasan yang kemudian mendapat kesempatan untuk mendapatkan karier yang lebih baik melalui naungan Hunger milik Chef Paul. Disini kita bisa melihat kekuatan tekad dan mungkin "Grit" ditunjukkan dengan sangat baik, singkat cerita Aoy mendapatkan apa yang Ia mau, tetapi dengan banyak pengorbanan, Ini kita bisa lihat juga, dalam kehidupan, sering kali ambisi pribadi itu memiliki harga yang harus dibayar, entah keluarga berantakan, dijauhi orang-orang ataupun kehilangan diri sendiri.
Dari sudut mata pemilik bisnis juga tidak kalah menarik untuk kita telaah, bisnis itu bukan single man show (meskipun saat ini banyak juga karena AI), karena ada banyak pihak yang terlibat, perlu diperhatikan bahwa bisnis itu seharusnya mendatangkan rezeki untuk pihak-pihak tersebut, ketika, tidak ada manfaat yang didapatkan, disitulah bisnis tidak sehat, terutama ketika tim mulai melakukan kecurangan karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, disitulah seorang pemilik bisnis seharusnya melakukan evaluasi. Dunia bisnis itu dunia yang kejam, ketika tidak bisa mengeksekusi suatu ide bisnis dengan baik, bisa jadi kita akan bangkrut, karena bisnis tidak semata produk bagus, maka kita akan sukses, ada banyak sekali contoh produk bagus tidak laku karena marketingnya tidak ada, atau tidak ada "needs" atau "demand", bagaimanapun bisnis itu harus ada yang membeli agar roda nya berputar. Ada bagian film yang menurut saya pribadi cukup menampar, seberapapun kita membutuhkan suatu deal, tetapi ketika ada norma sosial atau etika yang dilanggar, dan semua orangnya pura-pura tidak mengetahui, itu adalah suatu pertanda bisnis kita bisa sedang berada dalam masalah.
Fenomena selanjutnya adalah di masyarakat saat ini, semua orang berlomba untuk menjadi si paling kaya, si paling tenar dan si paling berkuasa, ini pula yang sering kali menjebak seseorang kedalam jebakan orang jahat seperti chef Paul, kenapa saya bilang orang jahat, karena Ia bisa memberikan makan ego yang selalu lapar akan pengakuan, padahal sedang dikeruk kekayaannya untuk sesuatu yang mungkin omong kosong, contoh mungkin kita bisa melihat baju seharga jutaan atau mungkin miliaran dengan bahan yang mohon maaf, tidak lebih bagus daripada baju yang bisa dibeli di marketplace dengan harga murah, hanya karena ada sebuah brand atau logo yang disematkan kepada nya. Dan di hadapan chef Paul, orang-orang "Kaya" tersebut menunjukkan karakter aslinya yang menjijikan dan sadis, seperti orang keji yang rela menyantap apapun demi memuaskan hasrat dan ego nya, ini juga bisa kita jumpai disekitar kita, banyak orang rela menghalalkan segala cara hanya untuk memberi makan "ego" nya, bisa dengan korupsi, membunuh dan lainnya. Dan, ketika kekuasaan adalah yang utama, pertunjukan kekejaman bisa dengan mudah dilakukan dan dipertontokan seperti saling serang hingga saling membunuh, agar pada akhirnya cuma Ia sendiri yang berkuasa, sedihnya itulah yang terjadi di masyarakat kita, menghalalkan segala cara agar kita menjadi yang nomor satu.
Konklusi film ini pun sebetulnya sangat menarik, mengejar, ambisi, ego ataupun "rasa lapar" tidak akan pernah habis, manusia itu tidak pernah puas, selalu akan ada "what's next" atau "apalagi setelah ini?", perlu kesadaran penuh di dalam diri, batas mana yang ingin kita capai dan cukupkanlah diri kita dengan hal tersebut, disanalah kita akan merasa bahagia dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain ataupun kehilangan diri kita. Film ini sangat bagus, tapi perlu diperhatikan, film ini bukan untuk semua umur, dengan segala kesadisan dan kevulgaran yang ditunjukkan. Selamat menonton!







