H-29 'Idul Fitri: Hanya Untuk Allah
Di penghujung hari pertama Ramadlan ini, melakukan kebaikan untuk orang lain adalah hal yang paling membahagiakan, meskipun hanya menjadi muadzin. Hal itu mungkin sudah biasa dilakukan kebanyakan orang, namun berbeda ketika melakukannya di bulan Ramadlan. Kita rela berbuka hanya dengan seteguk air, lalu mulai mengumandangkan adzan sebagai tanda untuk berbuka telah tiba. Dan di saat itu juga ribuan orang sedang menikmati hidangan berbuka. Tidak ada yang membuat bahagia bagi seorang yang sedang melaksanakan puasa selain telah tiba waktu berbuka. Saya selalu beranggapan, bahwa setiap orang pernah berbuat baik, entah untuk diri sendiri atau orang lain. Mereka yang hari ini terlihat jahat dan melakukan hal yang tidak disukai oleh sebagian orang pun, pasti pernah melakukan kebaikan, entah itu ketika dia masih anak-anak atau remaja walau sesederhana menyingkirkan duri dari jalanan atau sejenisnya. Ini adalah fitrah manusia. Mereka akan melakukan kebaikan dan hati mereka akan ragu bahkan menolak untuk melakukan keburukan. Ini adalah keimanan. Dalam setiap perbuatan, tujuan (atau lebih tepatnya niat) pasti akan selalu menyertai. Ketika melakukan kebaikan, pasti punya niat, kenapa melakukan kebaikan dan untuk apa melakukan kebaikan. Tanpa perlu dan harus diucapkan lisan, niat pasti akan selalu menyertai. Rasulullah Saw bersabda: "Innamal a’malu binniyaat", bahwa sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Hanya saja, untuk siapa perbuatan yang kita lakukan itu? Agar perbuatan kita selalu membuahkan kebahagiaan dan pahala, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain, maka niatkan perbuatan kita itu hanya untuk Allah saja. Garut, 06 Juni 2016 – 18.37 Wib.









