"Jangan dilepas! Sedikit lagi.... Kumohon.... Jangan jatuh...."
Di tepi lubang besar itu, sesosok manusia dengan pendar cahaya tipis di sekitarnya sedang memegang erat tangan seseorang pemuda.
Tubuhnya penuh luka, bergelantungan di atas lubang yang dalamnya entah sampai mana. Matanya sayu nyaris terpejam, ia tidak bisa mengenali sosok yang menyerunya dari atas.
"Ah... Badan ini rasanya seperti tali yang ditarik... Siapa sebenarnya yang memegangiku itu? Kenapa kakiku berat sekali?"
Dia menengok sedikit ke bawah, dan terkaget saat melihat kakinya digelayuti beberapa sosok abu-abu pekat. Mereka menarik menghentak seakan memaksa ia melepaskan pegangannya.
"Ahh aku sudah tidak kuat... Apa sebaiknya aku lepas saja peganganku? Sakit sekali..."
"Jangan dilepas.... Naiklah ke sini.... Masih banyak yang menunggumu...."
"....Sebenarnya aku di mana? Siapa yang di atas sana? Kenapa kakiku ditarik seperti ini?"
Pegangannya mengendur... Sedikit demi sedikit, pemuda itu kehilangan kekuatannya.
"Kupikir sudah cukup. Aku tidak kuat lagi... Siapapun itu yang di atas sana, entah sebenarnya apa yang terjadi, tapi rasanya... Aku harus berterima kasih dan minta maaf.... Ahh ya, benar. Terimakasih banyak.... Dan... Maaf."
Genggamannya terlepas, ia dan beberapa sosok abu-abu yang sedari tadi menggelayutinya terjatuh jauh ke bawah. Pendar cahaya dari sosok di atas pun sedikit demi sedikit memudar lalu kemudian lenyap.
Kriiing! Kriiing! Kriiing! Kriiing!
"Hahh! Apa itu tadi? Di mana ini?"
Jantungnya berdetak kencang tak terkira. Keringat dingin menetes dari dahinya. Ia segera menyisir pandangan ke sekitar. Meja kayu, rak buku, lemari plastik dan sofa kecil. Dia pun menghela napas panjang. Ia ada di kamarnya. Terbangun karena jam waker di sampingnya.
"Mimpi apa itu tadi? Mengerikan sekali... Oh iya, jam berapa sekarang? Ah sudah jam 7 pagi, sebaiknya aku mandi dulu."
Sambil menggenggam secangkir teh hangat, ia duduk di kursi kayu yang diletakkan di samping ranjangnya. Smartphone nya bergetar, ada panggilan dari salah satu temannya.
"Ah ya, Wa'alaykumussalam!"
"Oi, Mi... Pesanku itu lho dibalas lhaa. Jangan bilang kau baru bangun?!"
"Oh ada pesan darimu? Maaf belum kubuka. Aku juga bukannya baru bangun. Aku sudah bangun setengah jam yang lalu."
"ITU ARTINYA BARU SAJA BANGUN! Ya ampun, kau ini Fahmi yang kukenal bukan, sih? Setidaknya cobalah untuk bangun sebagaimana mestinya?"
"Ah yaa yaaa. Akan kucoba. Jadi ada apa?"
"Kau ini... Liburan kali ini kau pulang ke desa tidak? Banyak sekali yang menanyaimu. Aku tidak tahu lagi harus jawab apa lagi."
"Sepertinya tidak. Aku tidak bisa pulang. Bilang saja masih banyak urusan. Tolong jawabkan untukku ya, Wend. Ah iya, aku harus pergi dulu sekarang, daah."
"Oi tunggu dulu, Mi. Jangan tutup du ~~~"
Tuuut.... Tuuut.... Tuuut....
Fahmi meletakkan smartphone nya di meja. Begitupun cangkir teh di tangannya. Pandangannya sayu mengarah ke bawah.
"Maaf, Wen... Aku pun sudah tak kenal lagi dengan diriku... Setidaknya setelah 2 tahun ini..."
Pagi itu, cahaya matahari tertahan oleh pekat awan yang mengambang di langit. Tetes kecil air hujan membuat udara semakin dingin. Sebagaimana tak mampunya cahaya pagi menyepuh bumi sebab tertahan awan hujan. Pagi itu, ada banyak luka yang tak mampu ter-raba, ada banyak rasa yang tak mampu diwakili kata, ada banyak tembok yang menghalau pandangan untuk memahami dan mengerti....
Tentang apa yang sebenarnya sedang dan telah terjadi...