Aku selalu cemburu pada sang surya.
Ia selalu dikelilingi banyak orang,
disukai semua mata yang menatapnya.
Orang-orang berangkat dan beraktivitas saat ia muncul.
Sementara aku... hanya jadi pertanda hari akan berakhir.
Aku mengejar sang surya,
tapi langkahnya terlalu cepat,
jarak kami terlalu jauh.
Ia terlalu sempurna—
dan semua orang lebih memilihnya dariku.
Setiap kali aku berhasil menyentuhnya,
itu pun hanya sesaat...
karena sang surya segera terlelap dalam tidurnya.
Aku tak pernah sempat bicara.
Hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.
Sang surya selalu tampil lebih lama,
selalu mendahuluiku saat kami berpapasan.
Hingga suatu hari,
sang surya datang kepadaku dan berkata,
“Kau lebih banyak disukai orang dibanding aku, senja.
Mereka mengeluh saat aku datang,
tapi saat kau tenggelam,
mereka justru menikmati keindahanmu.
Sebenarnya... akulah yang iri padamu.”
Aku hanya terdiam.
Aku tahu, ia hanya sedang merendah.
Aku tak menggubris ucapannya.
Karena itu takkan mengubah apa pun di mata mereka.
Sang surya tetap yang paling dicintai,
dipuja, dan disukai oleh banyak orang.