Bersuara
Hari-hari yang akan datang nanti, aku tak menahu akan di mana diriku berada. Hal apa yang akan menjadi sibukku mengisi waktu hingga akhir pekan itu. Serta, tanggal merah yang bagaimana untuk menjadi jeda dari hiruk pikuknya rutinitasku.
Banyak sekali keabu-abuan hari ini. Banyak pula keresahan yang ku simpan sendiri. Di sini, mewakili banyak pasang mata yang ada, dunia hari ini mencekik apapun dan siapapun yang berniat tulus menghidupi bumi. Sebentar, dunia terlalu luas digambarkan untuk mencekik. Ada kata yang jauh lebih jelas dan sederhana untuk bisa dipahami, para pemimpin bangsa ini.
Katanya, bermimpilah setinggi angkasa. Namun, angkasa kini telah tertutup gas beracun dari aktivitas ilegal manusia di bumi. Bukan, bukan definisi angkasa secara literal maksudku.
Katanya, sedia payung sebelum hujan. Bahkan, hujan kini enggan turun lagi akibat pemanasan global yang salah satunya karena deforetasi. Bukan, bukan seperti itu arah maksud kalimatnya.
Katanya, buku adalah jendela dunia. Nyatanya, buku-buku di sini mahal sekali di pasaran. Bahkan, perlu bersikeras menyisihkan uang dari gaji kecilku demi satu buku impianku. Tak seperti negara tetangga yang mampu memberikan voucher buku gratis untuk pelajar. Lalu apa maksudnya jendela dunia? Di sini, yang katanya gratis adalah makanan bergizi gratis. Mutlak untuk seluruh pelajar.
Lantas mengapa? Bukankah makan pun menjadi kebutuhan utama manusia? Aku sedang tidak memperkarakan soal makan. Perkara paling agung di sini adalah soal gratisnya. Apakah betul-betul gratis? Bukankah bila mewujudkan sebuah peradaban maju di suatu tempat dimulai dari pendidikan? Semua negara maju di dunia ini berangkat dari pendidikan, tanpa terkecuali.
Pendidikan kini terdampak tercekik. Persoalan gaji guru, tata karakter siswa, fasilitas sekolah, administrasi kurikulum. Pendidikan terjebak di seputaran siklus itu lagi dan lagi. Apakah perlu menunggu para pemimpin digantikan oleh kami yang jatuh bangun menghidupi bumi ini? Ku rasa tak perlu gegabah seperti itu.
Berulang kali kita layangkan surat gugatan ketidakadilan di lapangan. Yang mungkin setelah diproses lalu menguap begitu saja. Para pemimpin itu sanggup menikmati pendidikan bergengsi di luar negeri. Lantas mengapa tak mampu mengadaptasi sistem pendidikan itu di seluruh pelosok negeri? Sebentar, aku terlalu berlebihan. Cukup benahi apa yang rusak di sini, tak perlu selalu membuat program-program baru yang dinarasikan mengikuti arus globalisasi.
Maka untuk mengakhiri keresahan berkepanjangan ini. Maaf saja apabila generasi yang ada belum mampu beradab sesuai hitam di atas putih yang menjadi pedomanmu itu. Maaf saja apabila bangsa ini akan terus melahirkan generasi yang seperti itu lebih ramai lagi. Akibat pendidikan yang tak mampu mereka jamah, akibat pendidikan yang tak mampu menyejahterakan mereka yang tulus menghidupi bumi.
• tsa's room | 10.34 pm | April 3, 2026










