Seutas Kisah Memeluk Lara
Sudah sebulan lalu, badai berlalu. Tapi, bekas dari reruntuhan itu masih terasa baru. Pertama kalinya, melihat Sang Dewi merintih atas rasa sakitnya yang luar biasa. Aku, terdiam. Tidak mampu mengekspresikan apapun. Sedih? Tentu. Tapi, tidak bisa ku tunjukkan. Seperti, ada yang memaksaku untuk menyembunyikannya. Lantas aku berpikir, "Kenapa ya, Tuhan sedang suka sekali memberiku luka? Apakah aku tidak berhak mendapatkan bahagia? Bahkan, luka kemarin saja belum kering."
Aku, diam lagi. Berpikir lama, "Tuhan kasih kejutan apa lagi ya, setelah ini? Apa itu luka lagi? Sepertinya begitu. Duniaku seperti tidak diizinkan untuk bahagia, mungkin?". Lantas, aku menciptakan definisi bahagiaku sendiri. Seperti yang sudah ku tulis kemarin. Aku bertolak dari rumah menuju perantauan dengan tangis di jalan yang tak henti-hentinya berhenti. Aku belum pernah sesedih ini meninggalkan rumah. Tapi, kala itu memang betul terasa sesak sekali.
Berhenti di jalan beberapa kali untuk meredakan, tapi tak berhasil. Sebenarnya, hari itu pun aku sangat lelah, sampai tidak bisa lagi merasakan lelahnya. Tapi benar, mata memang tidak bisa berbohong. Beberapa kali aku hampir menabrakkan diri, salah jalan, dan menangis lagi. Aku benci sekali menangis, tapi kala itu aku benar-benar menumpahkannya di jalanan menuju perantauan.
Aku mendengarkan musik, sesekali berteriak kecil kala mereka menyuarakan kesedihan. Ya, kala itu aku benar-benar sedang ingin menumpahkan semuanya. Karena sebelumnya, aku dipaksa untuk menyembunyikannya dari banyak orang. Sebelum bertolak ke kota, ada banyak sekali yang memelukku kasihan. Jujur, aku amat tidak suka. Aku tidak mau ditatap seperti itu. Tapi, ada satu yang tidak seperti itu. Perempuan itu memelukku dengan tatapan kagum—bangga. Ia memelukku lantas berkata, "Nak, saya belum pernah melihat anak perempuan sekuat ini, semoga Tuhan memberimu kesehatan selalu, ya."
Tangis ku hampir pecah, tapi syukur bisa tertahan. Aku keluar, mencari angin. Memeluk diri sendiri. Iya, aku sudah cukup kuat berkat kekuatan dari Tuhan. Tiba di perantauan, tangis berhenti. Berganti ekspresi siap menghadapi kenyataan yang sebenarnya lagi. Di kamar itu, tiba-tiba semua rasa sakit dalam tubuh baru terasa menyakitkan sekali. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, "Aku, kenapa? Aku tidak boleh sakit di sini. Nanti, merepotkan orang banyak." Nihil. Aku betulan jatuh sakit, sejatuh-jatuhnya. Mataku bengkak setiap hari, tidak bisa tidur dan hanya terus merintih sakit. Aku tidak memberi tahu siapapun, setelah esoknya ku putuskan pergi ke rumah sakit.
Dokter mengatakan, "Mbak, hebat sekali. Tidak terlihat sakit secara fisik, tapi tetap saja masuk kategori orang sakit. Jangan terlalu lelah Mbak, setelah ini harus istirahat. Besok harus sembuh, biar enggak ngulang mata kuliah." Aku cukup terkejut sekaligus bersemangat mendengar ucapan terakhirnya, seperti sebuah tamparan bagiku. Bahwa, aku masih memiliki tanggungjawab lain yang harus diselesaikan.
Selepas dari sana, aku mulai membuka semua referensi, mengoperasikan laptop. Mencoba melupakan semua rasa sakit dengan mengerjakan tugas yang telah bertumpuk. Hebat, ini pertama kalinya aku merampungkan tumpukan tugas itu satu hari. Setelahnya, aku baru bisa tertidur lelap. Lelap sekali. Aku lupa dengan rasa sakitnya. Esoknya betulan sudah lumayan membaik.
Sang Dewi, tak ku beri kabar hingga satu pekan. Aku tidak mau membuatnya semakin bersedih. Ku katakan, aku baik-baik saja dan kehidupan berjalan seperti biasanya. Saat ini, kita semua sedang belajar pulih bersama.
Melepas yang seharusnya memang dilepas. Mengikhlaskan segalanya yang terjadi, karena itu juga atas kehendak Tuhan.