Apa sih yang menjadi pertimbangan kita ketika memutuskan berbelanja di sebuah department store? Khususnya disebuah department store terkemuka dengan skala nasional dan cabang yang tersebar di nusantara?. Tempat nyaman, ber-AC, Harga jelas terpangpang serta berbagai kelebihan lainnya yang mungkin sulit untuk diimbangi oleh pasar tradisional.
Saya sendiri sejujurnya senang berbelanja atau sekedar âLihat-lihatâ di department store karena disana biasanya terdapat berbagai kebutuhan yang tidak dapat saya temukan di pasar tradisional. Selain itu pelayanan prima pun menjadi salah satu alasan saya mengapa senang datang ke department store.
Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya tiga kali datang ke sebuah department store yang menurut saya cukup unik dan layak untuk dibagikan. Disini saya tidak akan menyebutkan department store mana yang saya maksud karena saya bukan bermaksud untuk menjelekan department tersebut tapi lebih ingin berbagi pengalaman saja. Selain itu cerita ini terjadi bukan tepat berada di department store yang dimaksud melainkan di tempat parkir yang saya tidak tahu pasti apakah pengelola parkir merupakan department store itu sendiri atau menggunakan jasa pihak ketika.
Cerita ini berawal ketika bulan lalu saya diajak teman untuk merayakan ultahnya di area Foodcourt sebuah department store. Ketika itu saya datang menggunakan sepeda motor dan parkir diarea basement. Setelah lama bercengkrama dan makan bersama sayapun akhirnya kembali pulang tanpa curiga membayar parkir sebesar Rp. 3.000 sesuai apa yang tagih oleh penjaga pos parkir. Saya tidak melihat monitor ataupun meminta struk karena saya rasa dengan durasi saya berada disana dan tarif Rp. 3000 adalah hal yang wajar.
Selang beberapa minggu, memasuki pertengahan ramadhan saya kembali ke deparment store tersebut untuk membeli bahan masakan untuk berbuka puasa. Ketika itu saya yakin meski tanpa memperhatikan jam masuk, saya tidak berada didalam sana lebih dari 60 menit. Dan ketika selesai berbelanja dan memasuki pos parkir sambil menyodorkan karcis parkir, penjaga parkir menagih uang parkir sebesar Rp. 3000. Ketika membayar pun sejujurnya tidak telalu memperhatikan apapun terkait monitor, tarif bahkan ketika selepas membayar saya pun bergegas pergi tanpa mengambil struk parkir karena harus menyiapkan hidangan berbuka puasa.
Keanehan justru saya sadari ketika perjalanan dari department store tersebut dimana saya merasa berbelanja tidak lebih dari 60 menit tapi kok tarifnya sama seperti dulu ketika merayakan ultah teman di tempat yang sama dengan durasi yang lama?. Karena memang pada saat itu saya hanya mengandalkan âPerasaanâ saya pun tidak ingin berburuk sangka namun menjadi lebih waspada karenanya.
Hari ini saya kembali ketempat department tersebut untuk berbelanja. Namun, tadi saya menjadi super teliti bahkan ketika hendak masuk dan mengambil karcis parkir, saya perhatikan papan tarif. Di papan tarif jelas tertulis :
Parkir Motor
Satu jam pertama Rp. 1.000
Maksimal Rp. 3.000
Setelah mendapatkan tempat parkir, saya pun memasuki area department store sambil melihat pukul berapa tepatnya saya memasuki parkiran. Disana tertulis pukul 17:23:50 saya masuk ke area parkir. Singkat cerita setelah selesai berbelanja dan hendak pulang, di area parkir saya melihat jam tangan dan ketika itu menujukan pukul 18.05. Saya pun berasumsi bahwa karena belum lebih dari 60 menit, mestinya saya hanya wajib membayar Rp. 1.000 sesuai dengan tarif yang terpangpang.
Selang beberapa saat ketika saya akan membayar di pos parkir, ada hal ganjil yang saya temukan. Di pos tersebut memang terdapat monitor LED yang akan menunjukan seberapa besar tarif parkir yang harus dibayar. Namun, digit pertama pada monitor tersebut terhalangi oleh pos sehingga yang terlihat hanya X000, kita menjadi tak tahu berapakah angka X karena terhalangi pos. Ketika saya memberikan karcis parkir dan penjaga pos mulai memasukan data kendaraan, si penjaga dengan santainya menagih âDua ribuâ, saya yang tidak tahu tarif sebenarnya karena memang tidak terlihat di monitor langsung meberikan uang Rp. 2000. Namun, ketika palang pos sudah terbuka saya langsung menagih struk parkir dan lucunya ketika penjaga memberikan struk parkir, ia juga memberikan kembalian Rp. 1000 padahal ia meminta Rp. 2000 dan saya pun memberikannya uang Rp. 2000 tapi kok malah ada kembalian?. Artinya saya mendapat diskon parkir sebesar 50% hanya dengan menagih struk parkir.
Peristiwa ini bagi saya cukup unik dan menarik untuk saya bagikan agar kita selalu waspada. Terkait berbagai pembayaran usahakan ambil struk bukti pembelanjaan, karena dengan adanya struk, itu merupakan bukti otentik dari berbagai pembayaran yang kita lakukan.
Jika ada yang bilang âHalah cuman seribu doang, lebayâ saya akan balas dengan âYa memang cuman seribu, tapi ada berapa ratus kendaraan yang parkir disana setiap harinya?â Belum lagi jika masalah ini disadari oleh khalayak, citra perusahaan tentunya akan tercoreng hanya karena parkiran dan nilai seribu tersebut.
Kasus ini akan saya coba follow up ke pihak department store untuk dicarikan solusinya bagaimana mengingat hal seperti ini yang seringkali dipandang hal kecil bisa berdampak sangat besar.