MEMILIH RASA; Pilihlah yang Menentramkan Jiwa
Sore tadi tetiba di hubungi teman kerja, dia masih seusia denganku. Namanya Devy. Dia minta untuk ditemani ke rumah salah seorang 'teman' kerja kami juga. Agak sungkan sebenarnya menyebut beliau teman, karena beliau dulu guru kami saat Sekolah Menengah Pertama. Ibu Surati namanya.
Kami melajukan motor dengan kecepatan maksimal 40 km/ jam. Jalanan lengang. Tapi angin masih berisik menggoyang padi yang menunggu hari, sampai tiba masanya untuk dipanen.
"Gimana nih, udah mau nyampe. Jadi nggak yah Win" Suara Devy yang duduk diboncengan belakang terdengar gelisah.
"Udah nyampe depan rumah, jadiin aja yah" kataku meyakinkan.
"Aku nggak enak, takut ganggu" temanku ini memang rasa 'nggak enakannya' lumayan tinggi. Akhirnya aku yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam,
"Assalamualaikum" Tidak lama, langsung terdengar jawaban dari penghuni rumah. Kami segera berputar membelakangi pintu, menunggu tuan rumah mempersilakan masuk. Aku memperhatikan Devy, belum berubah. Masih gelisah.
Menunggu tuan rumah menyambut, Devy memberi wejangan, "Wina, kalau ada anaknya Bu Surati yang paling kecil, kita nanti jangan SKSD yah. Soalnya nanti dia jadi cranky. Nanti nggak enak sama Bu Surati"
"Loh kenapa" aku penasaran
"Anaknya yang paling kecil takut kalo sama orang asing, sama saudara, kalo jarang ketemu juga takut"
Bu Surati membukakan pintu, mempersilakan kami masuk. Kami mendiskusikan beberapa hal. Bukan kami sih, lebih tepatnya mereka wkwk. Aku ke mana? Jadi pendengar saja. Karena yang sedang dibahas bukan wilayah ku untuk ikut berkomentar. Di tengah obrolan, muncul makhluk mungil nan menggemaskan. Barangkali, adek ini yg tadi udah di wanti-wanti sama Devy agar kami tidak SKSD. Kami tersenyum melihat kehadirannya. Syakila namanya, usianya belum genap dua tahun. Tampak berbeda dari dugaanku. Aku mengira dia akan memasang ekspresi waspada melihat kami. Ternyata tidak, dia seperti mengajak berkomunikasi dengan tawa renyah sambil menjawab pertanyaan ibunya. Jadilah ku abaikan wejangan Devy sebelumnya. Adeknya komunikatif sekali, tampaknya mood nya sedang bagus. Setiap tanyaku dijawab dengan celotehan yang 'ramah' sorot matanya berbinar.
Pukul 5 sore lewat beberapa menit, akhirnya kami pamit untuk pulang.
"Bu, katanya Syakila liat orang asing takut. Kok sama kita kayaknya welcome" Devy melontarkan tanya
"Iya mbak, biasanya takut. Tapi kalo sama anak kecil enggak, malah seneng" Sahut Bu Surati. Aku dan Devy saling berpandangan, ngakak.
Membahagiakan seorang perempuan itu ternyata sederhana sekali yah. Cukup katakan, bahwa dia terlihat lebih muda dari usianya. Kalau pun terlihat biasa, sejatinya ada rasa bungah, percayalah. Meskipun untuk kasus kali ini, kami menyimpulkan secara sepihak. Karena kami tidak menyempatkan diri bertanya pada Syakila, begitukah realitanya?
Tidak apa-apa bukan? Kami memilih kesimpulan yang demikian. Memilih pilihan yang 'menentramkan jiwa' wkwkwk.
Sebelum benar-benar pulang, kami berdadah ria dengan Syakila, 'teman' baru kami. Ia membalas dengan lambaian tangan, masih dengan senyum manisnya, dan ditutup dengan kiss bye.