"Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat, padat, dan jelas"
Petunjuk teknis yang sering kita baca sebelum mengerjakan soal ulangan atau ujian. Semua jawaban tertulis karena adanya tanya, dan semua tanya seperti menuntut kita untuk segera menjawabnya. Lalu bagaimana petunjuk teknis, tanya-jawab persoalan hidup dan kehidupan?
Bagiku, tidak semua jawaban harus berawal dari tanya (iya kan?). Kadang ia harus dimulai sebagai bentuk kepedulian. Bentuk kasih sayang, untuk meyakinkan, bahwa ia bebas tumbuh tanpa khawatir kekurangan air, tapi tetap hangat di musim hujan.
Ngomong-ngomong soal hujan. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa ia seringkali turun terlalu pagi. Seperti hari ini, dan pagi-pagi sebelum hari ini. Membuatku memilih melangkah atau nanti. Karena aku tak tau, ia akan mereda atau semakin.
Tampaknya aku memang belum belajar dengan baik. Bahwa tidak semua tanya, harus segera ada jawabnya. Ada kalanya nanti atau bahkan tidak sama sekali.
Bertanya pun ada batasnya...
Tidak semua rasa ingin tau dan penasaran harus disembuhkan dengan tanya yang menuntut jawaban (pertanyaan tentang kapan? dan siapa? misalnya wkwk). Malu bertanya sesat di jalan. Bagaimana dengan salah bertanya?
Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Masih saja manusia saling menanyakan (siapa yang menciptakan ini dan ini) sampai mengatakan: Allah yang menciptakan segala sesuatu, lalu siapa yg menciptakan Allah?" (HR. Bukhari).
"Tidak ada mudharatnya (rugi) kalian tidak mengetahui sesuatu yang tidak ada mudharatnya kalau kalian tidak ketahui" (Umar bin Khattab).