Sang Pecinta
Satu per satu, penjaga kalam-Nya, pecinta dengan sebenar-benar cinta, kembali, ke pelukan-Nya..
Beberapa hari setelah berita berpulangnya (alm) Ust. Mutammimul Ula, seorang ayah yang menjadi inspirasi ayah-ayah lainnya, karena pendidikan berbasis Alqur’an dan istiqomah yang diterapkan bersama istrinya, melahirkan 10 putra-putri yang juga penghafal Alqur’an.Â
Beberapa tahun lalu, di sekretariat Kharisma, di pergantian waktu kuliah, saya mampir ke sekretariat kharisma untuk mengecek perlengkapan kesekretariatan. Karena jeda waktu yang cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk membereskan sekre yang bentuknya sudah tidak karuan karena seringkali menjadi tempat transit barang-barang dekorasi program, danusan jajan, dan kardus-kardus bekas air mineral. Satu jam berlalu, sekretariat sudah mulai nyaman untuk dijadikan tempat singgah. Yeay!Â
Masih di Sekre, dan karena waktu masih panjang, saya berpikir keras untuk mencari kegiatan agar kantuk tidak menyerang. Baiklah, pilihan jatuh kepada membaca buku. Sekre menyimpan banyak sekali buku yang bisa dibaca. Qadarullah saat itu, tangan dituntun untuk memilih membaca 10 Bersaudara Bintang Alqur’an, yang ternyata buku ini mengisahkan bagaimana (alm) ust. Mutammimul Ula dan Ust. Wirianingsih membesarkan 10 anaknya menjadi hafidz-hafidzah. Mendidiknya sesuai dengan fitrah yang dikisahkan Alquran melalui perantara kisah Luqman, kisah Ibrahim, dan kisah-kisah lainnya.
Saat itu tidak membaca keseluruhan, hanya membaca skimming karena waktu sudah masuk waktu ashar. Buku itu saya kembalikan lagi ke rak penyimpanannya. Dan saat itu berjanji dalam hati akan melanjutkan membaca buku itu lagi di waktu lain, namun seringkali lupa, hingga sekarang ketika mendengar kabar duka beberapa hari lalu, ingin rasanya membaca kembali buku itu dengan seksama. Sayang, terhalang 465 KM untuk kembali kesana.Â
Ah, bukankah selalu ada tempat untuk menyesali hal yang belum sempat kita perbuat?
Karena (alm) ust. Tamim juga, saya jadi ingat, ada sesosok, yang saya kagumi keberadaannya, yang menjadi letupan api kecil di dalam hati saya, pembangkit kekuatan tenaga doa, Saya harus jadi cahaya untuk keluarga saya, untuk masyarakat dimana saya menetap, untuk alam yang setiap harinya menjadi perantara kemurahan hati Tuhan Yang Maha Kuasa.Â
Beliau adalah, (almh) Ustadzah Yoyoh Yusroh. Perempuan pejuang pembebas kota suci Palestina, Penghafal Alqur’an yang dikaruniai 13 anak-anak penghafal Alqur’an. Beliau selama hidupnya aktif membina 10-13 kelompok binaan. Beliau juga aktif menjadi Anggota Dewan bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak, dan Lansia, dan mendapatkan banyak penghargaan atas kebaikan-kebaikan yang diusahakannya. Allahu yarhaam.Â
Keduanya memiliki kedekatan khusus dengan Alqur'an. Hal yang membuat hati semakin bergetar, di buku Mutiara yang Telah Tiada (Biografi (almh) Ust Yoyoh Yusroh); tertera di dalamnya testimoni (Alm) Ust Tamim dan Ust Wiwi. Betapa benar ada istilah ruh-ruh yang diakrabkan iman. Pecinta akan dipertemukan dengan ia yang juga pecinta. Kau akan bersama apa-apa yang kau cinta.Â
Sejak dulu, kematian selalu jadi refleksi besar.Â
Sudah cukupkah, akan terangkah, akan diterimakah, segala apa yang selama ini kita usahakan?Â
Ataukah masih sama dengan tahun-tahun yang terlewat, waktu berlalu begitu saja, tanpa tau kemanfaatan apa yang sudah tercipta.Â
Tanpa sadar, mati itu justru ditakuti bukan karena mengkhawatirkan kehidupan setelahnya.Â
Ketakutan itu semakin dan semakin turut serta karena tidak siap meninggalkan kenyamanan dunia.Â
Iya, dunia yang segala sesuatunya sementara, tapi seolah-olah ia yang paling utama.Â
Segala sesuatunya fana, tapi seolah-olah, pemenuhan cita-cita, kaya, dan elok rupa, kelak menjadi bekal tak ternilai harga.Â
Semoga diberi kesempatan, kekuatan, keistiqomahan, untuk terus membersamai, mentadabburi, menjaga, mencintai Alqur’an dengan sebaik-baik rasa cinta. Menjadikannya cahaya dalam jalan yang gelap, menjadi obat di kala sakit, menjadi petunjuk ketika diri dihadapkan dengan banyak persoalan, menjadi solusi dari segala permasalahan, dan pada akhirnya, dengan ridhaNya, menjadi saksi pemberat amal baik di hari pertimbangan nanti.Â
Berat, untuk manusia pendosa seperti saya.Â
Tapi bukankah, kita dilarang untuk berputus asa atas rahmah Allah? dan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum selain dengan upaya kaum itu sendiri?
Allahummar hamnabil Qur’aan.














