‎Pagi sejuk bersepeda bersama istri, singgah ke sebuah warung untuk membeli air minum, saya malah ketemu "sastra jalanan". Di atas potongan kardus usang, ada coretan hati yang sedang bertaruh untuk kembali percaya pada cinta.
‎Dunia hari ini berjalan dengan begitu cepat, sering kali terasa kaku dan transaksional. Di tengah kepungan angka-angka inflasi, rutinitas kerja yang menjemukan, dan tumpukan beban hidup yang kian berat, kita sering lupa bahwa manusia tetaplah makhluk yang digerakkan oleh perasaan. Namun, sebuah pemandangan di halaman depan sebuah toko hari ini tiba-tiba menampar kesadaran itu.
‎Ada kontras yang luar biasa memikat dari pemandangan ini. Kardus bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah atau pojok gudang kini naik kelas menjadi saksi bisu dari sebuah proses kurasi emosi yang mendalam. Tulisan itu membuktikan satu hal bahwa beban hidup ternyata tidak pernah benar-benar mampu mematikan daya kreativitas seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Ketika gawai pintar menawarkan kepraktisan pesan instan yang bisa dihapus kapan saja, Ferry justru memilih keabadian yang rapuh.
‎Membaca baris demi baris kalimatnya, kita tidak sedang melihat sekadar coretan iseng. Kita sedang melihat sebuah keberanian besar. Ferry sedang bertaruh, melempar dadu harapannya untuk kembali percaya pada cinta setelah sempat dihempas kegagalan. Ada pernyataan dosa, ada ketulusan yang naif, dan ada deklarasi bahwa kali ini ia tidak sedang bermain-main.
‎Muncul pertanyaan menggelitik di kepala, Mbak-mbak seperti apa yang telah berhasil membuat seorang Ferry move on se-effort ini? Pria ini tidak menggunakan buket bunga mewah atau puisi digital yang estetik. Ia menggunakan apa yang ada di dekatnya, mengubah barang rongsokan menjadi medium romantis yang magis.
‎Pada akhirnya, apa yang tersaji di halaman toko itu bukan lagi sekadar urusan pribadi Ferry. Itu adalah pengingat bagi kita semua yang kebetulan lewat dan membaca. Bahwa sekeras apa pun dunia mendidik kita untuk menjadi sinis, ruang untuk ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri, bahkan jika ia harus merangkak melalui sepotong kardus di atas lantai semen.
‎Untuk Mas Ferry, di mana pun kamu berada saat ini: semoga kali ini cintamu tidak menemui jalan buntu lagi. Semoga ketulusan yang berani itu sampai ke telinga, mata, dan hati orang yang tepat. Sebab di dunia yang sudah terlalu bising ini, lelaki yang berani jujur dengan kerapuhannya adalah sebuah kemewahan yang langka.