Saya tiba tiba teringat pada satu masa ketika untuk pertama kalinya saya benar benar bercerita kepada orang tua, terutama kepada ibu.
Walaupun kami tinggal dalam satu rumah, pada waktu itu hubungan antara orang tua dan anak tidak banyak dibangun melalui percakapan. Orang tua saya lebih sibuk memikirkan bagaimana kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Mungkin bagi mereka, bekerja, menyediakan makanan, membayar sekolah, dan memastikan anak anaknya tidak kekurangan adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata.
Karena itu, kebiasaan untuk duduk bersama dan saling bertukar cerita setiap malam hampir tidak pernah ada. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi mungkin memang belum terpikir bahwa seorang anak juga membutuhkan ruang untuk menceritakan apa yang sedang ia rasakan.
Di sisi lain, seorang anak pun terkadang tidak tahu bagaimana memulai cerita kepada orang tuanya. Ada rasa malu, takut dimarahi, takut dianggap lemah, atau takut ceritanya dianggap sepele. Bahkan, mungkin ada anak yang memang tidak pernah menyadari bahwa ia sebenarnya boleh bercerita kepada orang tuanya.
Saya adalah salah satunya.
Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, saya terbiasa mencoba menyelesaikan berbagai persoalan sendiri. Ketika ada masalah, saya lebih memilih diam. Saya memikirkannya sendiri, menahannya sendiri, lalu berharap perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.
Hingga suatu hari, saya gagal diterima sebagai anggota paskibraka tingkat kabupaten.
Pada saat itu, saya sangat berambisi. Sangat, sangat berambisi. Saya merasa sudah berlatih, sudah berusaha, dan sudah membayangkan bagaimana rasanya jika berhasil terpilih. Karena itu, ketika dinyatakan gagal, rasa kecewanya benar benar sulit saya terima.
Bahkan, saya sempat berjanji kepada diri sendiri untuk tidak melewati jalan di depan kantor kabupaten selama satu bulan perayaan Agustusan. Padahal jalan itu biasanya saya lewati ketika pulang ke rumah.
Kekanak kanakan memang. Namun pada waktu itu, tindakan sederhana itu membuat saya merasa memiliki sedikit kendali atas kekecewaan yang sedang saya rasakan.
Yang membuat hari itu semakin berat adalah karena saya melihat sendiri seorang teman yang sebenarnya bukan berasal dari ekstrakurikuler paskibra justru akhirnya diterima. Ia sempat gagal, kemudian dipanggil kembali. Setelah itu gagal lagi, lalu dipanggil kembali.
Kami semua memahami apa yang sedang terjadi. Ia adalah anak titipan.
Bagi saya yang masih muda, kejadian itu terasa sangat tidak adil. Saya merasa usaha yang saya lakukan tidak cukup berarti dibandingkan hubungan yang dimiliki orang lain. Mungkin sekarang saya dapat melihatnya dengan lebih tenang, tetapi pada saat itu rasanya benar benar menyakitkan.
Saya pulang dengan membawa beban yang sangat berat. Sesampainya di rumah, saya masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis.
Di tengah tangisan itu, ibu datang. Saya tidak lagi mampu menyimpan semuanya sendiri. Sambil sesenggukan, saya bercerita bahwa hari itu saya gagal. Saya juga menceritakan tentang teman yang kembali dipanggil meskipun sebelumnya sudah dinyatakan tidak lolos.
Itulah salah satu momen pertama ketika saya benar benar membuka diri kepada ibu.
Saya tidak terlalu ingat semua nasihat yang beliau berikan. Mungkin seperti kebanyakan nasihat orang tua, isinya sederhana. Tentang bersabar, menerima keadaan, tetap berusaha, dan tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.
Saat itu, nasihat tersebut mungkin tidak langsung menghilangkan rasa kecewa saya. Saya tetap gagal menjadi paskibraka. Keputusan panitia juga tidak berubah. Teman yang dianggap sebagai anak titipan itu tetap diterima.
Namun ada satu hal yang berubah. Setelah bercerita, beban saya terasa sedikit lebih ringan.
Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena untuk pertama kalinya saya tidak membawa kesedihan itu sendirian.
Sejak kejadian tersebut, saya perlahan mulai merasa lebih nyaman untuk bercerita kepada orang tua mengenai beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Tidak semuanya saya ceritakan. Tidak juga setiap saat. Namun setidaknya, saya mulai memahami bahwa orang tua bukan hanya tempat meminta izin, meminta uang saku, atau menerima nasihat. Mereka juga dapat menjadi tempat untuk pulang ketika pikiran sedang penuh.
Saya juga mulai menyadari bahwa seorang anak terkadang tidak membutuhkan jawaban yang sempurna. Ia tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang ia hanya ingin didengarkan tanpa langsung disalahkan. Ia hanya ingin mengetahui bahwa ada seseorang yang peduli pada apa yang sedang ia rasakan.
Nasihat orang tua mungkin terdengar normatif. Kadang kalimatnya sederhana dan berulang. Namun bagi seorang anak yang sedang kecewa, perhatian kecil seperti duduk di sampingnya, mendengarkan ceritanya, atau mengatakan bahwa ia sudah berusaha dapat memiliki arti yang sangat besar.
Kegagalan menjadi paskibraka itu dahulu terasa seperti salah satu kejadian paling menyedihkan dalam hidup saya. Sekarang, ketika mengingatnya kembali, saya justru melihat sisi lain dari kejadian tersebut.
Hari itu memang menjadi hari ketika saya menerima kegagalan. Namun hari itu juga menjadi salah satu hari ketika saya mulai belajar bercerita kepada ibu.
Mungkin hubungan kami tidak langsung berubah menjadi sangat dekat setelah itu. Tidak ada percakapan panjang setiap malam. Tidak ada perubahan besar seperti dalam cerita film. Namun sejak hari itu, ada satu pintu yang mulai terbuka.
Saya tahu bahwa ketika suatu saat hidup terasa terlalu berat untuk saya tanggung sendiri, saya dapat pulang dan mencoba bercerita.