"Aku pengen tetap bersama keluarga"
Bangun pagi sendirian di kamar hotel, bersiap untuk menghadiri rangkaian konferensi. Sebenarnya ini bukan pengalaman baru. Dulu, saat menempuh studi master di Korea, saya juga pernah hidup sendiri hampir dua tahun. Istri dan anak tetap tinggal di Indonesia.
Tapi entah kenapa, kali ini rasanya berbeda.
Mungkin karena semua target akademik yang selama ini saya kejar sudah selesai. Atau mungkin karena sekarang saya mulai menyadari bahwa hidup ternyata bukan hanya tentang mengejar pencapaian berikutnya.
Dulu, kalau ada kesempatan ke luar negeri, rasanya ingin selalu berangkat. Semakin jauh, semakin lama, semakin bergengsi, seolah semakin baik.
Sekarang, setiap bangun pagi di negara orang, yang pertama kali terlintas justru bukan tempat yang ingin saya kunjungi. Yang saya pikirkan adalah, "Anak sudah bangun belum ya?" atau "Istri lagi ngapain ya di rumah?"
Dulu saya mengejar kesempatan untuk bisa berada di luar negeri.
Sekarang justru saya menghitung hari supaya bisa segera pulang.
Mungkin saya memang baru sadar kalau saya termasuk orang yang cukup ambisius.
Selama ini saya selalu melihat ke atas. Setelah S1 ingin S2. Setelah S2 ingin S3. Setelah S3 mulai berpikir, "habis ini apa lagi ya? Post-doc? Profesor? Riset di luar negeri?"
Ternyata pola pikir seperti itu melelahkan.
Karena setiap mimpi yang berhasil dicapai, kita langsung membuat mimpi yang baru. Tidak ada jeda untuk benar-benar menikmati perjalanan.
Padahal kalau sesekali menoleh ke belakang, mungkin ada teman-teman lama yang melihat perjalanan hidup kita sudah sangat jauh.
Sayangnya, kita sendiri sering lupa mensyukuri posisi hari ini.
Kita terlalu sibuk melihat langit berikutnya.
Sampai akhirnya saya bertanya pada diri sendiri,
"Sebenarnya saya sedang mengejar apa?"
Bukan berarti saya tidak ingin berkembang lagi. Saya tetap ingin belajar, meneliti, dan berkontribusi sebanyak mungkin.
Hanya saja, untuk fase hidup berikutnya, saya tidak ingin lagi bertumbuh sendirian.
Saya ingin bertumbuh bersama keluarga.
Karena karier bisa terus dibangun. Gelar bisa terus dicari. Kesempatan akan selalu datang silih berganti.
Tetapi masa kecil anak-anak tidak akan pernah terulang.
Dan saya tidak ingin suatu hari nanti hanya bisa berkata, "Andai dulu saya lebih sering ada di rumah."
Mungkin definisi sukses setiap orang berbeda.
Kalau dulu sukses bagi saya adalah bisa pergi sejauh mungkin.
Hari ini, sukses juga berarti bisa pulang, memeluk keluarga, dan tetap menjadi bagian dari tumbuh kembang mereka.
Semoga Allah menjaga langkah kita semua, bukan hanya agar menjadi orang yang sukses, tetapi juga menjadi orang yang hadir untuk mereka yang paling kita cintai.