Dalam masa studi ini, alhamdulillah saya beberapa kali berkesempatan untuk belajar dan berkunjung ke luar negeri. Ada ke Polandia, Australia, Thailand, dan Kanada.
Lalu sering muncul pertanyaan, “Wah enak ya, dibiayai kampus terus ke luar negeri?”
Kuliah S3 di dalam negeri memang punya dinamika tersendiri. Berbeda dengan banyak kampus di luar negeri yang ekosistem risetnya sudah mapan dan pendanaannya sering kali melekat pada proyek profesornya, di sini mahasiswa doktoral sering dituntut lebih mandiri (dalam kasus kami begitu)
Bukan hanya meneliti, tapi juga belajar mencari hibah, membangun jejaring, menyusun proposal, sampai meyakinkan orang lain bahwa riset kita layak didukung. Jadi selain belajar sains, sekalian belajar jadi sales dan admin.
Kalau di sarjana dan magister namanya pembimbing. Kalau di doktoral namanya promotor. Tugasnya mempromosikan, bukan membimbing (guyonane arek2 ngono se, tapi alhamdulilah wingi promotor ku sangat support dalam membimbing)
Alkisah, mahasiswa doktor itu seperti anak yang dilepas ke hutan, wes mbuh yaopo carane kita kudu survive dan balik maneh. Saat kita tersesat, jatuh ke jurang, dan panik, barulah dari atas terdengar suara peluit dari promotor:
“Mas… hati-hati, itu jurang.”
“Lha saya sudah di dalam, Pak,”
"ini caranya keluar gimana pak?"
Lalu beliau menjawab dengan tenang:
"nah coba dipikirkan dengan baik gimana caranya".
Melakukan riset untuk memenuhi target publikasi memang tidak mudah. Butuh ketekunan, kesabaran dan kadang kemampuan pura-pura tenang saat data berantakan.
Karena itu, supaya bisa keluar dari jurang-jurang tadi, kami berinisiatif mencari kolaborator dari institusi luar negeri yang topiknya sejalan. Kadang yang dibutuhkan bukan pasrah, tapi pinjem tangga dari rumah sebelah.
Memang benar, sering terdengar keluhan bahwa diaspora ilmuwan enggan kembali karena fasilitas riset di Indonesia masih terbatas dan belum selalu menjadi prioritas. Dalam beberapa hal, itu bukan sekadar keluhan, tapi memang realitas yang harus diakui.
Tapi bagi yang tetap bertahan di sini, opsinya cuma dua: bergerak atau tergantikan. Maka kami memilih bergerak walaupun seperti siput. Kalau alat belum ada, cari akses. Kalau dana belum cukup, cari hibah. Kalau pintu tertutup, cari jendela. Kalau jendelanya juga ditutup, ya lewat ventilasi. Sing penting guduk ventilasine tonggone.