yang tersisa hanya si nona dan berisik kepalanya
ada si nona sedang pusing kepala. katanya bingung dia soal banyak hal di dunia. nona itu kerjaannya duduk-duduk saja. menatap layar yang kadang gelap kadang cerah sering kali sesuai kondisi hatinya. kalau tidak duduk, nona berdiri menggoreng cireng tanpa saus rujak yang dimakan bersama teman-teman. si nona sesekali bingungnya berganti menjadi karya. dia membaca banyak cerita tentang manusia-manusia dan perjuangan mereka. si nona baru sedikit saja paham mengenai cara dunia bekerja. memang yang satu itu dia masih butuh banyak belajar. tidak apa-apa, pikirnya. belajar bisa sambil berjalan.
nona sekarang tidak duduk-duduk lagi, bokongnya lelah katanya. jadi, dia berbaring. di atas kasurnya yang sepi hanya ada bantal, selimut, juga ikat rambut. nona menatap langit-langit kamarnya yang ada bercak hitam karena bocor dari loteng. dia menarik napas panjang dan merenungi banyak hal dalam hidupnya. nona menangis. dia tidak tahu menangis untuk apa. nona ketiduran dan bangun di pagi hari. pertanda pagi adalah matahari yang bersinar tapi dari kamar si nona dia tidak bisa lihat apakah matahari sudah bersinar.
nona bangun dan pergi keluar. dia tahu semalam menangis untuk apa, untuk hilangkan sesak di dadanya.
pagi hari bagi nona adalah satu lagi kesempatan untuk mencoba. walau kini yang tersisa hanya si nona dan berisik kepalanya, satu per satu bala bantuan akan datang. bahagia akan nona jemput lagi. dan berat hatinya akan dia tinggalkan sebelum tiba waktunya datang kembali.













