Akad nikah itu benar-benar terjadi, setelah saksi berkata “sah” maka jatuh pula tanggung jawab Sabila kepada seorang pria bernama Arya Firdaus Andi Manggala. Laki-laki pendiam yang dewasa pemikirannya. Sabila akhir nya sadar bahwa laki-laki itu adalah penulis artikel yang tempo hari lalu Ia baca. Semua orang mulai menitipkan doa dan pesan, begitu juga dengan Ayah yang tersenyum bahagia melihat putri semata wayangnya itu menikah. Di Dalam hatinya, kini ia bisa pergi dengan tenang, karena tanggung jawabnya di dunia telah usai.
Kamar rawat inap hari itu jadi kelabu, napas Ayah sesak tepat satu jam setelah mereka menikah. Dokter masuk ke ruangan dengan tergesa, di tengoknya jalan napas dan kondisi tubuh Ayah. Tapi takdir berkata lain, Tuhan lebih sayang kepada Ayah hingga meminta nya dari sisi Sabila begitu cepat. Sabila dan ibu memeluk tubuh Ayah nya yang sudah tak bernyawa, tubuhnya masih hangat seperti sedang tertidur namun jiwa dan raga nya telah terpisah.
“Yang sabar Bil, Ayah sudah bahagia karena kamu, Ia pergi dengan tanggung jawab yang telah usai.” Arya merangkul pundak wanita yang baru saja Ia nikahi satu jam lalu itu.
“Kamu nggak ngerti rasanya jadi aku!” Sabila menepis rangkulan itu, Arya kaget dan terdiam. Mungkin istrinya hanya belum terbiasa dengannya.
Arya keluar ruangan itu, disana sudah ada Alby yang sedari tadi menunggu diluar. Alby mengulurkan tangan pada Arya seraya mengucapkan selamat. Kini usai sudah tugas Alby menemani Sabila, sekarang Ia akan baik-baik saja bersama Arya.
“Jangan pernah sakiti Bila ya Ar, dia sahabat gue. Dia pasti sangat kehilangan sosok Ayah, jadi lu harus pastikan jadi pengganti Ayah yang bisa dia andalkan.” Alby memeluk Arya dan menepuk pundaknya seraya menyelipkan satu pesan penting baginya.
“Pastii, pasti By.” Alby menyimpan semua ini dari Arya, dia tidak boleh tahu terkait perasaannya pada Sabila, kini wanita yang Ia cintai telah menjadi istri orang lain.
Satu tahun setelah kepergian ayah, hari-hari Sabila kembali normal, namun tidak dengan rasa cinta nya pada suami yang ternyata belum juga Ia rasakan. Sabila masih sering pergi seorang diri, pulang larut malam karena pekerjaan, dan masih merasa enggan untuk mengakui bahwa kini Ia sudah membangun rumah tangga. Arya paham bahwa itu butuh waktu untuknya, mengalah dan meredam emosi istrinya dengan cara menuruti dahulu apa yang Ia mau. Namun sebagai seorang pria, kerap kali Ia merasa ingin diperlakukan dan diperhatikan layaknya seorang suami. Disambut ketika pulang dari kantor, disiapkan makan dan kebutuhannya, menjadi teman diskusi sebelum tidur, serta hal-hal lain yang wajar dilakukan oleh suami istri.
“Kamu mau kemana?” Sabila melewati meja makan begitu saja tanpa sapa dan pamit kepada Arya yang duduk disana.
“Kerja dong, kan kantor aku nggak kaya kantor mu yang bisa work from everywhere.”
“Aku antar ya?” Arya menawarkan hal itu bukan untuk yang pertama kali, walaupun Ia sudah tahu jawabannya adalah “Tidak” tapi dia akan terus berusaha.
“Nggak usah, biasanya juga nggak pernah nganterin.”
“Ya aku nggak pernah nganter karena selalu kamu tolak kan?” nada bicara Arya kali ini mulai meninggi, Ia merasa tidak dihargai,
“Aku bisa ke kantor sendiri, kamu kan juga harus kerja, kita punya urusan masing-masing, jadi selesaikan urusan masing-masing aja. Aku nggak mau bergantung sama kamu.” Sabila menjawab ketus, Ia masih kekeh dengan kemauannya untuk tidak mau bergantung pada laki-laki itu.
“Mau sampai kapan kamu kaya gini? Aku selama ini berusaha yang terbaik buat kamu Bil, aku berusaha ngasih seluruh apapun yang aku bisa. Tapi kamu sama sekali nggak menghargai perasaanku sebagai suamimu. Kamu tahu? Mungkin ketika ayah masih ada dan melihat hubungan kita yang seperti ini, beliau juga akan sedih. Ini bukan pernikahan yang beliau harapkan.”
Sabila terdiam, secara cepat bayangan momen di saat terakhir bertemu Ayahnya itu hadir merasuki ruang-ruang kerinduannya.
“Kenapa kamu masih nggak bisa menerima aku? Apa yang salah dari usaha ku selama ini Bil? Tolong bilang, tolong komunikasikan sama aku biar aku tahu. Biar aku bisa terus menjaga amanah Ayah kamu. Putri yang sangat dia cintai.”
Sabila tertegun, Ia mencari pembenaran sejauh yang Ia bisa, namun tidak ditemukan apa salah suami nya itu. Yang ada hanyalah Ia yang belum mampu menerima Arya sehingga terus mencari kesalahannya, alih-alih membuat suaminya itu menjadi benci, Ia malah tidak menemukan celah itu. Sabila sadar bahwa selama ini hanya Arya yang berusaha mencintainya. Sabila lanjut berjalan, meski kini tiba-tiba air matanya turun, Ia tetap berangkat ke kantor tanpa diantar oleh Arya.
Jam menunjukkan pukul dini hari, Sabila belum juga menunjukkan batang hidung nya. Ini kali pertama Sabila pulang begitu larut. Arya mulai gelisah dan berkali-kali menengok jendela depan yang mengarah ke arah gerbang. Di genggamannya terdapat ponsel yang dari tadi Ia gunakan untuk terus menelpon Sabila. Namun hasilnya nihil, pesan tidak terkirim dan panggilan tersebut masih juga belum berhasil. Pikiran Arya mulai melanglang buana, Ia sangat khawatir apakah ini ada hubungannya dengan konflik mereka tadi pagi. Apakah bicara nya terlalu keras sehingga membuat Istri nya sakit hati dan enggan pulang kerumah.
Tidak lama setelah itu terdengar suara klakson mobil, Arya segera bergegas, barangkali itu Istri nya. Ternyata itu mobil Alby yang didalamnya juga terdapat Sabila. Sabila nampak tidak merasa bersalah, Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa memberikan komentar apapun termasuk mobil nya yang entah kemana sehingga Ia harus diantar oleh teman kecil nya itu. Alby turun dari mobil dan memberikan sedikit penjelasan pada Arya.
“Tadi Sabila minta tolong sama gue, mobil Sabila mogok jadi dia telpon gue untuk minta bantuan dan minta diantar pulang.”
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Arya langsung memasuki rumah itu. Emosi nya sudah diujung tanduk, namun tidak mungkin diekspresikan di saat semua tetangga nya sedang tertidur pulas. Ia menutup pintu dan segera bergegas menemui Sabila, sementara Alby Ia abaikan begitu saja.
“Aku kecewa banget lho Bil sama kamu, kamu lagi dalam kesulitan tapi yang kamu hubungi malah laki-laki lain? kamu lupa kalau kamu punya suami hah?!”
“Aku tuh tadi……” Belum juga terjawab lengkap pertanyaan suami nya itu, Arya kembali berkata,
“Terus pulang se larut ini? Aku khawatir sama kamu Bil. Kamu sengaja mematikan ponsel mu? kenapaa?”
“Bisa nggak dengerin aku jelasin dulu?? Hari ini aku banyak kerjaan, aku pulang juga sudah malam, di jalan pulang mobil aku mogok. Soal kenapa aku nggak ngehubungin kamu yaa karena aku pikir kamu sudah tidur, jadi aku nggak enak mau ganggu.”
“Kenapa nggak enak sih Bil? Aku kan suami kamu, kamu bisa minta tolong apapun.”
“Ah sudahlah, aku capek berantem terus sama kamu!!”
Sabila pergi dengan kesalahannya sementara Arya merasa kecewa karena bukan Ia yang hadir disaat Sabila memerlukan bantuannya.