"Kamu sudah siap?" Tanyamu melalui Whatsapp, singkat padat dan mengena
Baiklah sepertinya ini sudah semua, baju batik rapi membuatku terlihat lebih dewasa, celana mulus setelah disetrika semalam, tatanan rambut yang stylis hitam mengkilap karya barber shop termahal di sini. Satu lagi yang tidak boleh tertinggal, minyak wangi untuk membiaskan aroma sisa metabolisme yang tumpah ruah akibat detak jantung bak genderang perang. Hal terakhir yang tidak boleh terlewat, berpamitan dengan Mamak hebatku yang menjadi wonder women setelah Baba wafat 10 tahun lalu.
"Le, yakin tidak mau Mamak temani?" Kata Mamak sambil membalas memegang tanganku dengan kedua tangannya.
"Ajil suka Mamak temani, tapi kali ini adalah saatnya Ajil menunjukkan keberanian dan wibawaku sebagai laki-laki dewasa yang meminang anak orang. Mamak bisa temani Ajil dengan doa, kan selama ini doa Mamak selalu ampuh lebih tokcer dari racikan obat Koh Afeng, haha"
"Hahaha, kau ini mau meminang anak orang serius lah sedikit"
"Haha, aku serius ini Mak"
Selama berkendara menuju ke lokasi tujuan, mulut dan hatiku tak berhenti merapal doa. Batinku, tidak disangka langkah kehidupanku sudah berjalan sejauh ini. Ternyata saat untuk secara sadar mengambil tanggungjawab terhadap anak orang sudah di depan Mata. Aku jadi teringat obrolan ngalor ngidulku bersama Baba
"Jadi laki-laki itu nggak mudah. Apalagi yang sudah menikah. Kelihatannya saja kami banyak bersenang-senang ketika berkumpul bersama. Itu hanya pengalihan sementara dari beban berat yang dipikul. Bayangkan, kita itu memikul surga-nerakanya keluarga dan hidup orang-orang di dalamnya. Tapi kalau bukan karena kesabaran, ketulusan dan ketegaran Mamakmu membersamai Baba, mungkin Baba sudah menyerah. Nanti, kamu harus pandai memilih istri, istri yang bisa hidup bersama mimpinya sebelum bertemu denganmu, lalu ketika bertemu denganmu dia bersedia menghidupi mimpimu dan akhirnya bisa diajak merangkai mimpi bersama. Kalau ada wanita seperti itu, percaya sama Baba, damai nanti hati kau."
Ba, jujur saja dulu aku tidak paham apa maksudnya, tapi sekarang Baba pasti bangga karena aku bisa menemukan 1 wanita seperti itu dari jutaan wanita di dunia.
20 menit 20 detik, ternyata aku sudah sampai, lebih cepat 4 menit 40 detik dari perkiraanku. Terlihat pintu rumah sudah terbuka seolah siap menyambut tamu. Tak lama muncul sosok wanita dengan gamis coklat muda dan jilbab panjang menjuntai coklat tua, sangat manis seperti kue pancong setengah matang rasa Milo.
"Langsung masuk aja sini"
Terlihat ada beberapa suguhan di meja. Wah siap sekali ini menerima tamu. Lalu dari balik lorong muncul lelaki paruh baya dengan kaos putih dan sarung yang terlilit rapi.
"Gimana tadi di jalan, aman?" Tanyanya sambil mulai duduk di depanku
"Alhamdulillah, jadi bagaimana, langsung saja sampaikan tanpa basi-basi. Alin sudah cerita, jadi tidak perlu berputar-putar"
"Iya Pak, saya ke sini dengan penuh kerendahan hati ingin meminta ijin untuk meminang putri Bapak menjadi istri saya"
Pria itu manggut-manggut sambil tersenyum tipis entah apa maksudnya.
"Coba tulis di kertas ini hal yang kau takuti ketika menjadi suami serta kebahagiaan dan kenestapaan macam apa yang akan Alin terima jika menjadi istrimu. Tulis saja dengan jujur, tidak perlu dibanyakkan yang baik-baik"
Gila, pertanyaan macam apa itu, beliau sudah menyiapkan 2 halaman kertas folio bergaris dan sebuah bulpoin. Sungguh di luar espektasi.
Ketakutan menjadi suami :
Ketika dalam perjalanan keluarga kami saya mengalami musibah yang membuat saya tidak mampu membahagiakan dan memberi kehidupan yang layak bagi keluarga saya. Beberapa hal atau kebiasaan yang takutnya akan dibenci oleh istri saya. Saya takut tidak bisa memenuhi janji saya kepada Bapak dan Baba saya untuk menjadi suami yang baik. Saya takut pekerjaan yang membabibuta akan menjadikan saya sebagai pribadi yang menyebalkan di rumah. Saya takut tidak mampu bertahan hidup jika Allah memanggil istri saya lebih dulu. Pun sebaliknya, saya tidak sanggup kalau meninggalkan keluarga saya lebih dulu dan membiarkan Alin harus mengambil 2 peran dalam keluarga seperti ibu saya. Sebagai suami yang sekaligus ayah nantinya, ada rasa takut tidak mampu memberi pengasuhan yang baik kepada anak-anak saya. Kalau kata Baba saya dulu jadi suami itu memikul surga-nerakanya keluarga, saya takut tidak bisa membawa keluarga saya mencapai surga.
Kenestapaan Alin ketika menjadi istri saya :
Dia akan banyak sendirian di rumah karena tuntutan pekerjaan saya saat ini. Dia perlu banyak bersabar pada sifat pelupa dan ketidakrapian saya menata barang, saya juga kurang peka orangnya, mungkin dia akan banyak memendam perasaan kesal kepada saya. Bisa jadi akan ada masa dia harus memutar otak untuk makan sehari-hari karena pekerjaan saya sifatnya project, meski sekali project sangat cukup untuk kehidupan dan tabungan kami selama 3 bulan di kota kecil ini. Tapi kalau sedang sepi, kami harus berhemat. Saya bukan orang yang romantis seperti laki-laki lain, barangkali Alin juga akan sedikit menggerutu soal itu, karena yang saya tahu adalah cara memperlakukan wanita yang saya cintai dengan baik. Bersebab pekerjaan yang kadang membuat saya harus keluar kota, nantinya ketika kami memiliki anak Alin harus bersusah payah mengurusnya sendiri, kecuali dia berkenan saya pekerjakan pengasuh.
Kebahagiaan Alin ketika menjadi istri saya :
Hidup bersama mimpi-mimpinya yang terus tumbuh, karena Alin selalu bahagia dengan itu, begitupun saya. Saya tidak menjanjikan kehidupan yang mewah, tapi saya berusaha membuatnya cukup untuk kami, sehingga Alin tidak merasa kekurangan. Meski tidak romantis tapi saya pemain peran yang baik, saya bertekad untuk bisa jadi apa saja yang Alin butuhkan. Karena Alin sangat suka dengan anak kecil, saya berdoa agar kami dikaruniai keturunan yang menyenangkan dan menyejukkan hatinya. Sehingga meski saya tinggal keluar kota, dia tidak akan kesepian bersama anak-anak yang hasil konstribusi saya juga. Saya kira itu, untuk kebahagiaan lainnya hanya Alin yang bisa memutuskan, saya hanya berusaha, karena kebahagiaan dia adalah tanggungjawabnya bukan atas kendali saya
56 menit aku menulisnya, sampai teh beliau tinggal 1/5 dari gelas.
"Sudah? Itu saja?" Tanyanya sambil menyimpul senyum seperti tadi
"Ya sudah, kertasnya saya terima, kamu boleh pulang dulu sambil merenungkan ketakutanmu menjadi suami, cari jalan cara untuk menghilangkannya, besok kamu boleh main ke sini lagi" Beliau berucap demikian dengan sangat ramah dan santai seolah tidak ada hati yang kehilangan arah di sini.
"Baik Pak, permisi, terima kasih atas penerimaannya sebagai tamu hari ini."
Aku pergi dengan tatapan hampa dan kebingungan. Maksudnya ini apa, lamaranku ditolak atau diterima, bagaimana kau menceritakan ke Mamak nanti. Selama perjalanan otakku masih saja tidak bisa mencerna segala kejadian hari ini. Hingga sampailah di rumah, ternyata ada pesan masuk
"Kamu jangan bingung ya, kamu tahu kan Bapak itu seorang psikolog pensiunan HR yang sudah bekerja selama 39 tahun".
Baiklah, sekarang ketakutanku jadi bertambah 1, menghadapi mertua yang rasa manager HR di kantor.
@kurniawangunadi @careerclass