Darto tidak pernah menyangka bahwa menjadi teliti, tepat waktu, dan loyal bisa dianggap usang.
Ia bekerja selama sebelas tahun sebagai petugas entri data di sebuah perusahaan jasa pemrosesan dokumen outsourcing. Tiap pagi ia datang paling awal, mengisi formulir tagihan klien, mencetak, mencocokkan, lalu memindai. Ia hafal kode warna tiap folder lebih baik daripada warna lampu lalu lintas. Tapi suatu hari, tanpa peringatan panjang, ia dipanggil HR dan diberi surat PHK.
“Perusahaan sedang berbenah untuk menyegarkan kultur tim,” kata mereka.
Darto tidak bertanya. Ia hanya mengangguk sambil memeluk map kerjanya. Ia tahu maksud mereka bukan "kultur"—tapi "umur".
Ia baru 38, tapi wajahnya sering dikira 45. Tubuhnya sedikit bungkuk, rambutnya mulai rontok, dan ia lebih nyaman pakai kemeja kotak daripada polo shirt warna pastel. Ia bukan tipe karyawan yang selfie sambil pegang gelas kopi dengan caption motivasi.
Selama delapan bulan berikutnya, ia melamar hampir ke mana pun.
Ada yang menolak lewat email, dengan alasan klasik: "Kami mencari kandidat yang lebih cocok dengan dinamika tim muda." Ada pula yang langsung memotong wawancara saat melihat wajahnya.
“Bapak... ini pasti senior banget, ya,” kata seorang recruiter sambil tersenyum semu.
“Saya tiga puluh delapan, Bu.”
“Oh,” jawabnya. Senyumnya jadi datar.
Darto paham. Ia seperti mencoba menjual kaset pita di rak Spotify.
Ia mencoba semua cara. Mengubah font di CV jadi kekinian. Menghapus tahun lulus sekolah. Bahkan mencoba foto profil dengan filter agar terlihat lebih "cerah". Tapi tetap saja, tak ada yang memanggilnya untuk posisi tetap. Paling banter: kontrak tiga bulan, tanpa jaminan.
Lalu suatu sore di warnet tempat ia biasa pinjam WiFi, ia membaca berita dari sebuah laman lowongan:
EqualHire – Perusahaan Rekrutmen yang Tak Butuh Nama, Usia, atau Riwayat. Hanya Dinilai dari Hasil Pekerjaan.
Ia terdiam lama. Tak ada KTP. Tak ada ijazah. Tak ada selfie dengan kertas bertuliskan tanggal. Hanya kirim hasil kerja dan isi simulasi tes. Sistem akan memberi setiap pelamar kode anonim.
Ia unggah laporan tagihan buatan tangannya sendiri. Tabel-tabel yang ia salin ulang dari data fiktif. Rapi. Stabilo warnanya masih bersih. Ia isi soal-soal dengan bahasa baku, lengkap dengan tanda baca. Tak pakai emotikon. Tak ada “wkwk” atau “asap”—hanya jawaban jujur.
Tiga hari kemudian, email masuk:
Selamat. Anda diterima sebagai Clerk-14. Pekerjaan jarak jauh. Mulai Senin.
Tak ada yang menanyakan siapa dia. Tak ada foto. Tak ada video call. Sistem komunikasi lewat chatbot. Semua rekan kerja punya nama kode: Digit-02, Clerk-08, Sort-17.
Awalnya, Darto merasa seperti kembali jadi manusia. Tak perlu pura-pura jadi muda. Tak ada HRD yang menatapnya seperti monitor CRT. Ia bekerja tanpa cela. Dokumen rapi, laporan tepat waktu, komentar sistem selalu positif:
"Akurasi 100%. Kecepatan di atas rata-rata. Zero error."
Tapi semua tak bertahan lama.
Di forum internal, obrolan ringan mulai berubah arah.
“Clerk-14 ini gayanya kayak guru agama deh.”
“Pake titik koma segala. Wkwkwk.”
“Kayaknya umurnya 50+ nih. Admin Boomers spotted.”
Darto membaca tanpa membalas. Ia merasa asing. Bahkan dalam sistem anonim pun, cara kerja dan bahasanya tetap mencolok—seperti radio AM di ruangan Bluetooth.
Tiga minggu kemudian, server EqualHire diretas. Nama dan usia seluruh staf bocor di forum online. Termasuk dia.
Clerk-14: Darto Sumirat. Usia: 38.
Keesokan harinya, ia tidak bisa masuk sistem. Akses ditutup. Email masuk:
"Terima kasih atas kontribusi Anda. Kami sedang menyesuaikan struktur tim sesuai kultur internal."
Tanpa alasan jelas. Tanpa salam penutup.
Ia tidak protes. Tidak kecewa. Hanya letih.
Esoknya, ia mengenakan kemeja lamanya dan mendatangi kantor pemindaian dokumen milik keluarga lokal. Bukan startup. Tidak punya aplikasi. Tidak ada logo estetik.
Wawancaranya hanya sepuluh menit. Pemilik usaha—seorang perempuan paruh baya—membuka mapnya dan membaca portofolio cetak.
“Ini Bapak sendiri yang bikin?”
“Iya, Bu. Saya terbiasa kerja manual.”
“Bagus. Rapi. Boleh mulai lusa, ya? Kami justru butuh orang yang nggak main-main.”
Darto tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tak perlu menyembunyikan usianya, atau wajahnya, atau caranya mengetik pakai dua jari.
Ia hanya jadi dirinya sendiri.