Hope (Perjalanan Cita-Cita & Cinta)
Ketidakjelasan hubungan diakhiri
—-----------------------------------------
Kedekatan Anesha dan Arion tidak bisa dielakkan, sebenarnya Anesha berniat untuk tidak dekat dengan siapapun sebelum waktunya tiba, fokus saat ini masih mencari ilmu. Waktunya dekat dengan laki-laki minimal saat Anesha sudah menyelesaikan sarjana nya yang sudah tinggal 2 semester lagi mengingat Anesha orang yang butuh fokus sehingga ia sedikit khawatir belum bisa memanagement dengan baik jika harus menjalankan peran yang banyak. Belum lagi setelah lulus ia harus menjalani koas kurang lebih 2 tahun yang menjadi tuntutan profesinya setelah lulus sarjana kedokteran.
Cita-citanya sederhana sejadi ibu rumah tangga, bisa mengurus, merawat dan mendidik anak-anak nya dengan baik serta bisa senantiasa mendampingi suaminya. Sehingga saat dia memilih someone kelak, Anesha berharap seseorang itu memiliki potensi menjadi hebat karena sosok Ayah dari anak-anaknya harus bisa jadi teladan.
Anesha teringat salah satu tokoh inspiratifnya, itulah juga yang berpengaruh terhadap cita-cita sederhana nan bermaknanya yaitu sosok Habibie & Ainun. Saat itu Habibie bertanya pada Ainun, yang intinya siapa yang berperan di depan dan siapa yang berperan menjaga dan mendidik anak-anak. Saat itu Pak Habibie menawarkan diri kepada Ainun atas jawaban dari pilihan itu melihat potensi Ainun yang juga memiliki kemampuan yang tidak biasa, apakah Ainun yang mau berperan maju? karena Ainun berpotensi untuk itu dan Pak Habibie yang nanti akan merawat anak-anak? saat itu jawaban Bu Ainun adalah beliau mempersilahkan Pak Habibie untuk berperan maju dan ia yang akan mengurus anak-anak dan bisa dilihat bagaimana kualitas anak-anak dari keluarga Habibie & Ainun.
Itulah cita-cita Anesha kala itu. Ia mengambil jurusan kedokteran yang saat ini dijalaninya salah satu tujuannya adalah untuk bisa minimal menjadi dokter di keluarganya.
Anesha sudah memetakan jalan kehidupannya. Jika jodohnya dekat ia akan menikah setelah lulus sarjana atau jika belum dekat akan menikah setelah koas selesai dan jika hilal jodoh itu pun belum terlihat planning selanjutnya adalah mengambil spesialis anak dan jika diantara masa pendidikannya di spesialis bertemu jodohnya ia akan menikah tak masalah, sambil menjalani kehidupan pendidikan spesialis yang ia sudah pilih.
Pendidikan yang ia jalani memang terbilang padat dan menurut Anesha pacaran itu kurang bermanfaat, seperti membuang-buang waktu, ininya kurang berguna dan hanya menghabiskan waktu untuk hal yang manfaatnya dipertanyakan. Ia pun merasa tak memiliki cukup waktu untuk hal-hal yang tidak serius. Anesha memang sekaku itu. Dibandingkan telponan tidak ada arah lebih baik digunakan untuk istirahat atau belajar. Anesha memang sangat menyukai belajar dan membaca. Segala pertanyaan akan kehidupan ia coba cari jawabannya dengan membaca banyak buku untuk mendapatkan berbagai sudut pandang sebagai referensi.
Tetapi saat datang sosok Arion yang ia kagumi, Anesha tak bisa menolak ketika Arion mencoba mendekati nya walaupun Arion bukan laki-laki pertama yang ia suka tetapi ia merasa he is her first love. Ia sudah kenal Arion cukup lama saat dulu sedang aktif aktifnya di BEM Universitas. Anesha & Arion berbeda 2 tingkat di Universitas, walau mereka berbeda jurusan tetapi karena dulu di BEM universitas keduanya aktif sehingga mereka sering berinteraksi dan saat Arion sudah bekerja, sosok Arion datang mendekati Anesha yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa.
Sejak dulu Anesha mengagumi sosok Arion dimana Arion orang yang pemberani, berbeda dengan Anesha yang sedikit pemalu. Leadership Arion terlihat nyata terutama saat memimpin menjadi ketua BEM di tingkat Universitas. Tegasnya, bagaimana ia memimpin dan mengambil keputusan, bagaimana ia mencoba merangkul semua anggotanya tanpa terkecuali.
Benih-benih itu sudah ada sepertinya diantara mereka tetapi karena belum menjadi prioritas sehingga dianggap angin lalu dan tanpa diduga Arion mendekatinya. kebahagian tak terhingga bagi Anesha dan ia menjadi lupa jika ini sebenarnya belum waktunya ia mengaktifkan hati.
Rasa sayang Anesha ke Arion nyata. Anesha berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Arion semenjak dahulu. Anesha merasa Arion bisa membimbing nya, mengayomi. Leadership dan keaktifan nya Arion menjadi salah satu daya tarik Arion dimata Anesha.
Sosok pemimpin yang kuat, kecerdasan dan pengetahuan yang luas membuat Anesha bisa bertanya apapun padanya.
Cara Arion mendekati dengan perlahan tapi pasti sampai luluhlah perasaan Anesha hingga nyaman walau Anesha masih merasa kaku untuk banyak hal. Ia yang di kehidupannya senantiasa melakukan yang terbaik tapi kali ini ia tak cukup mengerti bagaimana menjadi pasangan yang terbaik. Tak ada ketentuan baku outline terkait ini yang ada hanya bagaimana menjadi istri yang baik.
Anesha sangat insecure terutama jika terkait dengan penampilan fisik terlebih saat mengetahui jauh sebelumnya beberapa wanita yang pernah Arion suka. Wanita tersebut cantik dan saat Anesha refleksi ke dirinya ia merasa tidak cukup cantik. Sehingga Anesha tidak cukup percaya diri dan merasa banyak kurang pada dirinya.
Anesha seorang wanita yang pendiam, bahkan ketika sedang bersama dengan Arion, karena memang jarang dekat dengan laki-laki sehingga Arion yang senantiasa membuka pembicaraan. Sebenarnya Anesha tidak terlalu pendiam tetapi entah mengapa jika bersama Arion ia tak cukup berani, rasanya kaku, entah apa yang harus dibicarakan. Rasanya saat dia sedang sendiri banyak hal yang ia ingin bicarakan, ceritakan, diskusikan dengan Arion tetapi entah mengapa saat bertemu no idea at all bahkan sempat Anesha membuat tulisan dalam catatan Hpnya terkait hal yang ingin dia ceritakan, sampaikan, diskusikan tetapi itu juga tidak cukup membantu.
Anesha pun bingung dan tidak cukup mengerti dengan dirinya. Fase tersebut terulang dan terulang kembali. Sampai-sampai Arion sering kesal karena dia yang harus senantiasa membuka percakapan, bertanya ini dan itu.
Anesha sayang dengan Ario tetapi dia bingung bagaimana cara menunjukan sayangnya. Dia pun cenderung diam karena memang ia sangat jarang untuk bercerita terutama saat bertemu, tetapi saat berkomunikasi lewat media komunikasi Anesha bisa berinteraksi lebih baik. Bahkan sering ia yang memulai percakapan terlebih dahulu. Bercerita banyak hal dll.
Saat mereka sudah tidak satu kota, mereka LDR tetapi masih berkomunikasi hanya intensitas terbatas. Ada suatu waktu Anesha ingin adanya kepastian akan ke depan, apakah akan serius atau putus. Lalu melalui chat Anesha menyampaikan maksud dan tujuan menanyakan kedepan akan seperti apa, dia tidak mau ada di zona abu-abu karena ketika ada laki-laki lain mendekati, ia merasa bersalah, disatu sisi kejelasan dari Ario pun tidak ia dapatkan. Pernah suatu ketika Anesha menceritakan ada pria yang mendekatinya lalu ayahnya Anesha mengatakan “ya kan kamu sudah sama Arion”. Anesha memang menyayangi Arion dan setia padanya tetapi sampai kapan ada di zona abu-abu ini. Pikirnya jika serius hayu,, berjuang bersama, jika tidak ya sudah sampai disini dari pada sayang Anesha semakin besar dan ketergantungan Anesha pada Arion. Pikir Anesha cerita cinta dengan Arion hanya akan membuat luka yang dalam jika hubungan ketidakjelasan ini diteruskan. Jika pada akhirnya menyakitkan ya kenapa harus menunda rasa sakit itu datang.
Anesha tidak menuntut Ario menikahinya segera karena ia pun ingin menyelesaikan kuliahnya, lagi pula Anesha pernah mengatakan rencananya pada kedua orang tuanya jika selesai sarjana kedokteran dan koas, ia ada rencana untuk mengambil spesialis tetapi itu lihat situasi nanti dan Anesha menyampaikan jika cita-cita yang diceritakannya tidak akan menghalangi niat nya untuk menikah jika sudah ada laki-laki yang mengkhitbahnya. Itu bisa fleksibel dan rencana akan masa depannya akan diungkapkan pada calon Anesha kelak karena cita-cita sesungguhnya adalah menjadi istri & ibu yang sebaik mungkin.
Sisi orangtua Anesha tidak masalah terkait itu karena dari orang tua Anesha pun tidak mewajibkan Anesha untuk berkarir setelah menikah nanti.
Hal yang ia inginkan Anesha dari Arion hanyalah pernyataan dan komitmen serius dari Arion. Lalu ia melontarkan pertanyaannya tersebut dan Arion tak memberikan jawaban, Arion berkata bingung. Di dalam pikiran Anesha “Aku tidak pernah bingung memilih kamu, aku yakin dengan mu tetapi kenapa kamu masih belum yakin dengan Aku?” emosi Anesha tidak stabil saat mendapatkan jawaban tersebut, emosi itu bertambah tambah karena Anesha berada di masa PMS (Pre Menstruasi Syndrom)
Anesha berpikir ia tidak mau menghabiskan waktu sia-sia dengan ketidakpastian ini. Tenaganya lebih baik dialihkan untuk mengejar cita-cita yang pasti dari pada mengejar hati yang tidak pasti. Anesha percaya jika memang yang harus diutamakan adalah cita-cita lalu cinta akan mengikuti karena ketika memperjuangkan cinta belum tentu cita-cita bisa mengikuti. Hati manusia tidak bisa dipegang karena hanya Allahlah yang bisa membolak-balikan hati setiap orang. Akhirnya karena Arion tidak memberikan jawaban, Anesha menyimpulkan jika Arion tidak serius dengannya sehingga Anesha meminta cukup sampai disini.
Setelah drama-drama itu hubungan komunikasi tidak berhenti langsung, sesekali Anesha masih menghubungi untuk cerita karena memang sesulit itu untuk lepas karena selama ini Anesha sulit menemukan orang yang nyaman untuk bercerita sehingga Arion masih menjadi orang pilihannya untuk bercerita. Kejadian drama drama itu berlangsung di awal tahun 2016. Lalu di pertengahan tahun Anesha melihat postingan Arion bersama dengan rekan-rekan kerja nya lalu ada wanita yang comment dengan emoticon memberikan ciuman love. Cukup bergetar hati Anesha melihat itu. Memang dia dan Arion sudah tidak ada hubungan apa-apa, tapi apakah secepat itu Arion membuka hati pada yang lain? kecurigaan Anesha bahwa Arion memang tidak sayang padanya semakin membesar. Tak dipungkiri di hati Anesha masih menyimpan rasa sayang yang tulus pada Arion tetapi tidak mungkin bagi Anesha terus berada di hubungan yang tidak ada kejelasannya.
Anesha masih sesekali berkirim pesan lewat DM instagram karena kontak Arion sudah dihapusnya dari HP sehingga yang bisa diakses hanyalah akun instagramnya, alasannya Anesha menghapus karena ketika Anesha memiliki kontak Arion ia akan mudah memiliki akses untuk menghubungi dan Anesha mengerti jika itu tidak baik. DM yang dikirimkan sering Anesha unsend saat logikanya sudah kembali menguasai.
Walaupun lama tidak kontak tetapi saat Anesha memerlukan bantuan ia masih menghubungi Arion. Jarak antar Kota Anesha tinggal dan Arion yang tidak terlalu jauh sehingga memungkinkan Arion bisa menolong Anasha saat perlu bantuan. Anesha orang yang sungkan meminta bantuan sebenarnya, dia hanya meminta bantuan pada orang-orang yang ia rasa sudah cukup dekat.
Suatu ketika Anesha sakit, ia bingung untuk minta tolong siapa untuk membelikan buah dan mengurus kelengkapan berkas sebelum lusa terbang ke negeri tetangga untuk berkompetisi karena Anesha tidak nafsu makan dan terasa lemas, akhirnya ia memberanikan diri menghubungi Arion untuk meminta bantuan. Jarak dari Kota Arion bekerja dan Kota Anesha sekitar 2-3 jam, relatif dekat walau antar kota.
Lalu Arion menyanggupi untuk permintaan pertolongan tersebut dan berjanji akan ke tempat Anesha sepulang kerja, Anesha menanti, awalnya mengabarkan telat karena masih ada hal yang harus dikerjakan lalu mengabarkan lagi jika ia tidak bisa kesana karena khawatir sudah tidak ada kereta saat pulang. Betapa hancur hatinya Anesha dengan pernyataan itu. “Hello pulang itu tidak hanya kereta alat transportasi yang ada”. Anesha hanya berfikir sebenarnya ia sadar jika meminta tolong tidak harus diberi pertolongan karena itu terserah dari si pemberi pertolongan. Di Dalam hati Anesha berkata “kl saja Aku tidak sakit, Aku pun tak harus meminta bantuan” dengan sakit yang masih dirasa, demam dan badan yang rapuh disertai hati yang juga rapuh pada akhirnya. Teringat cerita Arion yang dulu pernah mengantarkan seorang wanita yang ia pernah suka malam-malam antar kota yang menempuh perjalanan 4-5 jam sampai ia harus bermalam di salah satu masjid. Lalu Anesha langsung komparasi, memang Arion ga sayang sama Aku, dulu dengan wanita yang pernah ia suka ia sebegitunya, ini Aku lagi sakit minta tolong belikan buah saja dan sedikit mengurus kelengkapan berkas padahal kota Arion dan Anesha masih terjangkau dengan kendaraan roda dua pun.
Anesha memang cemburu dan semarah itu, tetapi kemarahannya tidak pernah ia ungkapkan. Ia hanya mampu menangis. Begitulah Anesha saat dia marah, kesal dengan siapapun dia lebih memilih untuk diam bersama dirinya sendiri lalu jika diperlukan air matanya tumpah ia biarkan, karena jika kemarahannya terucap mulutnya bisa pedas sangat dan akhirnya dia akan feeling guilty sendiri. Itulah mengapa dia lebih memilih bersama dirinya sendiri terlebih dahulu sampai emosional dia stabil karena jika bersama orang lain dia merasa energy negatifnya akan terasa alirannya dan itu adalah hal yang Anesha tidak inginkan karena Anesha menyadari jika energi itu bisa mengalir baik positif maupun negatif
Anesha orang yang rapuh memang itu salah satu alasan dia tidak suka meminta bantuan karena orang yang tidak siap dengan penolakan. Ia menyadari hatinya serapuh itu sehingga menjadi independen adalah salah satu cara untuk melindungi hatinya agar baik-baik saja.
Bahagia itu berujung luka
------------------------------------
Berselang beberapa bulan, tetiba Arion menghubungi Anesha, memberikan pesan handphone. Tersampaikan keinginan Arion untuk bertemu. Tak dipungkiri bahagia hati Anesha. Kita bertemu lalu makan bersama kemudian Arion mengantarkan sampai depan kosan Anesha. Sesekali di pertemuan itu Ario masih memanggil dengan panggilan sayang dan memperlakukan Anesha sama seperti dulu. Tak ada perubahan apa-apa saat mereka bercerita. Setelah sampai di depan Kos Ario tetiba berkata “kl nanti kamu nikah duluan, kamu akan kabari Aku ga?” lalu Anesha menjawab “mungkin” lalu tanpa banyak bercakap disitu Ario menyampaikan jika bulan depan ia akan melangsungkan pernikahan.
Anesha hanya mengatakan selamat disertai air mata yang tak bisa ia tahan keluar membasahi pipi, lalu mengatakan dengan senyum dibibir dan tumpahan air mata yang berlinang “ga perlu ceritakan terkait masa lalumu karena wanita itu pencemburu”, banyak hal yang sebenarnya Anesha ingin tanyakan tapi ia hanya melontarkan satu pertanyaan “teman kerja”? dan Ario menganggukan kepala
Tanpa berlama-lama bersama karena hati Anesha tak kuat seyogyanya. Ia masuk ke rumah kosnya lalu menuju kamar kemudian membaringkan tubuhnya, lama ia tak bisa memejamkan mata untuk tidur, pikirannya tak menentu begitu juga dengan hatinya.
Ia hanya chat pada Arion hati-hati dijalan, lalu esok harinya sedikit emosinya ia luapkan, bertanya “kenapa ga bilang dari dulu kl kamu berencana menikah dalam waktu dekat ini?” “kenapa baru kamu infokan H-14 hari pernikahanmu dengannya?” “kenapa kamu ga jujur saat dulu aku tanya”, “atau dulu cukup bilang kl kamu ga sayang sama Aku” atau “mengatakan dengan segera kamu akan segera menikah dengan orang lain” kenapa baru sekarang? jika kau sampaikan dari dulu perihal itu mungkin bisa lebih mudah Aku lupakan kamu dari dulu. Kenapa, kenapa dan kenapa dan tidak ada satupun pertanyaan Anesha yang dijawab oleh Arion. Setega itu memang Arion.
Proses menikah pastinya tidak simsalabim, melalui persiapan dll tapi kenapa semendadak ini menyampaikannya.
Tidak ada pertanyaan yang dijawab, Anesha hanya pasrah dan mencoba menerima pahitnya kenyataan ini. Berhari-hari badannya tak mampu untuk beraktifitas seperti biasa yang Anesha lakukan hanya berbaring dengan airmata yang mengalir tanpa henti dan pikiran yang tak terarah, rasanya lemas tak bertenaga tak terkira.
Baru kali ini aku tak mampu mengontrol diri aku sendiri, kenapa badan ini tak mampu digerakkan untuk aktifitas seperti biasa? gumam Anesha. Air mata tak mampu untuk dihentikan terus mengalir tanpa henti. Lalu Anesha berucap pada dirinya sendiri jika ia akan membiarkan sedih dan sakit yang dirasa ini paling lama seminggu, setelah itu LIFE MUST GO ON. Anesha harus kembali ke alam nyata. Harus dihadapi segalanya.
Anesha menyadari bahwa ia yang minta usai tapi permintaan itu bukan tanpa alasan, Anesha hanya ingin kepastian dan ternyata memang sayangnya Arion bukan untuk dirinya.
Lagu Raisa yang berjudul usai disini menemani hari Anesha
Pedihnya tanya yang tak terjawab
Mampu menjatuhkanku yang dikira tegar
Kau tepikan aku kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama
Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hari-harimu
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya
Kau tepikan aku kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama
Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hari-harimu
Seolah janji dan kata-kata yang telah terucap kehilangan arti
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya
Tak akan jera kupercaya cinta
Manis dan pahitnya kan kuterima
Kini kisah kita akhiri dengan makna
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya
Tapi Anesha orang yang pintar menyembunyikan kesedihan
Esoknya dimana malam hari saat air matanya tak berhenti terjatuh tapi paginya sudah menjadi MC salah satu kegiatan di kampusnya, lalu
Kurang lebih seminggu setelah itu
Arion masih mengirimkan pesan berupa permintaan izin untuk share undangannya
“what for” dalam hati Anesha bergumam mau menyakiti tanpa merasa menyakiti? tidakkah dia mengetahui betapa dalam sayang Aku ke dia? tak bisakah dia merasakan itu?”
Selalu banyak tanya saat ada stimulasi yang membuat Anesha ingat tentang Arion
Tapi semenyakitkan itu Anesha masih positive thinking terhadap Arion, Anesha berusaha berdamai dengan semuanya
lagu you don’t know Katelyn Tarver mengiringi langkahnya dan setiap mendengarkan lagu itu Anesha tak mampu membendung rasa itu
I know you got the best intentions
Just trying find the right words to say
I promise I've already learned my lesson
But right now, I wanna be not okay
I'm so tired, sitting here waiting
If I hear one more "Just be patient"
It's always gonna stay the same
If this isn't good for me
Let me just stop fighting
I don't want your good advice
Or reasons why I'm alright
You don't know what it's like
You don't know what it's like
Can't stop these feet from sinking
And it's starting to show on me
You're staring while I'm blinking
But just don't tell me what you see
I'm so over all this bad luck
Hearing one more "Keep your head up"
If this isn't good for me
Let me just stop fighting
I don't want your good advice
Or reasons why I'm alright
You don't know what it's like
You don't know what it's like
Don't look at me like that
Don't try to pull me back
If this isn't good for me
Let me just stop fighting
I don't want your good advice
Or reasons why I'm alright
You don't know what it's like
You don't know what it's like
You don't know, you don't know, you don't know
You don't know what it's like
You don't know what it's like
You don't know, you don't know
You don't know what it's like
You don't know what it's like
—------------------------
Allah knows everything and we know nothing
----------------------------
Walaupun sudah membuat janji dengan dirinya sendiri terkait menyudahi rasa sedih setelah seminggu berlalu tetapi hati Anesha tak sekuat itu, serapuh-rapuhnya Anesha ia percaya jika apa yang ditakdirkan Allah adalah yang terbaik. Mengingatkan hal tersebut Anesha menuliskan kata “Allah knows everything and we know nothing” tulisan itu terpasang di meja belajarnya untuk mengingatkan dirinya untuk kuat, ingat jika skenario Allah adalah yang terbaik
Tak lama setelah kabar jika Arion akan menikah. Anesha memberitahukan kabar itu ke Ayahnya melalui telepon. Ia tak menceritakan banyak hanya memberitahukan “Yah, Arion akan menikah dengan orang lain, Ayah tidak perlu menceritakan berita ini pada Mamah”, Ayahnya tak bereaksi apa-apa, tak lama setelah informasi itu keduanya menutup telepon tetapi tidak ada selang 5 menit Ayahnya menelpon kembali dua kali, tidak membahas apapun terkait Arion, sepertinya Ayah Anesha hanya mencoba memastikan dari jauh jika anak putrinya baik-baik saja”
Anesha berperang dengan perasaannya, Ia mencoba menekan perasaannya, ia mempelajari polanya saat ia sibuk tetiba ia lupa akan kenyataan pahit yang sedang dijalankan, tetapi saat tiba di kos, dirinya sangat rapuh tak berdaya dan Anesha tidak suka itu kala ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Sampai-sampai ia memadatkan jadwalnya, ikut banyak organisasi, banyak volunteer, kerja sana sini dan masih menjalani kuliahnya yang sudah mendekati semester akhir. Upaya untuk menekan hatinya berhasil dilakukan dengan kesibukan karena ketika sibuk mode feelingnya switch ke thingking tetapi sebenarnya tidak bisa dikatakan berhasil karena ketika dia diam, istirahat di kamar kosnya unstable dirinya keluar karena Anesha lelah dengan rasa yang dirasakan ia pun semakin sibuk kesana sini tanpa henti dan tanpa jeda.
Time flies kurang lebih dua tahun Anesha menjalani kehidupan yang seperti itu, Anesha lelah dengan pola seperti ini karena sebenarnya ia ingin beristirahat tetapi ia takut dirinya tidak baik baik saja saat istirahat. Akhirnya karena dia pun sudah tidak stabil, burnout karena pola itu, ia belajar untuk take a break dan benar saja yang ditakutkannya terjadi. Asam lambungnya cepat meningkat, mual muntah dan disuatu ketika tiba ia mengalami sakit punggung yang sangat menyebabkan dia tidak bisa beraktifitas, berjalan pun penuh dengan usaha dan dia harus menahan rasa nyeri. Perut yang kembung sering datang dan saat itu datang Anesha tidak bisa beraktifitas dengan maksimal.
Kejadian itu ditambahkan buruk dengan posisi diri Anesha yang harus kembali ke rumah, tempat Ia Koas selanjutnya ada di area domisili asli Anesha sehingga mau tidak mau Anesha kembali ke rumahnya.
Keadaan dirumah tidak semudah itu, mamanya yang ingin segera memiliki mantu membuat Anesha tidak nyaman berada dirumah.
Mamanya bukan sekali dua kali menanyakan terkait Arion. “Arion udah nikah belum?” dan pertanyaan lainnya dan yang Anesha jawab hanyalah “tidak tau”
Anesha sengaja tidak memberitahukan mamanya terkait kejadian sebenarnya, Anesha berfikir lebih baik mamanya tidak mengetahui sebenarnya bahwa dari bertahun tahun lalu Arion sudah menikah dan sudah memiliki anak pertamanya karena menurut Anesha itu akan membuat sakit hati mama sepertinya, apalagi ketika kejadian dulu saat Anesha masih bersama Arion lalu ada laki-laki lain mendekat dan mamanya mengatakan “kata Papah kamu kan udah pilih Arion ya sudah cukup” tapi pada akhirnya kesetiaan Anesha dikhianati dengan luka yang sangat dalam.
Anesha memang orang yang setia dan berkomitmen ketika dia sudah memilih itulah alasan Anesha menyudahi hubungan dengan Arion karena up and down hubungan mereka lalu Arion tidak memberikan kepastian padahal sudah beberapa tahun Anesha bersama Arion dan waktunya untuk menunggu seorang Arion sudah tidak bisa ditoleransi dan ketika ditanya Arion tidak memberikan jawaban kepastian bagaimana kedepannya.
Mamahnya senantiasa menyinggung terkait menikah, lagi dekat dengan siapa dll. Mamahnya kurang bisa mengerti yang Anesha rasakan berbeda dengan Ayahnya yang paham benar jika hal tersebut tidak perlu di tanyakan yang terpenting adalah didoakan karena masalah jodoh, rezeki, maut itu adalah kuasNya.
Papahnya senantiasa mengingatkan pada mamanya Anesha jika tidak usah bertanya terkait hal tersebut tetapi karena mamanya sudah ingin sekali memiliki mantu sepertinya sehingga peringatan itu tak dihiraukannya dan tetap bertanya
Mamanya membuka pembicaraan saat Ayah Anesha berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah “Nesya, mamah ingin kamu menikah agar kamu bahagia”
sontak Anesha kaget mendengar pernyataan itu lalu ia pun tak kuat untuk menahan tangis, menangis sambil berkata “Mah, siapa sih yang ga mau menikah? semua orang juga mau menikah tetapi apakah kita bisa berkuasa simsalabim jodoh itu datang? Anesha sudah cukup bahagia dengan kehidupan ini, bukannya Nesya tidak mau menikah, ya mana Mah jodohnya belum tiba, apakah Mamah mengerti terkait konsep itu?” Nesya mengerti mungkin mamah juga dapat tekanan sosial anak gadisnya belum menikah, maafin Nesha Mah, tapi ada daya Nesya? “setiap orang itu memiliki cobaan yang berbeda-beda, dan mungkin salah satu ujian aku ada di menanti jodoh untuk bersabar”
Anesha tak kuasa menahan tangisannya, ia langsung menuju kamarnya dan melanjutkan menangisnya, tak lama Ayahnya pulang, melihat dan mendengar tangisan itu. Tak lama Ayahnya mengabarkan jika mamanya juga menangis dan Anesha tak menghiraukan itu ia asik dengan tangisannya yang tak kunjung henti. Ia tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu. Keadaan dirumah tidak membuatnya menjadi baik-baik saja malah sebaliknya memperburuk kondisi perasaannya. Perasaan yang merasa tidak bisa dimengerti. Belum lagi ketika mengunjungi Neneknya, senantiasa membahas hal yang sama, ketika kumpul keluarga ada saja yang menyinggung terkait itu.
Hal yang Anesha rasa sepertinya sulit sekali orang mengerti kondisinya, hanya Ayahnya yang masih mampu menjaga perasaannya dan mengerti dengan baik akan hal tersebut.
Anesha merasa keadaan dirinya sudah tidak dalam keadaan normal. Ia akhirnya ke psikiater dan menceritakan segalanya. Dihari offnya menjalankan koas, Anesha pamitan ke RS, orangtuanya tak banyak bertanya karena memang itu ada di rangkaian koasnya sehingga pamit ke rumah sakit bukan hal yang berbeda, tapi sesungguhnya pamitnya kali ini ke rumah sakit bukan untuk berperan menjadi dokter melainkan berperan menjadi pasien seorang dokter spesialis jiwa.
Ia, Anesha sudah tidak tahan dengan keadaan dirinya yang sudah tidak baik-baik saja, mimpi-mimpi buruk menghantui, asam lambung yang meningkat dengan cepat dan yang bisa dengan sangat Anesha rasakan adalah quality of life tak sebaik sebelumnya. Saat ini ia merasa cepat lelah dan tak berdaya, benar-benar tak berdaya berbeda dengan kondisi sebelumnya yang dia aktif sana sini dan tak mengenal lelah. ini aktivitas setengah hari saja membuat ia tak berdaya belum lagi mimpi-mimpi buruknya yang membuat lelah waktu istirahatnya. Waktu istirahat yang seharusnya membuat diri kita menjadi lebih segar, ini sebaliknya. Lelah bahkan sangat lelah saat mimpi buruk menyapa.
Setelah konsul dengan dokter spesialis jiwa. Anesha mendapatkan beberapa obat. kembung yang sering dirasakan lebih disebabkan keadaan psikologis nya yang memang tidak baik.
Pengalaman pahitnya bersama Arion sedikit banyak mempengaruhi bagaimana ia saat membina hubungan dengan orang setelah itu. Anesha sekarang ketika belum ada kepastian akan kedepannya, ia menjaga jarak karena Anesha mengenal dirinya jika tidak menjaga jarak dengan baik Anesha akan tergantung cerita kepadanya dll dan ketika lepas akan sulit karena ada perasaan “butuh”. Ia menjaga jarak bukan berarti dia tidak butuh, ia butuh sekali pada kenyataannya tetapi ia tidak cukup berani untuk lebih dalam karena ia takut akan luka. Itulah cara yang Anesha lakukan untuk menjaga hatinya.
Sesekali saja Ia cerita ketika ada yang menghubunginya selebihnya semua cerita ia simpan sendiri, salah satu media untuk menuangkannya dengan membuat tulisan terkait bagaimana perasaannya, apa yang terjadi dan hal lainnya yang ia rasakan dan pikirkan
Kejadian antara Anesha dan Arion yang hubungan mereka diketahui keluarga Anesha lalu membuat mamahnya bertanya akan kelanjutan hubungan mereka dan Anesha memilih untuk menutupi demi menjaga hati mamanya, dari situ Anesha tidak mau lagi mengenalkan laki-laki siapapun pada orang tuanya sampai nanti ada laki-laki yang langsung datang ke rumahnya untuk meminta Anesha pada orangtuanya.
Setelah hubungannya berakhir dengan Arion dan harus melewati bertahun-tahun Anesha berusaha untuk berdamai dengan kenyataan, berdamai dengan dirinya dan berdamai dengan banyak hal. Hal yang membuat Anesha tidak memiliki perasaan pada Arion karena sakit hatinya ternyata lebih besar dibandingkan rasa sayangnya, setega itu Arion, saat rasa itu hadir Anesha langsung mengingat betapa Arion itu tega melakukan itu semua tanpa berfikir bagaimana perasaan Anesha seperti apa. Kala pikiran itu datang Anesha ingat pada yang Maha Kuasa, ia langsung mengalihkan pikiran itu dan langsung berkata pada dirinya “tidak ada yang sepatutnya disalahkan, semua sudah skenario terbaikNya, Arion hanyalah alat yang digunakan Allah untuk memberikan pelajaran pada diriku” begitu gumam Anesha pada dirinya untuk tetap menjaga agar benci tidak merasuki hatinya. Cukup biasa saja pada Arion tanpa rasa apapun itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada rasa sayang, tidak ada rasa benci dan rasa rasa lainnya.
Kejadian itu mengajarkan Anesha untuk memaafkan dirinya sendiri, dirinya yang kebablasan sayang dengan makhlukNya, tidak mengontrol rasa yang ada sehingga ketika sakit terasa sangat.
Setelah hubungannya berakhir dengan Arion, Anesha sudah berusaha untuk membuka hati dan pernah juga jatuh hati atau mengagumi seseorang kembali tapi tak jarang semuanya berakhir kandas dan dari situ perasaan Anesha menjadi lebih datar dan ia juga sangat berhati-hati akan perasaan demi menjaga perasaannya sendiri.
dan salah satu hikmah terbesar dari kejadian pahit itu adalah Anesha memiliki self love pada dirinya yang sangat baik dan self worth tak lagi ia se insecure dulu. Dulu ia senantiasa memandang dirinya banyak kurangnya terutama di sisi fisik, ia merasa tidak cantik karena memang fisik tidak berubah pastinya, mindset nya mengatakan “biarkan saja jika Aku mungkin kurang cantik, Aku pun tak mau orang itu jatuh hati hanya karena fisik semata, Aku mau saat ada orang yang menyukai ku karena memang melihat aku secara holistic bukan hanya part of me”. Pastinya dibalik kekurangan seseorang, pasti ada kelebihan yang dimiliki dan kita harus merasa cukup akan diri kita.
Anesha ingat sekali kala masih memiliki hubungan dengan Arion, Anesha merasa yang banyak memulai conversation melalui media handphone seperti chat dll Anesha yang memulai duluan dan dari situ Anesha merasa kesannya hanya Anesha yang butuh Arion, karena terkesan Anesha yang menjaga hubungan. Ya memang benar Anesha membutuhkan Arion dahulu untuk cerita dll karena saat itu Anesha sangat sulit menceritakan apapun pada yang lain tapi dari situ Anesha belajar saat membina hubungan ia membatasi diri untuk contact duluan. Anesha harus memiliki batas jangan sampai ia butuh kebebasan yang tanpa disadari menjadi kebutuhan.
Ketika aura nya seorang laki-laki menarik perhatian Anesha dan bisa membuat Anesha nyaman, Anesha akan hati-hati karena ia mudah untuk tergantung.
Prinsip Anesha hubungan itu saling jika hanya satu yang bekerja keras hubungan itu tidak akan bekerja dengan baik. Prinsip itu yang Anesha pegang, sesayang sayangnya Anesha pada seseorang ia tidak akan memaksakan memiliki, ia akan melihat dari sisi laki-lakinya terlebih dahulu seberapa sayang dan butuh laki-laki itu pada dirinya dan begitu juga sebaliknya saat ada laki-laki yang mungkin sayang pada Anesha ia akan bertanya pada dirinya terlebih dahulu sebelum memutuskan lebih jauh.
Hati Anesha sudah lelah dalam ketidakpastian yang berujung sakit hati sehingga saat ini lebih memilih menetralkan hati untuk belahan hati sesungguhnya nanti. Walau tak dipungkiri pastinya di saat saat tertentu hatinya tak netral dalam arti tertarik kepada seseorang tetapi Anesha terus menjaga dalam batas yang tidak berlebihan. Membatasi dengan porsinya demi menjaga hati rapuh yang dimilikinya.
Saat ini Anesha sudah menyelesaikan 2 tahun koasnya dan sudah selesai pula menjalankan internship satu tahunnya di perbatasan, Anesha saat ini sudah bekerja di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kotanya.
Perihal menikah dari sejak ia lulus sebenarnya sudah menjadi prioritasnya tetapi memang belum ketentuanNya untuk dipertemukan jodohnya sampai saat ini, bukannya tak ingin menikah dan tidak berusaha, hanya Allah yang tau bagaimana usahanya tanpa harus ia ceritakan dan biarlah Allah yang mengetahui pasti bagaimana perasaannya.
Terkait dengan orangtua, semenjak sensitivitas aku jika dibahas hal terkait menikah yang tak bisa menahan air mata karena jika hal tersebut dibahas karena rasanya berkata dalam hati “apakah tidak mengerti?” sehingga mamah ku sudah memiliki kendali terhadap bahasan itu. Bukannya Anesha tak mengerti kekhawatiran mereka terkait Anesha belum menikah tapi Anesha pun ingin dimengerti jika itu bukan ada kuasa dirinya. Jika memang orangtuanya tidak mengerti mungkin pilihan Anesha adalah bekerja di luar kota sehingga bisa menghindari bahasan itu tetapi sejauh ini karena Anesha rasa semuanya lebih bisa terkendali, Anesha menikmati kebersamaan bersama dengan keluarganya.
Terkait hati, Anesha sangat hati-hati karena seseorang yang bisa memberikan energi pada kita disaat yang sama orang tersebut juga yang bisa melumpuhkan kita, itu yang Anesha rasa sehingga ia dituntut untuk bijak memanagement hati yang dimiliki.
Terkait jodoh Anesha tak mampu lagi mengerti usaha apa yang harus diperjuangkan, dan pada akhirnya Ia hanya mampu berserah dari dan tidak mau fokus pada hal yang diluar kendali dirinya sepenuhnya. Rencana Anesha sambil ia menikmati kebersamaan dengan keluarga bekerja di RSIA ia pun berusaha meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri mengambil spesialis.
Anesha pikir, realistis saja dalam menjalani kehidupan, apa yang bisa diupayakan ya diusahakan dan apa yang diluar kendali kita hanya doa yang mampu menjembatani keinginan dan harapan untuk menjadi realita. Saat Allah belum mengijinkan Anesha bersama kekasih halalnya fokus dia adalah upgrade diri untuk bisa bertemu dengan kualitas pribadi yang unggul.
Ia tersadar jika kehidupan menuntut realita tak sekedar cinta, ada tubuh yang harus diberikan asupan makanan untuk bisa berenergi, ada raga yang perlu atap untuk beristirahat. Kesiapan diri pribadi untuk membina rumah tangga hanya Allah yang Maha Mengetahui lalu menentukan dengan takdirNya. Syukurnya ia tak sekaku dahulu yang cerita saja sulit tetapi Anesha yang sekarang lebih terbuka dan ceria, tak se strike dahulu yang berfikir memiliki relation itu sia-sia sebenarnya boleh saja diri Anesha mengijinkan itu untuk berkomunikasi dll asalkan Anesha bisa untuk menjaga kadar di porsi yang seharusnya demi menjaga hatinya.
Orang senantiasa beranggapan jika Anesha hanya fokus pada cita-cita padahal sesungguhnya sejak dahulu ia mempersiapkan diri akan kehidupan berkeluarga dan cita-cita besarnya ada disana. Biarlah bagaimanapun pandangan orang padanya, orang tidak pernah menapaki jalan yang ditempuhnya.
Sejauh ini yang Anesha syukuri adalah Ia masih dikuatkan oleh Allah S.W.T jadi teringat DM yang masuk di instagramnya dari salah satu teman wanitanya yang satu angkatan tanpa basa basi tertulis di chat “Sha ajarin untuk tenang menghadapi gunjingan orang terkait tentang nikah” lalu segera Anesha balas
“Kita harus belajar biasa saja terkait omongan orang yang seperti itu karena kebahagiaan kita bukan tergantung omongan orang, yang meminta kita nikah segera lalu ketika kita asal tanpa memilih memang orang lain mau bertanggung jawab terhadap hal tersebut? bertanggung jawabkah mereka terhadap pernikahan dan kebahagiaan kita? mereka hanya bisa bersuara bertanya tanya, menggunjing, mereka ga pernah ada diposisi kita, mereka yang menggunjing ga pernah paham posisi kita dan mereka ga paham jika urusan jodoh bukan ada dikuasa manusia, kita memang bisa berusaha tapi tetap Allah yang menentukan, bagaimana usaha kita mereka pun tak tau dan ga mesti tau”
“Ketika kita bisa keluar dari lingkungan itu ya keluar saja jika itu membawa dampak negatif pada kehidupan kita dan jika dikhawatirkan menggoyahkan kekuatan diri kita, jika tidak bisa keluar sepertinya tidak usah terlalu dekat, kl mereka ada di lingkungan terdekat kita misal orang tua coba komunikasikan dengan asertif, mungkin orang tua kita belum paham. Terkait menikah itu bukan urusan sederhana sehingga kita harus memiliki prinsip jadi sebisa mungkin kita kuat akan prinsip kita, jika diolok-olok pilih-pilih dll, ya memang memilih, mau membeli sayur saja kita milih, mau membeli sepatu yang mungkin terpakai hanya satu tahun dua tahun saja kita milih, ini imam kita, ayah dari anak-anak kelak. Jangan sampai kita goyang hanya karena omongan orang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Aku paham posisi kita tidak mudah, apalagi ketika berkumpul bersama keluarga di momen tertentu akan menjadi sasaran empuk, kl memang kita bisa hindari interaksi ketika kita merasa tidak kuat, itu gpp menurut Aku dibanding nanti runtuh pertahanan dan mengambil keputusan yang tanpa pertimbangan itu bisa merusak masa depan dan akan merugikan diri sangat. Bismillahirohmanirohim ya untuk kita.