Frame atau bingkai hidup itu adalah amal sholeh. Sederhananya semua langkah, gerak dan aktivitas kita mesti menjadi ibadah. Kebalikan dari itu adalah amal ghoirus sholih/tidak sholeh yaitu maksiat/dosa, dan sifatnya aamilatun naashibah; melelahkan.
Sebagai Abdullah/Hamba Allah; upaya terus menerus yang harus diusahakan adalah bagaimana kita masuk menuju tangga pertama yaitu Sholeh ( bergerak dalam menjaga amal sholehnya ) Standarnya adalah muwashofat.
Tangga kedua adalah Mushlih/da'i ( menggerakan orang agar bisa mandiri dalam kesholehannya ).
1. Menjadi panutan/model/qudwah dari lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dst.
2. Menciptakan kebiasaan dan menjaga lingkungan/bi'ah Islamiyah
3. Memupuk kesadaran ('alal bashirah).
Tangga kesatu bisa diusahakan secara fardiyan/individu.
Tangga kedua bisa diusahakan dengan gerakan dakwah dan berjamaah, tapi menjaga keduanya tetap harus dengan kebersamaan/berjamaah.
Gerakan dakwah kuncinya ada pada pelakunya yang bergerak (Muharrik/haraky) bukan sukuny, makanya doanya wal 'aamilina lidzalik.
Untuk menjaga agar tetap bergerak; pastikan yang ada dalam jiwanya Nafsul Muthmainnah, tidak ada nafsul ammarah/lawwamah. Energi luar/fisik itu sifatnya terbatas, energi dalam itu tidak terbatas; bahkan bisa mengubah kondisi tertentu secara cepat.
Rumus mempunyai nafsul muthmainnah adalah Ihyaus Syu'ur ; menghidupkan Rasa dan kepekaan baik terhadap Kholiq; Allah Swt atau kepada sesama, dai, muharrik, mad'u atau makhluk yang lainnya. Orang munafik dicabut kepekaaan dan rasanya, dalam Quran: Wa laakin Laa Yasy'urun. Dalam bergerak agar terhindar dari hilang rasa adalah Ihyaus Syu'ur dengan cara Tazkiyatun Nafs: muhasabah/tilawah/dzikir dll dan Ruuhut Tanaffus ; semangat berkompetisi; standarnya bahwa dalam dirinya ada ruhut tanaffus; ketika yang lain bergerak, dia merasa malu, iri dan kemudian ikut bergerak.
Gerak langkah kita yang disertai Nafsul Muthmainnah, Ihyaus Syu'ur, Ruhut tanaffus, itu ciri amal sholeh. Dan tetap berhati-hati dengan amal yang tidak dilandasi dengan itu semua, hawatir menjadi aamilatun nashibah; amal yang melelahkan, karena titik tolaknya kebalikan dari yang tadi yaitu dari dosa/maksiat.
Akhirnya gerakan pribadi-pribadi itu, yang diatur secara baik dalam bingkai yang tepat, melahirkan gerakan bersama dalam konsekuensi berjamaah, keseluruhan puncaknya hanya semata sebagai sarana Taqarrub atau Taraqqub kepada Allah.
Taraqqub itu; Allah jatuh cinta kepada seseorang, sehingga dia didekati Allah.
Taqarrub itu; hamba yang berusaha mendekat kepada Allah dengan seluruh sarana amal sholeh baik ketika sendiri ataupun berjamaah. Dan hanya Amal sholeh yang attraktif yang bisa menembusnya, salah satu sarana mendapatkannya adalah intima' dan berjuang bersama sama dalam gerakan dakwah, sbb disitu berlaku sarana-sarana untuk muhasabah dan tanasuh secara objektif bainal qiyadah wal jundiyah.