Signature Kepemimpinan Nusantara
Kita harus melihat bahwasannya sejarah di Nusantara harus dipandang secara berkesinambungan, dimana paling awal adalah pada era :
Prasejarah tentunya belum terdefinisi karena belum adanya sistem baca-tulis
Era Kuno (Hindu-Budha) pada abad 5-15
Era Klasik (Islam) pada abad 16-17
dan Era Kolonial pada abad 17-20
Kondisi kita saat ini, ingatan sejarahnya hanya mampu pada era kolonial, ingatan paling jauh kita seolah-olah putus karena adanya masa transisi. Tanpa diketahui pada era klasik kita memiliki pendidikan Kemahaguruan Sriwijaya yang sudah terkenal hingga ke Dinasti China, ditempat ini para calon Bigu di traning terlebih dahulu sebelum ke India. Pada tahun 674 terdapat catatan kronik Tiongkok pada masa dinasti Tang adanya berita tentang Ratu Shima yang mahsyur dikepulauan selatan, dengan nama kerajaan tidak disebutkan akan tetapi ada nilai-nilai historis yang bisa diambil karena sang ratu terkenal tegas dan adil, dimana putranya melanggar aturan kerajaan, maka sang anak ikut terkena hukuman oleh ibunya sendiri.
Kemudian berlanjut hingga Demak adanya Kitab Surya Ngalam yang berisi aturan yuridis yang berbentuk prosa atau undang-undang mengambil dari literature Majapahit di akhir abad 1478. Pada puncak kehebatan pada raja Tribuana Tunggadewi dan sang anak Hayam Wuruk Majapahit melalui sang Mapatih Gajah Mada (Perdana Mentri) mengikrarkan sumpah Amukti Palapanya ada sepuluh negri-negeri yang harus ditaklukan sebelum ia beristirahat, karena terjadi keadaan atau situasi politik yang tidak stabil. Para raja atau penguasa saat itu kehilangan legitimasi di masyarakat, juga para resi dan begawan karena terancam mereka secara berangsur-angsur meninggalkan kawasan yang tidak lagi aman. Maka di Padukuhan kala itu kehilangan ajaran para begawan, hingga kehilangan krisis identitas atau lokal wisdom.
Dikarena situasi yang kacau mereka menyingkir ke berbagai tempat, menjauh dari pusat kepemimpinan disaat itu pula terjadi transisi ketertarikan adanya perkembangan agama baru yang di bawa oleh para pedagang Arab, Persia, Gujarat hingga Pasai yang saling bertemu kemudian berakulturasi dengan nilai-nilai lokal secara halus tanpa paksaan. Hingga terjadi persatuan baru, mereka yang memiliki pertalian dengan penguasa lama membuat hegemoni baru di pesisir pantai hampir satu abad lamanya dan terus berkembang ke pedalaman jawa.
Adanya perubahan situasi di Negeri Barat terjadinya agresi Kesultanan Umayyah yang semakin ke utara dan menjadi Andalusia, dikemudian hari pada tahun 1453 Konstantinopel juga ikut runtuh oleh Ottoman maka Venesia sebagai kota pelabuhan besar diblokade, maka terjadi kekurangan pasokan pangan dan merubah landscape jalur perdagangan. Dikemudian hari para pelaut Portugis, Spanyol, Belanda, British etc, yang dikomandoi oleh kekaisaran barat masing-masing untuk mencari jalur rempah-rempah baru, hingga sampailah di kepulauan nusantara. Diantaranya ada di Malaka, Pasai, Palembang, Sunda Kelapa, Tuban, Canggu, Makassar, Ternate-Tidore dll.
Adanya potensi besar inilah para pelaut Portugis pada tahun 1511 mengabil alih Malaka dan membawa VoC sebagai perusahaan dagang di wilayah yang di laluinya dengan bekerjasama para pemimpin lokal setempat. Hingga pada akhirnya masuklah kolonisasi atau era penjajahan yang membuat masyarakat sengsara karena para pemimpin lokal yang sudah kalah dalam peperangan dan persenjataan maka mereka berkonsensus bersama melakukan perjanjian-perjanjian dagang, ekonomi, agraria dsb dan saat itu ikut juga memperbudak rakyatnya sendiri.
Mencari bentuk sebagai negara pasca kolonial, sejarah itu sebagai cara mengekstrapolasi masa depan, kini terjadi krisis identitas adanya pemimpin sebagai person yang ideal kita berkaca pada sejarah adakah bentuk Signature Ideal Kepemimpinan Negarawan pada masa lampau



















