Mungkin kamu pikir aku adalah si bodoh yang mudah tertipu. Padahal aku telah menyadari dan menebak itu semua sejak lama. Hanya saja, aku tak pernah membicarakannya. Lanjutkan saja ceritamu bersamanya, tak perlu risaukan aku. Sudah lama aku tak menangis, karena bosan, bodoamat, bahkan muak. Kunikmati hari-hari bersama tawa, karena semua yang aku tahu ternyata benar adanya.
Sekian purnama kamu mampu bersandiwara di depan banyak manusia, tapi tidak dihadapanku. Kamu pikir aku masih di tempat yang sama, padahal, diam-diam aku telah mundur, membiarkan pergi seseorang yang masih mengharapkan masa lalunya.
Aku sudah terbiasa dengan langkahku, takkan kusesali apapun yang terjadi di hari kemarin. Sebab, aku selalu yakin, bahwa satu-satunya di dunia ini yang tak pernah meninggalkanku adalah Rabbku.
Aku tidak pernah mengkhawatirkan apapun yang belum tentu menjadi takdirku. Jika aku risau, mungkin hubunganku sedang tak baik dengan Penciptaku. Jika aku galau, mungkin telah berkurangnya waktuku berdua dengan mushafku.
Kini, aku jauh lebih tenang, ketika sumber bahagiaku bukan lagi tentang manusia dan pernak pernik dunia. Pun Jika aku bersedih, tugasku hanya membenahi ibadah-ibadahku, mengatur ulang ritme langkahku.
Sidoarjo, 13 Mei 2019 | Pena Imaji