Pernah jadi anak yang kalo dikasih tahu gak mau denger? pernah...
Pernah jadi anak dipanggil nyahutnya lama? pernah...
Pernah jadi anak gak diizinin buat hangout sama temen-temen, lalu perengut tuh wajahnya? pernah...
Biasanya yang paling sering ngomel dirumah siapa? papa/mama? atau dua-duanya? Dalam keluargaku yang jelas dan pada umumnya mamalah yang langganan melakoni peran tersebut, karena mama orangnya sangat perfeksionis, coba saja buat satu kesalahan di rumah maka semua yang dirumah kena getahnya, YAK! SEMUANYAAAA TANPA TERKECUALI, dan kami para anak-anak sudah sangat memaklumi itu.
Hal ini biasa aja kan ya? pasti kalian semua hampir sebagian besar memiliki rasa yang sama dengan ku, kita tinggalkan ini sejenak karena yang ingin aku sampaikan mengenai ketidakbiasaan yang berbeda dari apa yang aku sebut diatas,
P A P A, kusebut dirinya papa, karena sejak dari aku masih bayik, kata itulah dikenalkan padaku untuk mengenali sosok laki-laki berkulit sawo matang dengan postur tubuh yang tidak terlalu besar juga ciri khas kumisnya yang lebat, yang kalo makan nasinya suka nyangkut ke kumis-kumisnya itu. hihi....
P A P A adalah sosok laki-laki dirumah yang meskipun buka satu-satunya lelaki, sebab masih ada 2 orang adikku yang laki-laki juga, P A P A pribadi yang tidak pernah marah, tidak pernah gengs, serius!!, mentoknya beliau hanya menegur sebatas menasehati tanpa harus berkontak fisik atau suara lantang terkadang dengan guyonan, tetapi bukan berarti P A P A gak bisa ngambek, ohhh.. ini dia...
Kala itu aku tidak tersadarkan bahwa P A P A ngambek sama aku, sampai tibalah momen dimana aku benar-benar tersadar sendiri, saat itu kami sedang makan sahur, segala omongan, pertanyaan, dan candaanku tidak digubrisnya, aku seperti fana kala itu, huhuhu....., rasanya terasingkan dan sangat tidak mengenakkan, gumamku “lebih baik aku diomelin sampai telingaku panas daripada harus didiamkan seperti ini”, mamalah yang esoknya menyampaikan padaku kalau P A P A ngambek sama aku karena perkataan “Ahhh,, papa ini to” yang aku lontarkan ketika aku dinasehati beberapa hari sebelumnya. Menjelang buka puasa, aku memberanikan diri untuk mengutarakan maaf untuk pertama kalinya sebagai anak kepada orang tua, ada rasa malu, takut, mau nangis (jadi beneran nangis sih..) gugup banget dan rasanya ada yang nyangkut dileher jadi waktu ngomong malah jadi serak-serak basah dah T_T
Sejak saat itu, aku mengerti bahwa marahnya seorang P A P A, tidak perlu dengan sesuatu yang emosional, karena peran tersebut sudah diambil penuh oleh mama, marahnya P A P A sebuah kebijaksanaan, bisa dibilang bijaksananya seorang pemimpin dimataku, P A P A paham bahwa anak-anaknya sudah terlalu sering diomelin mamanya oleh segala hal apapun yang terjadi dirumah, maka marahnya seorang P A P A cukup dalam bentuk penyadaraan diri :) dan itu It works gengs, hehe :)
Betapa aku bisa mengagumi seorang laki-laki berawal dari P A P A