kakek tua berjanggut lebat
sore itu aku bertemu dengan kakek tua berjanggut lebat memakai selempang berlambang anarki, di kemejanya terdapat logo bendera amerika yang pudar.
dia bertanya kepadaku "kau sendirian saja wahai anak muda?", aku menjawab "iya mbah", dia tertawa keras sekali ketika aku sebut kata mbah, "aku masih muda" katanya, "tapi kau berjanggut panjang dan keriput", dia tertawa lagi namun sedikit lebih pelan, "janggutku memang panjang dan kulitku juga keriput tapi bukan berarti aku sudah tua", "tapi kau tadi memanggilku sebagai anak muda" bantahku, dia kembali tertawa namun lebih pelan lagi daripada yang kedua, "jadi kau merasa lebih muda dariku jika aku panggil dengan sebutan anak muda?" dia bertanya lagi,
tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku setelah pertanyaan itu, lalu dia mengeluarkan dari tas nya sebuah rokok mild yang berlogo A dengan gaya font new york times dan menawariku sebatang, aku menggambilnya dan disulutkanlah ujung rokokku yang sudah berada di depan mulutku,
"aku memanggilmu dengan sebutan anak muda karena kulihat kamu sendirian merenung di kursi taman dengan pandangan kosong lurus kedepan, tak jarang anak muda cenderung lebih memikirkan kehidupan esok hari dan menyesali kehidupan yang berlalu, namun sebenarnya kehidupan yg akan datang bukanlah masalah yang berat jika kau tidak memikirkannya sedalam itu, jalani saja ntah besok kamu makan atau tidak itu bukan urusanmu dan orang lain yang menilaimu bukan pula kendalimu, lakukan sesukamu bebaskan dirimu, nanti kau akan tertawa ketika janggutmu sudah lebat dan kulitmu tlah keriput melihat dirimu sendiri termenung sendirian". lalu dia pergi meninggalkan sebungkus rokoknya tapi tidak dengan koreknya, lalu ku ambil korek di sakuku dan rokok bermerk ilegal sisa satu di sakuku, lalu aku tersenyum.













