"Serius ini, manusia se-workaholic gua, harus bertarung dengan kehidupan menjadi pengangguran?"-L
$LAYYYTER

Love Begins
Stranger Things
Cosmic Funnies
Show & Tell
NASA

pixel skylines
Xuebing Du
RMH
Mike Driver

@theartofmadeline
Noah Kahan

Product Placement
cherry valley forever
Keni
hello vonnie

Origami Around

#extradirty
𓃗

seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Norway
@elonaeown
"Serius ini, manusia se-workaholic gua, harus bertarung dengan kehidupan menjadi pengangguran?"-L

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku pernah mencintaimu tanpa syarat, namun kini ku telah sampai pada titik ku membencimu tanpa alasan.
L
Mengakhiri Rasa dengan Frasa
Aku akan pastikan, bahwa aku bisa, mencari, menemukan, dan melakukan 1001 cara untuk melupakanmu. 😔
No Regret
One thing that I realize right now that I am worthy enough to get happiness in my life. So, I don’t deserve this.
And, when that time come, maybe in the future. The time when you realize me. I was leaving from that place, I wasn’t here anymore.
The time when I already moving on so far away, and you realize that you was losing your biggest opportunity in your life. The opportunity to have me as a part of your life.
So, If our god says that we are a same red thread in this universe. I think you must have big courage and effort to make my sight back into you again.
A beautiful good bye heard like was only in a song or poem. But, actually, it was like that in real. It was fun and also chaotic through this rough time, so... it have to be a beautiful good bye even with cloudy eyes to end this game. Is it the end game?

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pahitnya Rasa
Mengapa tak kau ambil saja rasa ini
Jika hanya membuatku sakit
Mengapa kau titipkan rasa ini
Jika tak berakhir bahagia yang terakit
Mengapa aku harus begini, seperti ini, mengalami ini
Ingin kau pergi
Tapi tak bisa lepaskanmu
Tapi perih rasa jika bersamamu
Tiap kali mengingatmu
Rasa ingin ku bunuh saja hati ini
Berfikir betapa bodohnya aku
Untuk bisa jatuh sedalam ini
Aku dengan gengsi (pride) ku
Dan
Kamu dengan prasangka (prejudice) mu
Mungkin kita tidak pernah berada di kereta yang sama.
Lantas, bagaimana mau berharap berada di gerbong yang sama... bahkan sampai di tujuan yang sama?
Because it cause Chaos.
Hei, you, yes you there.
You know, I'm fucking missing you.
The hell. I hate this.
I doesn't even know what I miss.
But, hell hei... why?
How can I forget you then.
You are the worm in my brain already.
Oh god, how can you make me feel this if fate doesn't meet me and him together? Like seriously?
So can you just take this feeling back? If we're not be fated together?
Arg. Damn. Good... you know? It just feels like I already engraved his name in my uncounciously. LIKE WHYYYYY???
Arg. Sometimes, I realize it was so fucking stupid. But, still... even in my best try to forget him, it only bring it back more more deeply. Even I notice the realistic thing is we are nothing. Buts still, you have a special spot, even when I try to forget and let you go.
If you read this... anytime... if... you read...
Or if, I read this post in the future...
This post made of a person who met you in 2013. But start notice you in 2015. And writen in 2021. How dam long.
It betwen loyalty or stupidity. FIN.
I think, I finally can sleep now.
Quit
Well,
I lost you to go back then,
but now,
I let you go.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
ALTER REALITY
( Heart Storming)
Aku terlalu sibuk membentuk kesan dalam kehidupannya hingga lupa bahwa diriku layak bahagia tanpa ilusi fana.
Aku terlalu sibuk hidup dalam dunia fatamorgana ego ini, yang nyatanya... tak ada kesannya dalam hidupnya.
Harapan-harapan yang runtuh kini, hanyalah harapan bodoh yg kusematkan dan kupercahayakan.. oh tidak... kupaksakan untuk percaya hidup dan tumbuh dalam dunia fana yg ku buat sendiri, lantas... nyatanya, aku ini bukanlah siapa-siapa.
Aku... yang selalu sibuk untuk memberikan kesan, nyatanya hanya buang-buang waktu saja menjadi bukan siapa-siapa.
Fatamorgana dunia fana ini, sangatlah indah. Namun sudah cukup kenyang kuteguk pahitnya kenyataan betapa bodohnya membuang waktu untuk ilusi yang tak pernah jadi nyata.
Khayalan-khayalan belaka yang tak pernah kusangka harusnya tak layak untuk diperjuangkan. Ha ha ha ha ha ha..... Tawa ironis pun berdansa beriringan dengan airmata menyambut diriku yang kini tlah terbangun dari mimpi indah yang selama ini kuciptakan sendiri adanya. Bagi kesan yang takkan pernah nyata... terima kasih telah menangguhkan diri ini menjadi seperti ini adanya. Membuatku sadar, betapa kuat diri ini bertahan di dunia yang fana. Hebat. Tapi, kini kumohon terbangunlah. Lalu hiduplah dengan semestinya di dunia yang nyata, bahagialah di dunia yang nyata. Dan... Untuknya semoga dirinya pun bahagia. FIN.
Schmerzen
Why, why it is so painful.
I can't found the source of this pain.
What is the aethiology?
This pain eat me from the inside.
Carving...
Carving...
Screaming...
Why it feel so painful?
Where... where...
I need to find it.
To cure it.
Can you help me?
No...
Can I heal me?
It feel so blue... it eat me.
I am such a Holo.
Tawa Tanya Gila
Tampaknya semesta gemar sekali bercanda.
Hati ini bagaikan kincir angin yang dengan mudahnya ia putar-putar.
Semakin ku hindari nampaknya ku kembali lagi ke titik yang sama. Lucu bukan?
Layaknya buih, kau buat ku kan terus kembali ke tepi pantai.
Berulang kali ku pasrahkan dan putuskan untuk pergi... kau dekatkan. Kau buat dia tempatku pulang.
Saat ku yakin, kau goda aku tuk kembali membuatku ragu lantas menyadari betapa bodohnya aku saat itu.
Lagi, lagi, lagi.
Haaah... gila ku lama-lama dibuatnya.
Siapa pula yang tak tertawa atas dilema kehidupan seperti ini.
Hai semesta... rencana apa lagi yang kau persiapkan?
"Souls are souls, none of them worth to be sacrificed. They're more precious than you thought."_el
TANYA HATI
"TANYA HATI"
"Benarkan, sudah ku bilang apa... ini akan terjadi. Aku jelas-jelas merasakannya... aku tahu itu", ujar hati... penuh yakin... yang kini mulai menghapus pelan luka di raganya.
"Ah.. diamlah... aku sedang memikirkan solusi. Aku pula yg memikirkan cara bagaimana kau sembuh tau... lantas bisa tidak kau tak berlagak lebih tahu dariku. ", balas pikir yang masih kalut mengobrak abik laci pengetahuannya.
"Ya ya... kau memang sumber pengetahuan tiada tara... baiklah... sekarang ku tanya kau. Lantas mengapa kau lalu tak menghiraukan peringatanku? Tak pikirkan kemungkinan bahwa hal itu mungkin saja terjadi?", tanya hati lagi yang kini ikut kesal karena selalu dianggap angin lalu oleh pikir.
"Kau bilang aku tak perlu terlalu cemas! Tak perlu overthink? Lantas baiknya bagaimana??? Kau sendiri tak punya saran kan??? Sudah coba tekan dulu luka mu satu itu dengan ini...", balas pikir sambil memberikan kasa yang kesekian kalinya pada hati... ia makin cemas... peluhnya membanjiri raganya... makin bingung mencari obat terbaik untuk luka milik hati.
"Kau hanya tidak perlu denial pada hal2 yg typikal!!!! Semua ini memiliki awal dan kecurugaanku yg sama tau! Tidakkah kau berfikirrrr... aw..", tegas hati, dirinya frustrasi... kini sebagian raganya mengeras, ia merasa trauma. Semua ini terlalu sering berulang... hingga ia muak.
" Iya maafkan aku. Kerjaku kurang becus. Aku terlalu lemah untuk beberapa hal yg sudah dekat.... aaaa... aku harus apa lagiii...", jawab pikir yang ikut frustrasi, jatuh terduduk, memeluk kedua lututnya. Laci-laci berantakan tak membantunya sama sekali.
Hati tertatih menghampirinya, menepuk pundaknya lalu berkata, " mari kita tanya tuhan saja, aku capek, dan aku yakin kamupun begitu."
Pikir menatapnya, lalu mengangguk mantap. (Short story tell)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tegar
Aku terduduk diam dihadapannya. Terpesona menatap dirinya. Senyuman terlukis dibibirnya yang mulai berkeriput. Garis-garis wajahnya mulai tampak jelas. Rambutnya yang mulai memutih. Mataku tak berpaling dari dia yang tetap terpaku sibuk melakukan pekerjaannya. . . . Mataku yang sejak tadi menangis mulai merasa kekeringan. Hanya sembab, bengkak dan perih yang tersisa di sana. Wajahku sendu. Bibirku masih bergetar. Hatiku seperti hanya tersisa remah-remahnya saja. Hidungku masih terisak mengeluarkan lendir-lendir menyedihkan. Hidupku terasa hancur. Aku laksana baru saja diterjang badai. Badai yang besar sekali. . . . Sosok dihadapanku masih melihat pekerjaannya. Tetapi, tangan berkeriputnyanya berhenti bergerak. Perlahan ia menegakkan punggungnya. Lalu menatapku dengan sorot mata dingin dan tajamnya... lantas berkata, “ Kamu menagis? Kenapa menangis?” Ucapnya seakan-akan dingin tak perduli, tapi ku yakin... saat itu pula hatinya hancur menatap diriku seperti ini. Kata-katanya jarang sekali terasa manis, tetapi, entah mengapa selalu terasa benar. Tindak tanduknya padaku lebih sering keras dibandingkan lemah lembut, tapi dia selalu selipkan moral-moral kehidupan di sana. . . . “Engga. Gapapa” Ujarku, sambil menggeleng padanya. Aku memaksakan senyuman terbaiku untuknya. Sambil tersadar perlahan lantas kemudian akupun tertawa, merasa betapa bodohnya diriku ini sampai menangis tiada henti, menduram durja, mendrama konyol akan konflikku, merasa aku paling merana di dunia. . . . Sosok itu hanya menatapku dalam. Tatapannya tajam menusuk. Dingin, seperti yang biasa ia lakukan. Semburat kebingungan tergambar di matanya. “Yasudah kalau begitu. Hidupmu itu berharga, kau harus ingat itu,” ujarnya, lantas terdiam. . . . Aku mengangguk dan tersenyum. . . . Aku kemudian bergumam dalam hatiku sendiri, “Hai ibu... berapa banyak dan seringnya hatimu tersakiti sampai kau sekuat ini? Berapa banyak dan seringnya kau terkhianati sampai kau tegar ini? Seberapa dekat dirimu dengan tuhan sampai kau setenang ini? Seberapa banyak dan seringnya kau dibohongi atau dibodohi sampai kau seobjektif ini? Seberapa seringnya engkau terjatuh sampau kau tak pernah takut lagi? Seberapa besar dan seringnya badai kau hadapi sampai kau sebijak ini?” . . . Jatuh, menangis, kemudian bangkit lagi. Tegar. (Short story tell)
Sayonara
Tahun demi tahun kita lewati bersama, 5?10? 20? ah... akupun lupa. Susah, senang, sedih, kita jalani bersama. Indah. Walau banyak air mata dan keringat dalam perjalanan ini, tapi lebih banyak kita jalani dengan tawa. Tahun demi tahun itu pula kita tumbuh, tumbuh besar dan mendewasa. Bukan hanya tubuh kita yang bertumbuh dan berkembang, tapi juga ilmu, pemikiran serta lingkungan. Perlahan-lahan kita terpisahkan oleh jarak, yang kian menjauh baik tempat, waktu, pemikiran dan cara pandang. Mungkin dahulu, kita masih sama-sama polos, masih sama-sama tidak tahu asam garam kehidupan. Masih sedikit, hal yang kita pikirkan. Iya, kamu dan aku... masih sama-sama hidup di dunia yang simpel. Kini... aku dan kamu sudah mulai dewasa... usia dan pemikiran kita sudah semakin matang. Permasalahan yang kita hadapi juga semakin berwarna. Lika-liku kehidupan kerap kali menyapa. Impian yang kerap kali kita perbincangkan juga menjadi lebih berat, lebih besar, lebih terstruktur dan lebih mengagumkan. Untaian kata-kata kita juga semakin berbobot. Senang rasanya. Kita semakin menjadi lebih hebat setiap harinya. . . . Iya.. aku pun bangga dengan kita. Kita bukan lagi anak ingusan. . . . Kupikir... dengan semakin mendewasanya kita... dan pikiran kita... kita dapat berdiskusi lebih terbuka, lebih menyenangkan, lebih dalam. Dengan semakin mendewasanya kita... kita akan lebih mudah saling menghargai satu sama lain, lebih mampu menahan ego kita masing-masing. . . Tetapi... aku tak sepenuhnya benar... . . . Akhir-akhir ini... kita semakin sering menyakiti... semakin egois akan pendapat kita masing-masing. Ah... bukan, kau yang semakin kuat akan kebenaran dirimu tanpa gundah akan peluang lain... sedangkan aku semakin terbuka akan beberapa peluang lain. Kau... dan aku kini terasa berbeda. Ah benar... mungkin kau dan aku juga berubah... seiring mendewasanya kita... kitapun berubah. Benar.. kini kau semakin menjadi dirimu. Akupun menjadi diriku. Frekuensi kitapun perlahan mulai bergesekan.... apakah akan semakin menjauh? . . . Kau dan aku... kini lebih sering menyakiti dibanding memahami. Kau dan aku... kini semakin sering bertolakan dibanding berdamai. . . . Jika ditanya, bagaimana perasaanku? Aku... tetap ingin bersama. Karena ku menyayangimu. Tapi kau tahu? Perjuangan ini takkan bisa dilakukan hanya dengan tangan dari satu pihak saja sobat... . . . Maka ku putuskan... untuk berhenti saling menyakiti satu sama lain. Jika kau tak mampu, maka biarkan aku saja yang mengawali... biar aku saja yang mengambil jarak diantara kita. Hingga nanti bila semesta masih mengizinkan kita bersama... maka semesta akan pertemukan kita lagi... dengan harapan kita telah menjadi pribadi yang lebih baik. . . . Teruntuk kamu.... hiduplah dengan indah dan damai di sana. Sayonara. :)
(Short story tell)