Aku menulis ini hanya untuk melegakan ruas-ruas di dadaku yang sesak, karena kepalaku seakan mau pecah. Hidup memang penuh akan kejutan dan lagi-lagi dia berhasil memukulku jatuh.
Mataku yang selalu tampak lelah karena bisingnya kepala selalu mengganggu sepertiga malamku. Aku juga ingin seperti mereka. Aku iri melihat segala pencapaian manusia lain, seolah semesta selalu mendukung apapun langkah dan keinginan mereka. Sedangkan aku? Aku sibuk bertahan dengan segala tuntutan dan tanggung jawab yang tidak mungkin aku tinggalkan.
Dunia ini tidak adil dan aku kelelahan. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh untuk berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.
Mudah saja mengatakan untuk jangan berekspektasi. Aku sudah tidak lagi mengatakan semua akan baik-baik saja, kekecewaan akan sebuah ekspektasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Manusia adalah sumber dari segala kekecewaan--alasanku yang paling kuat untuk menangis dan mengadu kepada Tuhan lima kali dalam sehari.
Teruntuk aku di masa depan, baca mantra ini kalo lagi sedih-sedihnya ya. Baca aja lagi, gapapa! Baca aja terus!
Apapun yang diberikan oleh semesta itu kehendak Tuhan dan bagian dari takdir kamu, jadi terima aja. Berujung baik, syukuri. Berujung luka, tetap syukuri, sebisanya aja. Berjuang sekuat-kuatnya, hasilnya serahin sama Tuhan. Jangan cape berbuat baik, karena engga tau bisa bertahan sampe kapan. Maafin semua orang, jangan terlalu mendendam. Udah, maafin aja. Fokus aja ngejar mimpi kamu, ada beberapa orang yang pengen kamu bahagiain, kan? Nangis gapapa, kamu juga manusia. Kamu lagi bertumbuh jadi manusia yang luar biasa, makanya cobaannya juga luar biasa. Jangan tinggalin shalat biar selalu bisa ngadu ke langit, jangan terlalu nunjukin sedihnya ke orang yang kamu sayang, nanti jadi beban buat mereka. Kamu itu kuat banget, walaupun sebelum tidur sering nangis. Hahaha! Selamat membaca mantra ini ribuan kali!
- Alf.










