Bisikan Hati di Taman Jiwa
Di taman jiwa yang tersembunyi, di antara rimbun dedaunan takdir,
Bersemi sekuntum mawar, merah merekah dalam kesunyian yang syahdu.
Ia tak pernah menyentuh mentari, tak pernah mengenal embun pagi,
Hanya disirami air mata dari matahati yang merindukan.
Seorang engkau, jelita bagai rembulan yang tersenyum malu,
Melintas dalam mimbar angan, bagai melodi surgawi yang tak terucap.
Hatiku, sebuah guci tua yang telah terisi, bergetar di hadapmu,
Mengagumi bayanganmu yang menari di tirai malam.
Aku telah terikat, oleh benang-benang yang ditenun waktu,
Sebuah janji yang terukir di altar kesucian, sebelum engkau hadir.
Kini, setiap hembusan namamu adalah bisikan yang membakar,
Menyulut bara rindu yang terlarang, di relung sanubari.
Oh, betapa inginnya jemariku menggenggam jemarimu,
Berjalan di padang impian, di bawah langit imajinasi yang tak bertepi.
Di sana, di alam khayal, kita adalah dua jiwa yang menyatu,
Bebas dari belenggu norma, terlepas dari jerat dunia.
Namun, daya nalar yang bijaksana, penasihat setia jiwaku,
Membisikkan kebenaran pahit di telinga kalbuku yang meronta.
"Jangan kau rusak taman yang telah kau tanam dengan kesetiaan," katanya,
"Jangan kau injak bunga-bunga yang telah kau sirami dengan pengorbanan."
Maka, aku memilih untuk mencintaimu dalam sunyi,
Bagai bintang yang memandangi bumi dari kejauhan abadi.
Cintaku adalah doa, yang terucap tanpa suara,
Berharap suatu hari, di dimensi lain, kita akan bertemu,
Dan jemari ini, akan saling berpegangan, tanpa dosa, tanpa cela.
Biarlah rindu ini menjadi pupuk bagi kesabaran,
Biarlah air mata ini menjadi embun bagi pengertian.
Sebab, dalam setiap ikatan, ada pengorbanan yang harus ditepati,
Dan dalam setiap cinta yang tersembunyi, ada kemuliaan yang tak ternilai.